Hanya Ada di Lembata – Pulau yang Penguninya Siput

Pulau Siput di Lembata. foto: bnn/sandro

Lembata/BaliNewsNetwork-Masyarakat setempat menyebutnya Pulau Awololong. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa indonesia disebut Pulau Siput. Pulau ini merupakan laguna. Proses pembentukan dari timbunan pasir.

Pulau ini hanya muncul pada saat air surut. Ketika air laut pasang, Pulau Awalolong atau Pulau Siput ini tidak kelihatan. Dari kejauhan terlihat berwarna putih di tengah birunya laut.

Dendeng siput  yang dibawah seorang peserta karnaval. bnn/sandro budaya. foto: bnn/sandrowangak

Dendeng siput dibawah seorang peserta karnaval. bnn/sandro

Letak Pulau Siput di ujung timur Pulau Lembata. Berada di wilayah Kecamatan Lewoleba. Hanya berjarak 300 meter dari pesisir Lewoleba.

Untuk mencapai tempat ini dapat menggunakan perahu motor. Ya, Anda hanya membutuhkan waktu lima menit saja. Sampai deh. Ongkos perahu pun murah meriah. Anda hanya mengeluarkan isi kocek sebesar Rp. 5.000 sekali jalan.

Biaya ini sangat murah bila kita bandigkan dengan pesona alam yang kita dapat di Pulau Siput. Pulau ini  memiliki hamparan pasir putih. Luasnya dua kali lapangan sepak bola. Hamparan pasir putih ini bertaburan aneka jenis siput. Karenanya pulau ini diberi nama Pulau Siput.

Karena terbentuk dari endapan pasir, maka pulau ini tidak dapat digunakan sebagai kawasan hunian. Sehingga pulau ini menjadi menjadi tempat untuk  menyaksikan panorama kota Lewoleba yang dibingkai oleh jejeran perahu nelayan, pohon nyiur melambai dan deretan rumah panggung yang bertengger di permukaan laut.

Panorama berikutnya adalah menyaksikan keindahan sunset, matahari yang hendak terbenam . Keindahan itu demikiaan nyata di depan mata. Sebab tak ada yang menghalangi pandangan saat menyaksikan detik-detik terakhir sang surya kembali ke peraduan.  Begitu leluasanya  kita menikmati semua itu, karena letak Pulau Siput berada di tengah laut tanpa pepohonan atau tanaman lain yang tumbuh di tempat itu.

Dendeng siput dijunjung seorang peserta karn

Dendeng siput itu

Pulau Siput merupakan pulau yang unik karena baru muncul saat air laut surut dan akan hilang saat pasang naik. Dalam kondisi alam seperti ini Pulau Siput hingga saat ini belum menjadi pilihan warga untuk berliburan berlama-lama. Karena  warga dihantui oleh rasa was-was bila sewaktu-waktu air laut naik dan menggelamkan pulau itu. Memang untuk hal yang fatal belum terjadi di pulau ini. Karena itu  pulau ini bisa menjadi salah satu destinasi wisata apabila sudah diketahui waktu pasang naik dan pasang surut air laut.

“Saya awalnya takut menuju pulau di  tengah laut ini. Tapi ketika saya menginjakkan kaki di tempat ini, saya sungguh terpesona oleh permandangan alam yang diamati dari pulau ini,” ungkap Nur Nacita, salah seorang tamu Harnus yang pernah menginjakkan kakinnya di pulau tersebut.

Pulau Siput pantas untuk lokasi tujuan wisata khususnya menikmati sunset sambil memilih siput yang berteberan di atas pasir pulau itu untuk santapan malam misalnya.

Emil Diaz, salah seorang seniman tersohor di Lembata dan Flores Timur memiliki inspirasi membangun patung besar di Pulau Siput dan berharap pemerintah membangun jembatan dari Lewoleba ke pulau itu.

Menurut dia, Lewoleba seyogianya ditata untuk kebutuhan masa mendatang. Itu berarti penataan tersebut harus dilakukan dari sekarang. Sebagai seniman, lanjut dia, pihaknya ingin membuat karya monumental untuk Lewoleba. Karya dmonumental yang menjadi obsesinya adalah membangun patung besar di Pulau Siput.

Nah kegiatan perayaan Harnus menjadi bagian terpenting dalam mempromoikan Pulau Siput sebagai sebuah destinasi Lembata. Sebab, saat puncak perayaan Harnus, 13 Desember 2016, sebanyak 12 Kapal Perang termasuk KRI Dewa Ruci, bersama 175 kapal nelayan akan melakukan parade Sailing Pass mengitari pulau Siput. Hebatnya,  Pulau Siput, hanya ada di Lembata. (sandrowangak)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment