IRT Di Desa Nobo, Akui Ada Untung  Di Onggokan Batu Pecah

Anastasia Keban Soge (66),warga RT 001, RW 001 Desa Nobo, Kecamatan Ilebura,Kabupaten Flores Timur,sedang menekuni aktivitaas memecahkan batu.Foto : BNN/ Emnir.

Ilebura/BaliNewsNetwork.com- Warga di Desa Nobo, Kecamatan Ilebura,Kabupaten Flores Timur,NTT  telah menjadikan batu berdiameter 20-40 cm hasil galian pasir darat di wilayah Nurabelen-Nobo  sebagai sumber penghasilan mereka.

Walau  harus membeli kemudian memecahkannya, namun hasil pecahan batu-batu yang terpecahkan mereka di setiap harinya itu, dapat mencukupi kebutuhan hidup keluarga mereka.

“Aktivitas kami memecahkan  batu-batu dengan ukuran yang seperti ini,sudah lama. Ya, sejak proyek jalan masuk di wilayah ini dan sejak pasir darat di wilayah Nurabelen-Nobo ini menjadi serbuan pembeli. Batu-batu ini kami beli dari mereka yang biasa muat pasir itu. Satu oto pickup harganya Rp.100.000. Nah ketika terpecahkan dengan ukuran seperti ini, kami menjualnya per-reit Rp 1.200,.000. Memang laris, dan itu yang membuat kami bersemangat menekuni aktivitas ini.”ujar  Anastasia Keban Soge (66) warga RT 001, RW 001, Dusun A, Desa Nobo-Ilebura tatkala dikonfirmasi BaliNewsNetwork.com, Rabu (26/8) sambil mengayumkan alat pemecah batunya.

Istri dari Yakbus weran Kwure (68)  tersebut mengakui, aktivitas tersebut dominan digandrungi barisan Ibu Rumah Tangga. Kadang, mereka dibantu pula oleh suami  dan anak-anak (bagi yang ada anak) di waktu luang mereka.

“Untuk mendapatkan satu reit pecahan batu berukuran seperti ini ini,biasanya batu yang kami beli itu,ada 4 pickup.Pembelian batu pecah ini pun lancar. Nah, ketika sudah  terbeli, kami beli lagi batu-batu itu, dan berproses sebagaimana yang kami kerjakan ini. Walau menguras waktu dan tenaga, namun kami dengan semangat mengerjakannya. Lumayan,ada untungnya. Kami keluarkan Rp 400.000,namun kami masih untung Rp. 800.000.” kisah ibu yang biasa tersapa Tasie itu.

Hal senada pun diungkapkan Magdalena Oa Soge dan Rosni Labina. Kebutuhan hidup mereka disetiap hari,tercukupkan oleh pekerjaan memecah batu-batu tersebut.

“Walau untuk mendapatkan satu reit batu pecah ini, kami harus bergulat selama seminggu bahkan lebih dari itu, namun, kebutuhan hidup kami tercukupi dari hasil penjualan batu pecah ini. Apalagi disaat sulit seperti pada masa pandemi Covid-19 ini.” timpal Magdalena Soge yang diamini Rosni Labina.*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment