Sembuh Dan Kantongi Surat Bebas Ismoma, Warga Solor Ini Masih Dipreteli Stigma Covid

IYUW sekeluraga didampingi Tim Medis Satgas Penanggulangan Covid-19 Kecamatan Solor Selatan (Puskesmas Kalike ) saat menerima Surat Keterangan Bebas Isolasi Mandiri, di kediaman mereka, Desa Lemanu-Solor Selatan- Flores Timur. Sabtu (3/7). Foto : BNN/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork.com- Menyelesaikan tahapan  Isolasi Mandiri (Isoma) dengan sempurna, hingga mengantongi Surat Keterangan Bebas Isolasi Mandiri  yang ditanda tangani oleh Kepala Puskesmas  dan  Dokter pada Puskesmas Kalike, Kecamatan Solor Selatan, Kabupaten Flores Timur-NTT, pada 3 Juli 2021 lalu, tidak membuat IYUW (37)  dan keluarganya yang tercatat sebagai warga Desa Lemanu itu, menikmati  masa pembebasan tersebut.

Stigma sebagai pasien Corona Virus Disease terus ter-cap-kan oleh warga di kampung halamannya,Solor Barat.

Label  sebagai  pribadi yang pernah dihinggapi Covid-19 itu pun mempreteli kebebasan IYUW sekelurga untuk menikmati masa liburan  mereka di kampung halaman mereka.

Kabar tentang  rencana kedatangan eks pasien Reaktif Rapid Antigen dari Desa Lemanu  pada Minggu (4/7) kemarin, sontak menimbulkan kecemasan dan kegalauan barisan aparatur desa bersama warga di desa kelahiran IYUW itu .

Tak tanggung-tanggung, informasi tentang kedatangan ayah dari FLSW dan CKGW itu pun sempat terbahaskan dalam forum rapat desa yang kebetulan tergelar Pemdes setempat pada Minggu sore tersebut.

Kecemasn-kecemasan  yang terungkap dalam pertemuan tersebut pun tersampaikan Kades secara terbuka kepada IYUW, tatkala  IYUW tiba dikampung halmannya dan menemui dirinya. Walau menerima IYUW, namun Kades mengarahkannya  untuk tidak membaur bersama sanak keluarganya.

IYUW diarahkannya untuk tidur seorang diri di rumah mereka. Arahan Kades tersebut, bagi IYUW merupakan perintah isoma yang otomatis disaat itu, mengalirkan perasaan malu dan rasa mindernya. Akal sehatnya langsung tertutup oleh luapan rasa malu dan minder.

Terbebani dengan situasi penerimaan tersebut, IYUW pun langsung tancap gas kembali ke tempat domisilinya di Desa Lemanu pada malam itu juga (pukul 23.00 wita).

Mengenang  semua kisah koordinasi  yang dibangunnya sepanjang perjalanan dari Lemanu menuju kampung halamannya, dan kisah dirinya terpaksa harus menepi ke Dusun Lewolein Desa Lamaole, dan berbalik lagi ke Ritaebang untuk menemui unsur-unsur Satgas Penanggulangan Covid-19 Kecamatan Solor Barat demi menanti kata putus akhir pertemuan yang sedang di gelar di desanya itu. sontak menderaskan aliran air matanya.

“Stigma itu sungguh keji ! Sangat Kejam ! Di Lemanu, warga sangat menerima kami pasca sembuh, toh di kampung asal saya, saya mendapat hujaman stigma itu. Kejam sangat!” ujarnya sembari menyeka air matanya.

Kepala Puskesmas Kalike, Petronela Fernandes, Amd.Keb,yang dikonfirmasi  secara terpisah, terkait kenyataan yang dialami IYUW tersebut, Selasa (5/7), menyesali sikap mencurigai yang menyatu dengan kecemasan-kecemasan yang tidak mendasar itu.

“Seharunya tidak boleh terjadi. Yang bersangkutan bersama seisi rumah mereka memang benar-benar telah menyelesaikan masa Isoma mereka, dan benar-benar telah sembuh dberdasarkan hasil pemantauan Tim Medis Puskesmas Kalike. Terhadap kenyataan itu, kami lalu buatkan Surat Keterangan Bebas Isoma sebagaimana peraturannya, dengan menerangkan mereka kembali beraktivitas sebagaimana mestinya dengan tetap mematuhi prokes ! Ini peraturan, ehingga bila ada pihak-pihak yang tidak mengerti atau belum mengerti atau belum mengetahui tentang aturan ini, seharusnya membangun koordinasi dengan kami, ataupun dengan pihak-pihak yang sungguh mengetahui tentang aturan itu. Jangan lalu memberikan stigma kepada mereka yang telah sembuh. Apalagi,IYUW dalam perjalanannya menuju kampung halamannya selalu membangun koordinasi dengan  kami, bahkan berkoordinasi dengan Satgas Kecamatan Solor Barat.Apa yang salah ? “ sergah Rita Fernandes penuh kesal ! *(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment