Suasana temaran cafe “Ini Bukan Cafe” di Taman Kota Larantuka. bnn/maksimasankian.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Lampu lampion itu bersinar temaram. Ditemani alunan musik terdengar syadu dan kadang nakal gelitik gelisah, beberapa orang muda Flores Timur sedang lesehan di ruangan terbuka di pinggir pantai Taman Kota Larantuka.

Katanya Mereka sungguh gelisah. Kegelisahaan akan kondisi ini menyatukan mereka menjadi satu kekuatan ide dalam diskusi malam itu. Lesehan tempat mereka berdiskusi Jumat,  14 Oktober 2016 (malam) merupakan hasil dari kegelisahaan beberapa orang muda Flotim, dari Kampung Baru alias Eka Sapta.

Huzaiffah Syarifudin yang kerap dipanggil Jeffa ini gelisah akan kondisi sosial anak muda di Kampung Baru. Kampung Baru sebagai sebuah kampung multietnis membawa pengaruh pada kehidupan anak muda yang boleh dibilang sudah membudaya.

Budaya anak muda Kampung Baru adalah lebih suka menjadi peminum jalanan. Akibat dari budaya ini adalah kriminalitas. Bukan rahasia lagi bahwa sering terjadi perkelahian antara anak muda Kampung Baru dan anak muda Pohon Bao, juga antara Anak muda Kampung Baru vs Lewerang.

ini-bukan-cafe-larantuka-1

“Karena terlalu sering terjadi perkelahian maka Kampung Baru diistilahkan menjadi kampung garis merah. Inilah yang membuat saya sungguh gelisah. Kegelisahaan saya ini lalu saya berdiskusi bersama Ipul Bethan dan Iwan untuk membuat cafe,” ungkap Jeffa.

Awalnya, kisah Jeffa, mereka menggunakan emperan salah satu kios di Pasar Inpres Larantuka. “Bermodal” kegelisahaan lalu membuka cafe. Cafe, awalnya disangka menyiapkan minuman beralkohol dan wanita. Konsep cafe yang dimiliki Jeffa dan Ipul adalah “Ngopi Yes, Alkohol No”.

Artinya, cafe ini bercirikhas ngopi segelas dan menyanyilah sepuas anda. Live musik disiapkan. Bukan hanya itu, makanan lokal pisang rasa coklat keju dan kentang ubi disuguhkan untuk memanjakan rasa pengunjung.

Dari ciri khas konsep ini, muncullah pilihan nama “Ini Bukan Cafe” dengan branding emoji secangkir kopi.

Kisah inspiratif dari kehadiran “Ini Bukan Cafe” mengubah perilaku anak muda Kampung Baru dari peminum jalanan menjadi ngopi bareng di cafe. Imbas lain, oleh karena ide menghadirkan cafe ini berasal dari para “mantan peminum jalanan”, maka nasib para jalanan pun diindahkan. Ada dua orang peminum jalanan menjadi pekerja di cafe ini dengan upah sebesar Rp 600.000 per bulan.

Tidak hanya itu, sebelas anak jalanan menjadi bagian dari keberlangsungan “Ini Bukan Cafe” dengan upah melalui sistem bagi hasil.

Sungguh, “Ini Bukan Cafe”, melainkan hasil kreativitas cerdas para peminum jalanan yang merasa gelisah dengan budaya peminum jalanan di Kampung Baru khususnya dan Flotim umumnya.  (sandro/maksimasankian)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment