Larantuka/BaliNewsNetwWork.Com- Kasus kematian ternak babi di Kabupaten Flores Timur akhir-akhir ini terus bertambah. Pada posisi Senin,11 Januari 2021, terdata ada 1.614 kasus. Setiap hari selalu saja ada kasus kematian hewan piaran warga yang satu ini ! Pada Jumad, 15 Januari 2021, terlaporkan terjadi peningkatan kasus hingga menembus angka 1700,dengan wilayah serangan terparah di Kecamatan Ileboleng-Adonara.

Dikonfirmasi di ruang kerjanya,Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur, Densi Kleden terkait adanya peningkatan kasus kematian babi di setiap hari dalam pekan ini,membenarkan kenyataan tersebut.

“Per hari ini saja (Jumad, 15 Januari 2021) , terlaporkan nyaris mencapai angka 2000. Sudah sekitar 1700 babi di Flotim yang mati akibat serangan ASF, terhitung dari akhir Desember 2020 hingga hari ini, Jumad 15 Januari 2021. Kendala yang kita hadapi adalah hingga kini,belum ditemukan obat atau vaksin untuk membasmi virus Demam Babi Afrika ini. Yang bisa kita lakukan adalah memperketat pengawasan peredaran ternak babi maupun produknya seperti daging babi, baik antar kecamatan, antar pulau maupun antar kabupaten serta menghimbau kepada warga peternak babi untuk senantiasa menjaga kebersihan dan kesehatan ternak serta kandangnya.” urai Kadis Densi Kleden seraya menyerahkan penjelasan lanjutan kepada Sekertaris Dinas,Drh.Simon Nani dan Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner,Drh. Umi Siti Aisah Saleh.

Berjalan ke arah perketatan pengawasan lalulintas ternak babi itu,Sekdis BunTer Flotim,Simon Nani mengaku, pihaknya telah membangun koordinasi dengan para camat,dan unsur lainnya termasuk meminta bantuan para PPL (BPP-Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flotim) untuk bersama-sama melakukan  pengawasan dan melakukan sosialisasi pencegahannya.

“Sama seperti Covid-19,demikianpun ASF ini,hingga kini belum ditemukan obatnya! Olehnya yang bisa kita lakukan adalah melakukan pencegahan! Bila sudah ada babi yang terserang maka 90 persen,babi itu akan mati.Olehnya yang harus dijaga adalah daya imunitas ternak itu sendiri,harus tetap sehat ! Demikianpun kandangnya harus selalu bersih.Nah,kebiasaan kita disini,bila ada babi sakit,kita potong dan bagi-bagikan.Tidak boleh lagi ! Memang ASF tidak membahayakan manusia,namun hasil limbahan daging yang berasal dari babi yang sakit itu bila tercampur dengan makanan babi,maka dapat menularkan ke babi lainnya.”kata Simon Nani.

Demikianpun ketika mengetahui  hewan piaran tersebut sakit dan mati,maka Simon Nani berharap untuk segera melaporkan ke petugas kesehatan hewan terdekat.

“Walaupun terbatas jumlahnya,namun petugas kami akan melakukan identifikasi apakah babi yang sakit atau mati itu akibat terserang hog cholera atau ASF.Dan kalau babi itu mati maka tidak boleh membuangnya ke hutan,kali ataupun membuangnya ke laut.Harus dikuburkan ! Mari kita bersama-sama lakukan pengawasan dan pencegahan,karena virus Demam Babi Afrika ini belum ada obatnya !” pinta Simon Nani yang diamini Umi Aisyah.*(Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment