Deddy dan Miracle Ditahan, Tersangka Proyek Perumahan Translok 2011 dan Proyek Pupuk Subsidi 2012

Tersangka Deddy ibrahim Krismono dan Miracle Anugrah Riwu saat sedang diperiksa penyidik Kejari Rote Ndao di kantor Kejari Kupang, Selasa (12/7/2016). Foto: Balinewsnetwork/amar ola keda

Kupang/Bali Newsnetwork-Selasa (12/07/2016) sekira pukul 17.50, penyidik tindak pidana khusus (Tipidsus Kejari) Kejaksaan Negeri Rote Ndao (Ronda), Nusa Tenggara Timur (NTT) menahan Deddy Ibrahim Krismono (36), selaku Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek pembangunan rumah Translok dan Miracle Anugrah Riwu selaku mantan Direktur Perusahaan Daerah (PD) Ita Esa, tahun anggaran 2011- 2015.

Tersangka Deddy Ibrahim Krismono ditahan karena tersandung kasus dugaan tindak pidana korupsi perumahan transmigrasi lokal (Translok) tahun 2011 di Istua, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao dengan pagu anggaran senilai Rp 3.8 miliar lebih yang bersumber dari APBN Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Sementara tersangka Miracle Anugrah Riwu ditahan karena tersandung kasus proyek pupuk bersubsidi di Kabupaten Rote Ndao senilai Rp 1.3 miliar tahun anggaran 2011- 2015 dan penyalahgunaan dana penyertaan modal pada PD Ita Esa tahun 2012 senilai Rp 500 juta.

Untuk proyek perumahan transmigrasi lokal (Translok) tahun 2011 di Istua, Kecamatan Lobalain, Kabupaten Rote Ndao, penyidik Tipidsus Kejari Rote Ndao menemukan adanya kerugian keuangan negara sekira Rp 338. 206.114. Sementara untuk proyek penyalahgunaan dana subsidi pupuk tahun 2011- 2012 serta penyalahgunaan dana penyertaan modal pada PD Ita Esa tahun 2012 penyidik Tipidsus Kejari Rote Ndao menemukan adanya kerugian keuangan sekira Rp 800 juta.

Kasi Pidsus Kejari Rote Ndao, Yanuar Dwi Nugroho kepada wartawan, Selasa (12/07/2016) di kantor Kejari Kota Kupang mengaku, sebelum menahan Deddy Ibrahim Krismono selaku PPK dan Miracle Anugrah Riwu selaku mantan Direktur PD Ita Esa, pihaknya terlebih dahulu memeriksa keduanya dengan status sebagai tersangka.

Pemeriksaan bagi kedua tersangka itu dilakukan sejak pukul 09.30 hingga akhirnya digiring ke Rutan Klas IIB Kupang untuk ditahan.

“Saya (Yanuar Dwi Nugroho-red) bersama Kasi Datun, Franky M. Radja dan seorang jaksa fungsional Alexander Sele memeriksa tersangka Deddy Ibrahim Krismono selaku PPK proyek pembangunan rumah Translok di Kabupaten Rote Ndao dan Miracle Anugrah Riwu selaku mantan Direktur PD Ita Esa Kabupaten Rote Ndao sejak pukul 09.30 hingga sekarang (kemarin malam-red),” jelas Yanuar.

Tersangka Deddy Ibrahim Krismono, lanjut dia, berstatus sebagai PNS pada Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kabupaten Rote Ndao dan saat proyek tersebut dikerjakan, tersangka menjabat sebagai PPK. Sementara tersangka Miracle Anugrah Riwu berstatus sebagai mantan Direktur PD Ita Esa Kabupaten Rote Ndao.

“Selama proses penyelidikan hingga penyidikan, kita menemukan adanya perbuatan melawan hukum yang dilakukan oleh kedua tersangka karena kedua tersangka dalam melakukan tugasnya sebagai PPK dan selaku Direktur PD Ita Esa telah melanggar hukum,” sebut Yanuar.

Untuk diketahui, dana sebesar Rp 3.8 miliar untuk pembangunan rumah Translok dipergunakan untuk pembangunan 100 unit rumah, satu unit rumah ibadah, jalan, sumur dan gorong- gorong. Namun, lanjut Kasi Pidsus Kejari Rote Ndao itu, dalam pelaksanaan proyek perumahan Translok itu, PT Glindingmas Wahana Nusa selaku rekanan tidak mengerjakan proyek tersebut sesuai kontrak.

Sementara dana untuk pengadaan pupuk subsidi dan penyertaan modal yang dihibahkan Pemkab Rote Ndao ke PD Ita Esa dikelola oleh Miracle Anugrah Riwu tidak sesuai dengan rencana kerja. Dirinya mengaku pihaknya akan segera merampungkan berkas kedua tersangka untuk dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Kupang.

Tersangka Deddy Ibrahim Krismono dan Miracle Anugrah Riwu ketika diperiksa kemarin didampingi penasihat hukumnya George Nakmofa. Kepada Timor Express, George Nakmofa mengaku dirinya berharap agar berkas kedua kliennya itu segera dilimpahkan ke Pengadilan Tipikor Kupang untuk disidangkan.

“Saya sangat berharap agar penyidik Kejari Rote Ndao segera melimpahkan berkas kedua klien saya ke Pengadilan Tipikor Kupang. Dengan demikian maka sidang bisa segera diglear dan kedua klien saya mendapatkan kepastian hukum,” sebut George. (amar ola keda)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment