Dilaporkan Bertindak Diskriminasi, Kades Watowara Dapat ‘Hadiah’ Dari Camat Titehena

Kepala Desa Watowara, Apolinaris Poli Sogen. Foto: BNN/Emnir.

Titehena/BaliNewsNetwork-Damianus Serua Werang, warga desa Watowara Kecamatan Titehena,Kabupaten Flores Timur-NTT akhirnya melaporkan Kepala Desa Watowara kepada Bupati Flores Timur melalui Camat Titehena atas tindakan diskriminatif yang dilakukan sang Kades tersebut terhadap dirinya. Camat Titehena lantas menggelar rapat klarifikasi ! Ada dua keputusan dalam rapat tersebut : uji petik lapangan dan minta petunjuk Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur. Belum sempat mengetahui pelaksanaan uji peti dan hasilnya itu, tiba-tiba Kades Watowara mendapat ‘hadiah’ dari Camat Titehena berupa Teguran  Tertulis !

Melalui surat bernomor 01/DSW/2020,tanggal 3 Januari  2020 yang berperihalkan gugatan, Damianus Serua Werang secara tegas memembeberkan  dua (2) point praktek diskriminasi terhadap dirinya,yakni pimpinan desa tersebut tidak melayani permintaan pengurusan Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM ) untuk urusan persalinan istrinya ( 29 Mei 2019 ), serta tidak memasukan namanya dalam daftar pemasangan instalasi air (SR) yang dibiayai APBDes TA 2019. dan satu (1) point bukti penyalahgunaan kewenangan yang telah dilakukan Kades Apolinaris Poli Sogen sehubungan dengan pengaktifan kembali Kepala Dusun Lato, walau yang bersangkutan telah sangat lama meninggalkan tugasnya !

Camat Titihena, Asterius Soge,S.Kep.Ns pun menyikapi gugatan tersebut dengan mengundang pihak Pemerintah Desa Watowara bersama pihak BPD untuk mendengarkan penjelasan  terkait permasalahan itu.  Pertemuan klarifikasi  itu pun berlangsung di Kantor Camat Titehena pada 27 Januari 2020.

“Usai kami memberikan penjelasan terkait tiga hal yang disebutkan saudara Damianus Serua Werang tersebut, Pak Camat lalu memutuskan untuk melakukan uji petik lapangan serta meminta petunjuk dari Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur. Nah, kami tunggu seperti apa hasil uji petik lapangan itu. Apakah memang uji petik lapangan itu sudah dilaksanakan ? Kalau memang sudah, seperti apa hasilnya ? Kami sendiri kaget tiba-tiba kami menerima surat teguran tertulis dari Camat Titehena dengan pendasaran surat Bupati Flores Timur ( 6/2) bernomor : DPMPD. 410 / 059 / PPPD/ 2020 dengan perihal Teguran Tertulis yang pada intinya menyalahkan kami. Apakah itu yang dimaksudkan dengan minta petunjuk Bupati dan Wakil Bupati Flores Timur tersebut ? “ungkap Kades Apolinaris Poli Sogen dengan ekspresi kecewa yang tak dapat disembunyikannya ketika dikonfirmasi BaliNewsNetwork.com di Kantor Bupati Flores Timur,Kamis (13/2).

Menanyai soal  mengapa pihaknya tidak melayani pengurusan SKTM  kepada  Damianus Serau Werang dan pengabaian yang bersangkutan pada kegiatan SR tersebut, Kades Apolinaris Poli Sogen menjelaskan, langkah tersebut dilakukan pihaknya sebagai bagian dari usaha menyadarkan si penggugat atas sikap acuhnya selama ini.

“Setiap kali istrinya hamil, dirinya tidak pernah mengikuti kegiatan posyandu, imunisasi dan lain sebagainya. Pihak Pemdes bersama kader posyandu, dan bidan sudah berulangkali mendatangi mereka, mengajak untuk ikut kegiatan tersebut. Namun mereka cuek saja. Ancaman resiko akibat tidak mengikuti pemeriksaan melalui kegiatan posyandu dan imunisasi yang dibentangkan baik oleh bidan , Pemdes,dan kader posyandu  selalu tidak dihiraukan mereka.Jawabnya siap menanggungnya. Bahkan saudara Damianus itu selalu berkata, jangankan resiko itu, menjadi pasien umum pun mereka siap menjalankan itu. Setiap kali kami pertemuan dengan pihak puskesmas, kami selalu mendapat sorotan, hanya karena perilakuan  mereka itu ! Lalu di kelahiran kelima ini, dia datang urus SKTM, padahal sebelum-sebelumnya  dia dengan semangat katakan, jangankan resikonya, menjadi pasien umum pun dirinya siap.Lantas ? Jadi bukan soal tidak melayani urusan SKTM itu, namun sekedar pembelajaran yang kami berikan kepadanya ! Terus soal mengapa kami tidak memasang kran air pada rumahnya ? Oknum ini , sebelumnya  buat kasus  patahkan  pipa dan belum mempertanggungjawabkan perbuatanya itu. Dan kran air tetap kami pasang kog,dirumahnya ! Aneh, persoalan  di 2019  ( Mei ) kog baru mengadunya di awal 2020 ? Semuanya itu telah kami jelaskan dalam pertemuan klarifikasi pertama itu . Ini masalah sepeleh, kog buntutnya seperti ini ? Masalahnya adalah upaya menyadarkan yang bersangkutan. ! Bukan diskriminasi sebagaimana yang dilaporkannya itu!,” tandas Kades Apolinaris yang diamini sejumlah perangkat desa Watowara. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment