Adonara/BaliNewsNetwork.com- Keluarga Agus Lamahoda,wartawan TerasNTT.com yang mengalami kekerasan di lokasi proyek pekerjaan rehab Puskesmas Lambunga, Desa Pepak, Kecamatan Klubagolit-Adonara pada Sabtu (16/1)  sangat menyesalkan tindakan kekerasan yang tersasarkan ke salah satu anggota keluarga mereka itu. Mereka pun meminta pihak Polsek Sagu untuk menindaklanjuti proses hukum yang telah dilaporkan itu secara adil tanpa tebang pilih !

Adalah Primus Lamahoda, salah seorang anggota keluarga wartawan TerasNTT.com,  tatkala dikonfirmasi di seputaran kediamannya di desa Weranggere, Kecamatan Witihama, Minggu (17/1) secara tegas menandaskan penyesalan mereka terhadap tindakan kekerasan yang terlayangkan pihak pelaksana proyek tersebut !

“Agus sedang ada di Polsek Sagu. Tadi di pukul 15.00 wita tepat, dia dijemput oleh anggota Polsek Sagu dengan mobil Polsek. Sebenarnya dia bisa pergi sendiri ke sana, namun mungkin pihak Polsek Sagu punya pertimbangan sendiri dengan cuaca saat ini (hujan) sehingga datang menjemputnya. Kami setelah mendengar kabar tentang apa yang dialami adik kami Agus kemarin, sebagai orang Lamaholot, kami menanti seperti berbiasanya kita orang Lamaholot di kala ada persoalan atau kesilapan seperti ini. Sepanjang malam tadi kami tunggu,  jangan sampai mereka datang dan mempercakapakan untuk berdamai sebagaimana berbiasanya kita orang Lamaholot. Namun sampai hari ini,Semara Duran tidak pernah datang ke sini ! Karena persoalan ini telah dilaporkan ke Polsek Sagu, maka kami berharap pihak Polsek Sagu tidak tebang pilih, tidak melihat apakah dia Ring Satu dengan Bupati atau bukan, namun melaksanakan proses hukum itu seadil-adilnya.” tandas Primus Lamahoda.

Primus meriwayatkan, tindakan kekerasan itu rupanya dipicu oleh ketidakpuasaan pihak kontraktor pelaksana atas pemberitaan  yang ditulis oleh Agus sebelumnya tentang ketidakberesan yang ditemukannya dalam pelaksanaan pembangunan pekerjaan rehab Puskesmas Lambunga.

“Sebelumnya adik Agus ada tulis berita tentang proyek di sana (Puskesmas Lambunga). Kemarin, Sabtu (16/1), ada kunjungan Komisi C DPRD Flotim, dan adik kami ini meliput di sana. Dan menurut cerita, ketika dia mau pulang, si kontraktor Semara Duran itu datang mendekati dia, tarik dia, memegang krah bajunya, sambil seret dia dan teriak bahwa inilah dia yang selama ini lapor dan tulis-tulis itu ! Memang, Semara hanya tarik dia saja ,tidak pukul. Adik Agus hanya sekali mendapat pukulan, namun bukan oleh Semara Duran. Hanya saja, kenapa harus dengan cara begitu ? Wartawan kan seorang pewarta ? Tugas dia mewartakan !”ungkap Primus,warga RT 10, RW 05 Desa Weranggere itu menyesalkan peristiwa kekerasan yang teralamatkan ke adiknya itu.

Sementara itu, Semara Duran yang santer disebut-sebut sebagai pelaku pemukulan dan penganiayaan terhadap Agus Lamahoda,wartawan TerasNTT.com tersebut, secara tegas membantah informasi itu.Dirinya sama sekali tidak pernah memukul,malah  melerai dan melakukan perlindungan kepada Agus,sembari memarahi Melky,tukang yang secara spontan menampar Agus dengan menggunakan punggung tanganya itu (backhand).

“Bahwa dengan agak memaksa agar dia tunjukan dimana komponen pada bangunan yang sedang kami kerjakan itu asal jadi sebagaimana yang dia tuliskan sebelumnya itu,si iya ! Tapi kalau memukul,menganiaya,apalagi keroyok sebagaimana yang disebut-sebutkan orang-orang di medsos,maupun dipemberitaan dari kemarin hingga saat ini,si tidak ! Saya pastikan bahwa semua itu tidak benar ! Yang benar adalah seorang tukang kami bernama Melky,secara spontan menampar adik Agus dengan menggunakan punggung tangannya.Kaget dengan kondisi itu,saya langsung melerai bahkan melindungi adik Agus dan memarahi Melky untuk tidak boleh melakukan tindakan seperti itu ! kisah Semara Duran.

Kenapa Harus Memaksa ?

Tindakan memaksa ala Semara Duran itu  pun spontan muncul tatkala dirinya mengetahui bahwa Agus yang disaat itu hendak meninggalkan areal Puskesmas Lambunga di acara kunker Komisi C DPRD Flotim pada Sabtu,16 Januari 2021 adalah wartawan TerasNTT.com yang sebelumnya memberitakan tentang pekerjaan yang asal jadi itu.

Sebagaimana yang  dikisahkan Semara Duran yang dikonfirmasi di lokasi pekerjaan pembangunan rehab Puskesmas Lambunga, Minggu (17/1),dirinya sama sekali tidak menyangka kalau Agus itu adalah wartawan yang dimaksud. Yang ada dalam benak dia  adalah temannya Agus yang bernama Dedi,pasca  dirinya melihat kembali postingan pemberitaan itu yang tershare di Facebook oleh Dedi.

“Saya awalnya bertanya kepada Dedi,temannya itu,bahwa benarkah engkau ini wartawan TerasNTT.com yang kemarinnya menulis berita tentang pekerjaan ini ? Namun yang bersangkutan mengatakan bukan, dan menunjuk ke arah oknum yang akhirnya saya tau namanya Agus alias Gusti Lamahoda itu. Saya lalu menghampirinya dan meminta dia untuk bisa meluruskan kembali pemberitaan itu, apalagi semua komponen terkait paket itu hadir lengkap.Ada PPK, ada Konsultan Pengawas. Ada beberapa hal juga yang saya minta dia klarifikasikan. Namun dia tidak mau, bahkan dia bilang dirinya hanya mau berurusan dengan PPK dan Kepala Dinas, tidak mau berurusan dengan Kontraktornya, nanti ribut ! Wah,bagaimana mungkin pemberitaan dengan judul yang tendensius dan sangat merugikan, dibuat tanpa konfirmasi lalu disaat kami sedang bersama di lokasi pekerjaan itu, tapi tidak berusaha untuk melakukan konfirmasi tentang temuan atau data yang dikantonginya itu ? Nah, saya lalu dengan memaksa, benar,saya paksa dia  dengan cara mengapiti lenganya lalu berdua kami berjalan ke gedung yang sedang dikerjakan itu, dan minta dia tunjukan dimana komponen yang dia sebutkan dikerjakan asal jadi itu. Ka,  disitu ada juga Konsultan Pengawas. Maksudnya ,biar dia mendapat penjelasan secara teknisnya, tentang betonisasi atau pun komponen lain.Tapi dia tetap tidak mau. Nah, mendengar suara ribut diluar, salah seorang tukang kami, Melky yang sedang bekerja di dalam keluar dan lalu tempeleng dengan punggung tangannya. Spontanitas  terjadi, dan saya sendiri kaget dengan kejadian itu lalu berusaha melerai, memeluk dia untuk menghindari tindakan lanjutannya yang mungkin terjadi. Saya memarahi Melky untuk tidak boleh lakukan itu. Dan sambil memohon adik Agus itu meluruskan kembali pemberitaan sebelumnya itu di TerasNTT.com. Karena apa yang ditulisnya itu tidk benar dengan faktanya, termasuk pengunaan kayu mentah yang  katanya saya beli dari Ama Dosi,warga Ileboleng. Padahal Ama Dosi itu adalah tukang kami yang mengurus perakitan kuda-kuda pada pekerjaan itu, bukan pemilik kayu yang dia sebutkan dalam berita itu. Andaikan disaat itu, adik Agus mau meluluskan permintaan saya itu,s aya  siap memberikan penjelasan secara jujur dan terbuka terkait materi pemberitaannya terkait paket pekerjaan yang sedang kami kerjakan itu. Demikianlah kronologisnya !” kisah Semara Duran seraya memohon maaf atas ketidaknyamanan yang dialami oleh Agus Lamahoda dan Redaksi TerasNTT.com atas reaksi spontanitas itu.

Kisah senada pun disampaikan Rajawati dan Hendrik Doken,kedua asisten pengawas innternal pekerjaan itu.Sembari mempraktekan cara Semara Duran mengapiti lengan wartawan TerasNTT.com itu, baik Hendrik Doken maupun Rajawati kembali menegaskan bahwa tidak pernah terjadi penganiyaan apalagi pengeroyokan sebagaimana yang santer tersebutkan.

“Awalnya,kami kira anak itu adalah temannya Semara. Soalnya kami lihat Semara menggandeng dia menuju gedung ini. Namun ketika sampai disini kami mendengar Semara bertanya dan mempersilahkan dia untuk masuk ke dalam bangunan, dan tunjukan dimana bagian yang katanya dibangun asal jadi itu. Benar bahwa Semara tidak pukul dia. Hanya Melky yang tempeleng dia dengan tangan bagian belakang.Itu pun tidak ada kans, karena dia dari tempat atau posisi sulit ! Dan jujur,pada saat itu, saya sungguh menjaga Semara agar Semara tidak boleh melakukan pemukulan. Karena bukan soal berurusan dengan hukum, namun lebih berat pada urusan adat istiadat di kampung ini, kasih makan kampung ! Dan itu lebih berat, makanya saya jaga Semara sungguh,  Dan syukur Semara tidak lakukan itu.” tutur Rajawati yang diamini Hendrik Doken.

Terhadap laporan yang sudah diajukan Agus Lamahoda di Polsek Sagu-Adonara,baik Semara Duran, Hendrik Doken, dan Rajawati menyatakan sangat siap untuk mengikuti prosedur penanganan perkara sebagaimana aturan hukum yang berlaku.*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment