Tak Bisa Berbahasa Indonesia, Dua Pria Ini Terpaksa Mengaku Jadi Pelaku Pembunuhan

Daniel Ludji, salah satu terdakwa saat ditemui di ruangan tahanan PN Kupang, Kamis (4/8/2016) Foto : Amar Ola Keda)

Kupang/BaliNewsNetwork-Dua pria asal Kelurahan Ledeunu, Kecamatan Raijua, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur (NTT), Daniel Ludji alias Ama Beni (50) dan Migu Niku alias Ama Hari (60) terpaksa mengaku sebagai pelaku percobaan pembunuhan terhadap korban  Kore Nguru karena tak bisa berbahasa Indonesia. Pengakuan itu saat keduanya diperiksa anggota polisi di Sabu Raijua.

Daniel, saat di temui di ruangan tahanan Pengadilan Negeri Kupang Klas IA Kupang, Kamis (4/8/2016) menuturkan, kasus penikaman itu terjadi pada malam pergantian tahun 1/1/2016 lalu, sekira pukul 8.30 wita. Saat itu, dirinya hendak ke kebun memetik pinang. Saat itu dirinya melihat ada perkelahian antara korban dengan pelaku. Dirinya pun ikut melerai bersama terdakwa, Migu Niku. Karena korban terluka, warga sekitar langsung melarikan korban ke puskesmas, dan dirinya menuju kebun.

Namun, dia mengaku kaget saat polisi datang menjemputnya di rumah dan mengatakan dirinya sebagai pelaku penikaman.

“Saat dijemput polisi jam 10.00 malam, saat itu saya sedang minum sopi (arak,red) di rumah. Saat itu saya mau ke kebun makanya saya pegang pisau karena mau petik pinang. Karena saya pegang pisau dan ada bau minuman makanya saya dituduh menikam korban. Saya tidak tikam korban, saya hanya melerai,” tuturnya dengan bahasa daerah Sabu.

Ditanya kenapa mengaku jika tak melakukannya, Daniel mengatakan, tidak bisa mengerti pertanyaan polisi karena tak bisa bahasa Indonesia.

“Saya dibilang sebagai pelaku atas laporan seorang warga karena saat melerai dia melihat saya memegang pisau, padahal pisau itu saya pakai untuk petik pinang di kebun. Karena tak bisa berbahasa Indonesia saya terpaksa mengaku,” katanya.

Sementara Migu Niku alisa Ama Hari juga membantah melakukan penikaman. Menurutnya, dia terpakasa mengaku karena tidak mengerti bahasa Indonesia. Dia menuturkan, awal kejadian korban yang saat itu dalam kondisi mabuk berat mendatangi rumahnya dan merusaki tempat jualannya. Mengetahui korban mabuk, dirinya menyuruh korban pulang, namun tegurannya tak dihiraukan bahkan korban bertambah beringas.

Saat itulah, belasan pemuda yang berada tak jauh dari lokasi kejadian datang dan memukul korban. Melihat hal itu, dirinya mencoba meleraikan. Saat itu dia melihat korban terjatuh memegang pinggangnya karena terkena pisau.

“Saya tidak tikam korban. Saya hanya melerai, saya juga tidak melihat siapa yang tikam karena mereka banyak orang,” ungkapnya menggunakan bahasa daerah Sabu.

Pantauan wartawan, dalam  sidang yang berlangsung di Pengadilan Negeri Klas IA Kupang, Kamis (4/8/2016), majelis hakim meminta Jaksa Penuntut Umum (JPU) menghadirkan penerjemah bahasa bagi kedua terdakwa. Terdakwa didampingi penasehat hukum, Fransisco Besi. (Amar Ola Keda)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment