Ciptakan Sistem Pertanian Hidroponik Berbasis Web – Agus Hermawan Sabet Skripsi dan Wisudawan Tebaik 

Agus Hermawan dengan dua piagam penghargaan di tangan. bnn/rahman

Nusa Dua –Wisuda XVIII STIKOM Bali  di Bali Nusa Dua Convention Center, Rabu (21/09/2016) menjadi  istimewa bagi Agus Hermawan. Betapa tidak, pria kelahiran Mojokerto ini menyabet dua penghargaan sekaligus, sebagai wisudawan dengan skripsi terbaik dan sebagai wisudawan terbaik.

“Tentu saya bangga, dan juga membanggakan keluarga, karena karya saya ini membuat saya dikenal banyak orang,” kata Agus seusai wisuda.

Agus Hermawan membuat karya ilmiah (skripsi) berjudul  “Penerapan Teknologi Web Untuk Sistem Pertanian Hidroponic NFT Menggunakan Mikrokontroler dan Mikrokomputer”.

STIKOM Bali Wisuda 284 Orang

Skripsi ini menjadi menarik karena mengolaborasikan teknologi informasi dengan sistem pertanian hidroponik. Dengan demikian, ke depannya, seorang petani tidak perlu lagi tiap pagi dan sore disibukkan dengan urusan menyiram atau member pupuk kepada tanamannya melainkan cukup memonitor dari web.

“Kalau informasi dari web menunjukkan tanaman perlu diberi air barulah

petani mulai melakukan penyiraman. Begitu juga kalau informasi menunjukkan tanaman perlu diberi pemupukan, barulah dikasih pupuk,” kata Agus Hermawan.

Agus Hermawan dan kedua orangtuanya menuju panggung guna menerima penghargaan

Agus Hermawan dan kedua orangtuanya menuju panggung guna menerima penghargaan

Di laboratorium robotic STIKOM Bali, Agus melakukan percobaan menanam beberapa jenis sayuran, yakni selada, sawi, bayam dan kangkung dengan media robot hidroponik. Hasilnya, piranti cerdas ini bisa menggantikan fungsi seorang petani.

Agus mengaku skripsinya ini terinspirasi dari salah seorang dosen IT Entrepreneurship -mata kuliah wajib di STIKOM Bali- yang selalu memotivasi para mahasiswa untuk menghasilkan karya yang bisa memberi solusi bagi masyarakat.

“Dari situlah saya mencoba mengolaborasikan IT dengan sistem pertanian hidroponik yang sedang ngetrend saat ini. Awalanya sih ada keraguan, apakah saya bisa selesaikan skripsi ini. Tapi atas dukungan kuat dari kedua dosen pembimbing, akhirnya saya bisa,” kata Agus.

Cara kerja alat ciptaan Agus  itu adalah memanfaatkan panel surya sebagai sumberdaya dilengkapi beberapa sensor guna memonitor “kebutuhan hidup” tanaman hidroponik melalui web.

“Alat ini tidak memakai listrik, jadi daya dari matahari kita simpan dalam aki, di dalamnya ada pompa untuk mengatur sirkulasi air, kemudian di sekitar pipa kita pasang beberapa sensor seperti sensor suhu tanaman, ada sensor nutrisi, sensor ketinggian air dan sensor PH air,” terangnya.

Agus Hermawan dengan alat ciptaannya

Agus Hermawan dengan alat ciptaannya

Disebutkan, alat seharga hampir Rp 4 juta itu terkoneksi dengan web sehingga kalau ada penurunnan suhu tanaman atau PH air misalnya, akan ada noifikasi.

“Jadi dari web itu kita bisa mengontrol jarak jauh suhunya, nutrisinya, ph-nya dan ketinggian air. Nah kalau teknologi ini dikembangkan berbasis android, maka ke depan siapun, kapanpun, dan di manapun,  bisa menjadi petani,” kata Agus Hermawan.

Yang lebih membanggakan Agus Hermawan karena piranti cerdas ciptaannya itu oleh adik tingkatnya diminta diikutkan dalam ajang Pagelaran Nasional Mahassiwa Teknologi informasi dan Komunikasi (Gemastik 9) yang diadakan oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Kementerian

Ristek di  Kampus UI Depok, Jakarta dan berhasil masuk 10 besar finalis, dari ribuan proposal yang datang dari seluruh Indonesia. Finalis Gemstik 9 diadakan 27-28 Oktober 2016. (rsn)

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment