Penderita DBD Di Solor Bertambah, 11 Solor Barat, 5 Dari Kalelu

Dokter Adrianus Hongi Rau (kuning) sedang melakukan pemeriksaan pasien asal Desa Titehena, Kecamatan Solor Barat , Kabupaten Flores Timur-NTT, pada ruangan UGD Puskesmas Ritaebang, Minggu (9/2) yang secara klinis memperlihatkan gejalah-gejalah  DBD

Solor/BaliNewsNetwork-Penderita Demam Berdarah asal desa Kalelu,Kecamatan Solor Barat,Kabupaten Flores Timur –NTT kini bertambah menjadi 5 orang. Pasca pihak RSUD Hendrikus Fernandes Larantuka memvonis IK, seorang balita berusia 2,7 tahun asal desa tersebut di Rabu  (5/2) positip mengidap Demam Berdarah (DBD), kondisi yang sama pula terjadi pada 4 pasien dari total 6 pasien  asal desa tersebut yang dirujuk pihak Puskesmas Ritaebang, susul menyusul pada Jumad (7/2), dan di Sabtu (8/2) . Bertambahnya 5 penderita DBD asal desa Kalelu tersebut maka total penderita DBD di Kecamatan Solor Barat per 9 Pebruari 2020 berjumlah 11 orang, dari sebelumnya ditemukan lima (5) penderita asal desa Tanalein dan satu (1) dari desa Balaweling II.

Kepala Puskesmas Ritaebang, Darius Sabon Ama dan Dokter  pada Puskesmas tersebut, dokter Adrianus Hongi Rau ketika dikonfirmasi BaliNewsNetwork.com ,Minggu (9/2) terkait penanganan 10 pasien yang teridindikasi DBD asal desa Kalelu tersebut membenarkan hal itu. Bahkan keduanya mengaku kalau kini, pihaknya sedang melakukan observasi terhadap 3 pasien (balita) baru  asal desa Titehena yang secara klinis juga memperlihatkan tanda-tanda DBD.

“Memang untuk kasus DBD di wilayah kerja Puskesmas Ritaebang, semula ditemukan pada pasien asal desa Tanalein (5) dan desa Balaweling II (1) yang kami rujuk ke RSUD Larantuka pada Nopember dan Desember 2019 silam. Semuanya dinyatakan positip DBD oleh pihak RSUD Larantuka. Kondisi yang sama, terjadi lagi pada pasien asal desa Kalelu yang kami rujuk pada tanggal 4 Pebruari 2020 kemarin (positip DBD). Nah, khusus untuk desa Kalelu, pasca mendapat kabar dari  pihak RSUD melalui pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Flotim akan status pasien (IK) yang kami rujuk pada tanggal 4 Pebruari 2020 itu, kami lalu melakukan pelacakan pada kawasan hunian pasien yang telah dinyatakan positip DBD tersebut di Kamis (6/2), dan mendapatkan 10 warga yang dominasi berusia balita  sedang mengalami demam (menggigil). Kami lalu membawa mereka ke sini, untuk mendapatkan observasi dan perawatan di ruang rawat inap, karena secara klinis diduga kuat terserang DBD. Pada Jumad (7/2), kami rujuk 3 pasien dari ke-10 mereka itu ke RSUD Larantuka, dan berdasarkan hasil pemeriksaan pihak RSUD Larantuka, 2 dari 3 pasien itu positip DBD. Kondisi yang sama terjadi pula pada 3 pasien yang kami rujuk di Sabtu (8/2). Lagi-lagi, dua (2) dari tiga pasien tersebut  dinyatakan  positip DBD. Itu berarti, khusus untuk desa Kalelu, sudah ada 5 warga (balita) yang positip DBD. ” urai dokter Adrianus Hongi Rau dan Kepala Puskesmas Ritaebang, Darius Sabon Ama.

Bila dikalkulasikan secara Kecamatan Solor Barat, maka menurut Darius Sabon Ama dan dokter Adrianus Hongi Rau, telah ada 11 warga Solor Barat yang positip DBD. Satu diantaranya telah meninggal dunia (pasien asal desa Tanalein).

Sebagaimana yang disaksikan pada ruangan UGD, Puskesmas Ritaebang, Minggu (9/2), dokter Adrianus Hongi Rau nampak sibuk melakukan pemeriksaan terhadap tiga pasien (balite) asal desa Titehena yang secara klinis mengarah kepada DBD.

Untuk diketahui, Desa Titehena adalah desa hasil pemekaran dari desa Kalelu. Letaknya pun bersambungan dengan desa kalelu. Pada Jumad (7/2), pihak Dinas Kesehatan  Kabupaten Flores Timur bersama  pihak Puskesmas Ritaebang melaksanakan  Fogging pada Desa Kalelu pasca pihak RSUD Larantuka meenetapkan   IK positip mengidap DBD. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment