Ruangan  Isolasi Covid RSUD Larantuka Bak Neraka Bagi Pasien

Ruangan Isolasi Tempat Perawatan Pasien Covid pada RSUD Hendrikus Fernandez Larantuka,Flores Timur-NTT. Foto : BNN/Emnir/Doc.

Larantuka/BaliNewsNetwork.com-Lagi-lagi,aspek pelayanan RSUD Hendrikus Fernandez,Larantuka,Kabupaten Flores Timur,lantang terkeluhkan warga kepada Pemerintah Kabupaten Flores Timur ! Walau menerima pasien di rawat di ruangan Isolasi Covid  akibat Reaktif Rapid Antigen , warga Desa Kawela sebagaimana yang tersaksikan insan media  dalam forum pertemuan  yang dipimpin oleh Sekertaris Daerah Kabupaten Flores Timur,Paulus Igo Geroda  bertempat di aula setda,Rabu (24/3) membeberkan buruknya pelayanan di ruangan tersebut.

Adalah Maksi Tukan,Ina Kedang dan Petrus Nama Kedang ,warga Desa Kawela,Kecamatan Wotan Ulumado di pertemuan yang dihadiri juga oleh Kadis Kesehatan,dokter Ogie Silimalar,Kalak BPBD ,Alfonsius Betan,pihak Manajemen RSUD Larantuka bersama Tim Medis pada ruangan Isolasi Covid RSUD Larantuka dan Tim Medis dari PKM Baniona tersebut, tanpa tendeng aling-aling melukiskan betapa mereka menikmati buruknya kualitas pelayanan tim medis pada ruangan Isolasi Covid RSUD Larantuka tatkala salah satu anggota keluarga mereka dirawat di sana belum lama ini.

“Kami tidak mempersoalkan status mama (almarhum) kami yang reaktif rapid atingen berdasarkan hasil pemeriksaan pihak Puskesmaas Baniona ketika mama hendak dirujuk ke RSUD Larantuka.Kami menerimanya itu,ketika mama ditempatkan diruangan isolasi Covid ketika masuk  di RSUD.Yang kami sesalakan adalah proses pelayanan itu.Dan akibat buruknya pelayanan di ruangan itu,sehingga bagi kami keluarga,melihat seolah-olah ruangan isolasi covid itu adalah tempat neraka bagi pasien yang masuk ke situ !

Di hari pertama mama masuk,karena mama terlalu bergerak mengakibatkan infus ditangan mama terlepas.Hal itu terjadi sekitar pukul 4 sore.Kami menyampaikan kondisi itu kepada petugas,namun hingga jam 11 malam,baru infus itu dipasang.Kami orang awam, tidak mengerti cara penanganannya bagaimana.Sehingga bagi kami,lamanya pemasangan infus itu sebagai sebuah kelalaian besar.”beber Maksi Tukan sembari meminta Sekda Paulus Igo untuk bisa mendengarkan keterangan dari  Atus Kedang,salah satu anak kandung pasien Sebastiana Sedo,yang dilarang masuk dalam tempat pertemuan itu lantaran reaktif rapid antigen.

Senada Maksi Tukan, Ina Kedang  bahkan secara terperinci meriwayatkan kenyataan-keyataan pahit yang dialaminya ketika koordinasi dengan juru rawat di ruangan tersebut hingga ibu kandungnya itu menghembuskan napas terakhirnya sampai pada pengantaran jenasah ibundanya itu.

“Mama kami dirujuk dari Puskesmas Baniona karena luka pada kakinya.Kami menghormati hasil rapid antigen  itu dan iklas mama menjalani perawatan di ruangan isolasi.Permisi,luka mama hanya ditutup dengan ferban ketika berangkat dari puskesmas.Ketika sampai di ruangan isolasi,saya minta petugas untuk membersihkan luka mama itu.Permisi,akibat kontaminasi gula darah yang cukup tinggi,luka mama membusuk sampai cairan merembes pada tempat tidurnya.Bauk sekali.Ada petugas bahkan datang melihat dan mengatakan ‘ihhh bau sekali,saya tidak bisa !’, lantas pergi. Beberapa kali saya meminta petugas untuk tolong bersihkan luka mama saya ini dan ganti ferbannya.Namun  itu tidak dilakukan,bahkan mengarahkan kami sendiri yang membersihkan.Petugas memberikan kami sarung tangan,dan saya bersama bapak saya kemudian membersihkannya.Bapak saya karena merasa sangat mencintai mama kami yang adalah istrinya rela membersihkan luka pada kaki mama.”ujarnya terbata-bata,mengenang  semua kisah buruk yang dialami mereka pada perawatan ibunda mereka di ruangan perawatan isolasi covid itu.

Kisah buruknya pelayanan itu berlanjut di saat ibundanya mengalami lemah pasca tersuntik insulin pada infusnya. Ketika Ina Kedang menyampaikan hal itu kepada petugas,petugas itu malah balik mengarahkan dia sendiri melepaskan salah satu selang.Dirinya tak berani melakukan hal itu dan kembali meminta petugas untuk melihat kondisi mamanya yang semakin lemah.

Kisah selanjutnya berurusan dengan Swab.Hasil swab pertama,pasien Sebastina Sedo itu diterangkan Negatif Swab.Koordinasi dan konsultasi  dengan dokter umum disaat jam besuk pun senantiasa dilakukannya.Bahkan dirinya sempat memprotes ketika swab kedua dilakukan disaat mamanya semakin melemah.Hasil swab kedua tersebut,keluar setelah ibunda Ina kedang tersebut menghembuskan napas terakhirnya.dan diterangkan terkonfirmasi Positif.

“Anehnya,petugas membiarkan begitu saja kami memeluk  meratapi mama,bahkan memandikan mama.Termasuk pula disaat pengantaran jenasah mama hingga disemayamkan semalam di rumah dan pemakamannya.Tak ada petugas dari Satgas Covid yang mendatangi kami,termasuk selanjutnya kami ini seperti apa.Adik saya yang dilarang masuk tadi itu,karena inisiatip pribadi melakukan test rapid antigen di puskesmas Nagi dan hasilnya reaktif ! Nah seperti apa penangananya ? “ sergahnya dengan terus menerus menyesalkan tidak ada perawatan serius terhadap luka kaki mamanya.Petugas lebih melihat ke-covidnya itu !

Sementara itu suami almarhuma ,Sebastiana Sedo,Petrus Nama Kedang,dengan tegas meminta perhatian Pemkab Flotim  dan pihak Manajemen RSUD Hendrikus Fernandez untuk lebih memperhatikan kualitas pelayanan pada RSUD Larantuka.

“Cukuplah itu  terjadi pada keluarga kami,jangan terjadi lagi pada yang lain.Pertemuan hari ini merupakan pertemuan serupa yang kesekian kalinya.Ada banyak warga Flotim yang mengalami hal serupa,namun saya minta,cukup sudah itu terjadi pada keluarga kami.Pertemuan hari ini ,toh tidak menghidupkan istri saya dan mamanya anak-anak,namun yang paling penting Ama Sekda,saya minta agar perhatikan pelayanan di RSUD kita itu,serta tegakkan penanganan Covid dengan benar !”pinta P.N Kedang .

Sekda Paulus Igo Geroda dalam tanggapannya mengingatkan semua pihak untuk tidak melihat pertemuan ini sebagai ruang pembenaran diri.Namun sebagai ruang pembenahan ! Pemerintah  menerima dan akan menindaklanjuti berbagai masukan yang disampaikan pihak keluarga pasien , dan mengharapkan apa yang dijelaskan pihak RSUD dan pihak Pemerintah,pun diterima pihak keluarga.*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment