Mardika Tambah Deretan Doktor di Unwar

Dr. Drs. Nyoman Mardika, M.Si.

DENPASAR/BaliNewsNetwork.com-

I Nyoman Mardika akhirnya tiba di puncak pendakian sebagai akademisi setelah resmi menyandang gelar akademik tertinggi; Doktor usai Ujian Terbuka Promosi Doktor pada Program Studi Kajian Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Udayana (Unud), Rabu (28/7).

Dalam ujian yang berlangsung dalam jaringan itu, Dr. Drs. Nyoman Mardika, M.Si., sukses mempertahankan disertasi berjudul “Perlawanan Warga Terhadap Kebijakan Kelian Adat Desa Adat Perasi, Desa Pertima, Karangasem”. Mardika yang dihubungi usai ujian mengaku kunci sukses melewati detik-detik krusial dalam karirnya itu yakni ketenangan dan penguasaan materi.

Pasalnya, menurut dia, Dewan Penguji Disertasinya adalah akademisi senior yang berpengalaman di bidangnya, seperti Prof. Dr. Phil. I Ketut Ardhana, M.A., selaku ketua dan enam orang anggota, Prof. Dr. I Wayan Windia, S.H., M.Si., Dr. I Wayan Suwena, M.Hum., Dr. I Nyoman Sukiada, M.Hum., Prof. Dr. A.A. Bagus Wirawan, S.U., Prof. Dr. I Putu Gede Suwitha, S.U., Dr. Dra. Ni Luh Arjani, M.Hum., serta Dr. I Nyoman Wardi, M.Si.

Terkait latar belakang penelitiannya, desa adat, sebagai sebuah lembaga atau institusi yang disegani saat ini sering menjadi tempat atau arena konflik untuk memperjuangkan berbagai kepentingan sehingga tidak ada lagi kehidupan yang tenang dan damai.

Proses perubahan dan munculnya konflik dalam pengembangan desa adat di Bali sering terjadi di wilayah Desa Adat Perasi. Di bidang mata pencaharian, warga Desa Adat Perasi yang aslinya hidup dari pertanian dan nelayan sekarang telah berubah karena pergeseran mata pencaharian kehidupan.

Warga Desa Adat Perasi tidak lagi bergantung pada pertanian dan nelayan, tetapi lebih mengarah pada layanan khususnya industri pariwisata. Pergeseran ini pasti telah menyebabkan perubahan dalam pandangan kehidupan orang-orang dari penekanan asli pada kebersamaan karena kolektivitas warga berubah menjadi komersialisme (materialisme) yang mengarah pada individualitas.

Ada tiga hal yang menjadi masalah yang dibahas dalam penelitian ini yakni, pertama, bentuk gerakan masyarakat atau warga Desa Adat Perasi dalam melakukan perlawanan, kedua, ideologi yang mendorong, ketiga implikasi dan makna terkait perlawanan warga terhadap kebijakan Kelian Desa Adat Perasi.

“Penelitian ini mengkaji, memahami, dan mendeskripsikan fenomena perlawanan 42 KK warga Desa Adat Perasi terhadap kebijakan Kelian Adat Desa Adat Perasi dan implikasinya. Tujuannya, untuk mengumpulkan dan menganalisis data yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan pariwisata di Desa Adat Perasi yang berkaitan dengan kebijakan pembangunan pariwisata di Bali, latar belakang sosio ekonomi masyarakat Desa Adat Perasi sebagai subjek penelitian yang dipengaruhi oleh kebijakan tersebut,” jelasnya.

Ia berharap disertasinya ini memberikan kontribusi bagi khazanah penelitian dan keilmuan pariwisata budaya dan kajian budaya pada umumnya, memberi manfaat bagi kebijakan secara politis bagi penguasa serta masyarakat sebagai bahan pertimbangan untuk membangun kesadaran nasional dan kesiapan mental sosio kultural menghadapi dan mengantisipasi realitas faktual kemanusiaan dan peradaban global pada masa depan yang dekat ini.

Terakhir, manfaat bagi kebudayaan. Hasil penelitian diharapkan dapat mengubah kepedulian terhadap nilai budaya yang menjadi dasar identitas etnik dan bangsa. Kepedulian yang dimaksudkan supaya menumbuhkan kesadaran memotivasi perjuangan untuk memperoleh kemajuan adab dan budaya. Selain itu, juga sekaligus sebagai sarana kontrol sejauh mana kemajuan itu mesti diperjuangkan. Hal ini diperlukan demi kesetaraan peradaban dan tatanan global tanpa harus kehilangan jati diri dari akar tradisi.

Sebelum terjun di dunia akademisi, Made Mardika mengawali karirnya sebagai jurnalis di salah satu media terbesar di Bali. Kondisi perekonomian serba pas-pasan memaksa Mardika muda menunda keinginan melanjutkan pendidikan sarjana. Ia memilih bekerja sebagai jurnalis setelah menuntaskan pendidikan SMA tahun 1984.

Selama empat tahun menabung, akhirnya Mardika melanjutkan pendidikan Sarjana Prodi Sejarah, Fakultas Sastra Unud. Ia tak menanggalkan profesi jurnalis. Malah ia semakin konsen meliput problematika di desa-desa adat se-Bali. Barulah di tahun 1994, takdir membawanya menjadi dosen. Mardika dinyatakan lolos seleksi dosen di LLDikti VIII (sebelumnya Kopertis Wilayah VIII) dan ditugaskan di Universitas Warmadewa (Unwar) hingga sekarang.

Rektor Unwar Prof. dr. Dewa Putu Widjana, DAP&E., Sp.ParK., berharap, seluruh dosen Unwar segera menempuh pendidikan doktoral. Dan yang sudah doktor wajib berjuang menggapai jabatan guru besar atau profesor. bq

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment