Oleh: I Made Pasek Pradnyana Wijaya

Pusat Teknologi dan Budaya, ITB STIKOM Bali

Denpasar/BaliNewsnetwork-Dengan berkembangnya teknologi dan internet, dunia maya ini pun menjadi semakin banyak dimanfaatkan warganet untuk bertahan hidup dalam situasi pandemi ini. Salah satu konsekuensi positif dari situasi pandemi Covid-19 di Asia Tenggara, banyak negara kini memiliki kemampuan untuk merangkul digitalisasi.

Namun, ketergantungan yang meningkat pada internet juga membuka lebih banyak kerentanan yang dapat dieksploitasi oleh pelaku kejahatan siber. Seiring dampak digital dari pandemi dan situasi geopolitik yang terjadi di wilayah tersebut, Kaspersky mengungkapkan bagaimana kedua faktor ini mengubah lanskap ancaman yang ditargetkan di Asia Tenggara.

“Tidak seperti tahun sebelumnya, 2020 telah mengubah cara kita bepergian, cara berbelanja, cara kita berinteraksi satu sama lain,” kata Vitaly Kamluk, director for Global Research and Analysis (GReAT) Team Asia Pacific di Kaspersky, dalam sesi konferensi media virtual, Selasa (6/10/2020). “Model ancaman komputer telah berkembang jauh sejak Covid-19 dimulai,” ucapnya.

Perubahan pola hidup masyarakat Indonesia di masa pandemi Covid-19 yang cenderung lebih banyak mengandalkan internet ternyata turut berimbas pada kenaikan jumlah upaya serangan siber. Berdasarkan data dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), sepanjang bulan Januari hingga Agustus 2020, terdapat hampir 190 juta upaya serangan siber di Indonesia, naik lebih dari empat kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu yang tercatat di kisaran 39 juta. Angka terbanyak dicatat pada Agustus 2020, di mana BSSN mencatat jumlah serangan siber di kisaran 63 juta, jauh lebih tinggi dibandingkan Agustus 2019 yang hanya di kisaran 5 juta.

Karena pemakaian internet dan transaksi online semakin banyak, kata Sigit, pelaku kejahatan siber pun makin gencar melancarkan aksinya. “Saat pandemi, orang-orang makin sering transaksi digital. Kenaikan transaksi digital memicu para penjahat makin banyak,” ujar Sigit, Minggu (11/10/2020).

Data dari Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) turut menunjukkan bahwa angka penggunaan internet di Indonesia selama pandemi memang meningkat hingga kisaran 40 persen. Peningkatan itu tak lain disebabkan oleh kebijakan social distancing yang membuat warga bekerja, belajar, dan melakukan berbagai aktivitas lain dari rumah lewat sambungan internet. Pusat penggunaan internet juga bergeser, dari tadinya berada di lingkungan perkantoran, kini menjadi lebih banyak di wilayah pemukiman. Pemakaian internet di daerah tertinggal turut naik sebesar 23 persen.

Meskipun jumlah laporan serangan siber di Indonesia terkesan tinggi, Sigit menegaskan bahwa angka yang dicatat BSSN merupakan “upaya kejahatan”, bukan serangan siber yang berhasil terjadi. Sigit menjelaskan, salah satu parameter yang dinilai BSSN sebagai serangan siber adalah kegiatan peretas yang melakukan scanning pada port situs yang terbuka dengan mengirimkan paket SYN scan. “Ada kegiatan yang tidak normal dan ini yang ditangkap oleh BSSN sebagai suatu serangan,” pungkas Sigit.

Sumber:

Tekno.kompas.com

Liputan6.com

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment