Warga Desa Pamakayo dan Lewonama Sambut Gembira Padat Karya Pengembangan Kelor

Bupati Anton Hadjon ketika meninjau lokasi Krekentukan, di Kecamatan Solor Barat, Rabu (18/03). Lokasi ini akan dijadikan sebagai pusat Pengembangan Tanaman Kelor di pulau Solor. Foto: BNN/Dok./Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork-Warga desa Pamakayo dan Lewonama di Kecamatan Solor Barat, Kabupaten Flores Timur-NTT, menyambut gembira program Pengembangan Kelor industri yang terkemas dalam pola Padat Karya yang berlokasikan di hamparan Krekentukan kepunyaan mereka.

Salah satu item kegiatan Pemulihan Ekonomi akibat Pandemi Covid-19 hasil racikan Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur untuk  wilayah Solor tersebut pun dilihat mereka sebagai berkat dan bukti nyata perhatian Pemkab Flores Timur buat mereka dan bagi Solor pada umumnya disituasi kelesuan ekonomi akibat pandemi Covid-19.

“Solor akhirnya beridentitas dalam program ini. Kelor Solor! Sama seperti wilayah Flores Daratan yang terkenal dengan Mente, Adonara dengan Kopranya, Likutuden dengan Sorgum, ya Solor kini tidak saja dengan buah Ata Nona-nya namun Kelor! Terima kasih kepada Bupati Flores Timur yang telah memberi perhatian kepada kami di situasi pemulihan dari pandemi Covid 19 ini. Bagi kami,  inilah adalah berkat, tidak saja bagi  warga desa Pamakayo dan Lewonama dan desa -desa yang yang terlibat dalam Padat Karya  ini, namun berkat itu bagi Solor secara umum, Solor akhirnya memiliki identitas, Kelor!,” ungkap Petrus Kanisius Sani Herin, Kepala Desa Pamakayo dalam sambutanya  ketika mendampingi Kepala Desa Lewonama, Andreas Mado Lewar di acara  Sosialisasi Kegiatan Pengembangan Kelor  untuk industri pada hamparan Krekentukan oleh Dinas Perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur bagi warga desa Lewonama, di Kantor Desa Pamakayo, Jumat (10/07).

Pemilihan lokasi Krekentukan sebagai pusat pengembangan  tanaman Kelor  tersebut, bagi Sani Herin, akan mengalirkan kebaikan-kebaikan lainnya bagi warga desa pamakayo dan lewonama, baik secara langsung maupun dimasa yang akan datang.

“Lahan kita yang selama ini tidak terurus ini, akhirnya kini termanfaatkan, dan warga yang bekerja akan mendapatkan upah sebagaimana besaran HOK yang telah ditetapkan. Dari 13 Ha itu, konsentrasi Pemerintah hanya pada 2 Ha, dan 11 Ha akan menjadi milik warga penggarap. Nah, marilah kita melihat pluang emas ini! Ini adalah berkat bagi kita, karena konsepnya adalah Kelor Industri ! Hamparan yang selalu menjadi langganan api di setiap tahunnya, tentu dengan adanya aktivitas ini, akan menjadi hijau!  Ada kebaikan-kebaikan baru yang kita dapatkan. Ada nilai-nilai positip yang kita rasakan. Dengan kehadiran investasi ini, dapat mengempang niat merantau dari warga kita. Anak muda kita yang mungkin selama ini hanya berurusan dengan boti dipinggir jalan, dibawa pohon, kita gerakan untuk bekerja! Namun yang terpenting adalah Solor kita beridentitas, Kelor! Mari kita dukung dan sukseskan program ini, karena ini adalah berkat bagi kita!,” ajak Sani Herin.

Sementara itu, Kepala Dinas perkebunan dan Peternakan Kabupaten Flores Timur, Densy Kleden di acara sosialisasi tersebut, selain mengebutkan kekayaan manfaat dari tanaman Moringa Olifera yang telah masuk dalam ruang industri berskala nasional dan internasional itu,  mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil penelitian dan survey pihak Kementerian Pertanian RI, mutu Kelor terbaik di Indonesia, ada di NTT  tepatnya di Pulau Solor Kabupaten Flores Timur. Oleh karena itu, Pemkab Flotim pun berencana melakukan pengembangan Kelor dalam konsep industri,dengan titik konsentrasi  di Pulau Solor.

“Di sini (Solor) kita jadikan sebagai pusat benih Kelor , selain komponen lain pada tanaman ini untuk memenuhi kebutuhan industri. Soal situasi pandemi Covid-19, semua kita tidak pernah menduganya! Dan kebetulan dalam struktur Satuan Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Flores Timur, instansi kami masuk dalam kelompok pencegahan dan pemulihan ekonomi dampak Covid-19 ini. Maka dari itu, dalam rangka pemulihan ekonomi masyarakat akibat pandemi Covid-19 ini, intansi kami  diminta Bapak Bupati Anton Hadjon untuk mendesain konsep kegiatan pemulihan ekonomi dengan pola padat karya. Intansi kami mendapat alokasi dana 1 milyar  61 juta dari total 2 milyar pada komponen dana penanganan ekonomi dari 14 milyar dana penanganan Covid -19 itu,” terang Densy Kleden .

Dari dana tersebut, demikian Densy Kleden dalam pemaparan lanjutannya, terdesainlah lima (5) item kegiatan pemulihan ekonomi dampak Covid-19 tersebut dalam formula Padat Karya  diantaranya adalah Kegiatan Pengembangan Kelor di lokasi Krekentukan  (Solor)  seluas 13 ha, Pengembangan Kelor di desa Kiwangona (Adonara), 3 ha, Pengembangan Kelor di Waibalun, (Larantuka), 5 ha, Pengembangan Hijauan Makanan Ternak (HMT) di Boru, (Wulanggitang ), 2 ha, dan Pembangunan Kebun Benih Jambu Mente Varietas Unggul I di desa Bokang (Titehena), 10 ha.

Yosep Wujo Lewar, salah seorang Tokoh Masyarakat di Desa Lewonama setelah mendengar penjelsan tersebut tak ketinggalan meluncurkan pernyataan apresiasinya terhadap perhatian Pemkab Flotim ini. Dirinya pun berharap agar ihak Pemdes Lewonama dan Pamakayo dapat mengatur tenaga kerja secara baik. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment