Tim Satwas SDKP Flotim Indentifikasi Pari Mobula di Solor Selatan

Tim Satwas SDKP Flores Timur sedang mengidentifikasi seekor anak Pari Mobula sp di pantai  jalur Gaza, Desa Sulengwaseng, Kecamatan Solor Selatan, Flores Timur, Jumat (22/5).Foto : BNN/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork-Seekor anak Pari jenis Mobula sp yang mati akibat terjaring pukat nelayan diperairan Desa Sulengwaseng, Kecamatan Solor Selatan, Jumat (22/5) pukul 02.00 wita, akhirnya dimusnahkan setelah diidentifikasi Tim Satwas Sumber  Daya Kelautan dan Perikanan (SDKP) Flores Timur bersama Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Flores Timur.

Disaksikan BaliNewsNetwork.com, ketika tiba di lokasi Jalur Gaza,Tim Satwas SDKP dan DKP Flotim atas informasi Camat Solor Selatan yang menyikapi laporan nelayan yang pukatnya terjaring anak mobula sp dan seekor penyu hijau tersebut, langsung mengidentifikasi kedua  jenis hewan laut itu.

Seekor penyu hijau itu pun langsung dikembalikan ke laut ! Sedangkan  anak Mobula sp yang telah mati itu pun direkomendasikan untuk pemusnahan pada komponen tulang tulang belulangnya.

Anak Mobula sp tersebut memiliki  Panjang 78 cm, Lebar 133 cm, dengan  Panjang Ekor 120 cm,Sirip Punggung 5 cm. Sedangkan Penyu Hijau memiliki panjang 71 cm, dengan Lebar 62 cm, Tungkai Depan 35 cm,Tungkai Belakang 15 cm. Penyu hijau itu hanya memiliki satu lengan (kiri).

Thomas Dagang Wai Kolin dan Stanislaus Kopong Krowin kepada BaliNewsNetwork.com di sela-sela pengidentifikasian tersebut mengungkapkan keduanya  tak menyangka kalau dibeberapa bagian dari 5 pcc gillnet yang mereka bentangkan tersebut terjerat pari yang akhirnya diketahui mereka sebagi Mobula sp itu.

Akibat terbelit lima lapis, maka ketika keduanya mengupayakan pelepasan belitan-belitan  tersebut, ikan itu sudah tak bernapas. Kondisi itu dipersulit dengan kenyataan, terjaring pula seekor penyu pada bagian ujung pukat mereka . Penyu itu terus merontah-rontah sembari  bergerak ke dasar laut.

“Memang agak lama kami berusaha melepaskan belitan pukat pada badan pari itu. Ada lima belitan ! Kondisi kami semakin sulit karena pada ujung pukat, terjaring pula seekor penyu yang terus bergerak ke dasar laut diantara karang-karang. Gerakan penyu itu membuat banyak bagian pukat yang terbelit pada karang. Nah ketika mengetahui kedua jenis ikan ini serta kondisi pari ini sudah mati, saya lalu melaporkannya ke Pokmaswas desa Sulengwaseng serta Camat Solor Selatan .” kisah Thomas D.W.Kolin sembari memperlihatkan banyaknya kerusakan pada pukatnya itu.

Secara Sadar dan Akhinya Jelas,Bukan Pari Manta

Thomas Kolin dan Stanislaus K.Kowin sendiri mengaku telah mengetahui jenis-jenis biota laut yang masuk dalam wilayah perlindungan negara. Namun khusus untuk Pari Manta dan Mobul sp ini, keduanya pun mengaku, belum bisa membedakannya. Oleh karena itu secara sadar, keduanya lalu melaporkan ke pihak Pokmaswas dan Camat Solor Selatan.

Bersyukurlah, atas laporan mereka yang diteruskan Camat Solor Selatan,Yosep Damian Klodor tersebut , pihak Satwas SDKP dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Flores Timur langsung turun dan melakukan identifikasi, serta menjelaskan perbedaan-perbedaan yang nampak antara Pari Manta dan Pari Mobula sp itu, serta tindakan yang harus diambil ketika mengetahui jenis ikan yang dilindungi tersebut sudah atau dalam keadaan mati.

“Legah sudah ! Dari i tadi subuh, hati kami tidak nyaman, karena mengira ini Pari Manta. Setelah petugas mereka datang dan lakukan pemeriksaan , ternyata jenis ini adalah Pari Mobula sp. Jadi kepada teman-teman nelayan, bila menemukan jenis ikan seperti ini, harus juga melaporkan kepada Pokmaswas setempat atau kepada pemerintah desa/kelurahan atau Kecamatan. Jangan ambil tindakan sendiri atau beranggapan bahwa karena ikan ini telah mati !”  ujar Thomas Kolin dengan saran bijaknya. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment