Karpet Merah Pemerintah Amerika Untuk Prof. Bandem

Prof. Dr. I Made Bandem dengan Bintang Jasa dari Kaisar Jepang. Foto: BNN/Rahman

Denpasar/BaliNewsNetwork.Com-Ada pernyataan menarik dari Rektor ITB STIKOM Bali Dr. Dadang Hermawan ketika bersaksi tentang kiprah Prof. Dr. I Made Bandem, MA di bidang diplomasi seni-budaya dan akademisi dalam rangka meningkatkan hubungan Indonesia dan dunia internasional termasuk Jepang sehingga sangatlah pantas mendapat anugerah Bintang Jasa The Order of the Rising Sun, Gold Rays with Neck Ribbon dari Kaisar Jepang Naruhito pada 3 November 2019, yang diserahkan oleh Konsul Jenderal (Konjen) Jepang di Bali, Hirohisa Chiba di kantor Konsulat Jenderal Jepang, Renon, Denpasar, Jumat (31/01/2019) lalu.

Menurut Dadang Hermawan, Prof. Bandem adalah seorang putra Indonesia yang berasal dari Bali dengan kemampuan diplomasi kebudayaan dan akademisi luar biasa sehingga pantas mendapat penghargaan prestisius dari Kaisar Jepang itu.

“Tapi bagi pemerintah Amerika Serikat, Prof. Bandem mendapat penghargaan “karpet merah” yang memungkinkannya bebas masuk – keluar  Amerika kapan saja. Saya punya pengalaman mengurus visa Amerika bersama Prof. Bandem, juga Pak Marlowe (putra Prof. Bandem-red). Kalau kita yang lain mau ngurus visa Amerika antri mulai dari jam 04 pagi sampai siang, tapi Prof. Bandem tidak. Dia dapat karpet merah sehingga mendapat perlakuan istimewa, visanya langsung keluar,”  kisah Dadang Hermawan ketika bersaksi dalam acara syukuran atas anugerah Bintang Jasa dari Kisar Jepang kepada Prof. Bandem di Renon, Denpasar, Rabu (05/02/2020).

“Itu karena di mata pemerintah Amerika, Prof. Bandem adalah manusia istimewa dalam bidang seni-budaya dan akademisi. Pensiun dari Rektor ISI Yogyakarta, beliau langsung diterima mengajar di Amerika,” lanjut Dadang Hermawan.

Dadang Hermawan mengaku awalnya mengenal Prof. Bandem dari media cetak dan televisi. “Setiap ada berita tentang beliau pasti saya baca, saya ikuti. Oh ini orangnya. Itulah maka ketika mendirikan ITB STIKOM Bali kami mengajak beliau hingga beliau bersedia dan akhirnya ITB STIKOM Bali seperti saat ini,” kata Dadang.

Di mata Dadang Hermawan, Prof, Bandem adalah sosok panutan yang patut diteladani oleh kita semua. “Prof Bandem ini sosok panutan yang patut dijadikan contoh dan teladan masyarakat Bali. Sekarang orang baru ngomong globalisasi, go international, beliau sudah melakukannya tahun 1960-an. Beliau itu dengan cita-cita dan wawasan internasionalnya, tetap menjunjung budaya lokal. Beliau juga membina dengan santai dan penuh kekeluargaan,” kata Dadang.

Dalam sambutannya, Prof. Bandem mengaku tertarik dengan kebudayaan Jepang sejak tahun 1965 saat mengikuti misi keseninan Kepresidenan RI ke Jepang yang diprakarsai oleh Presiden Soekarno.

“Penghargaan ini merupakan ‘long life achievment’ bagi saya dan saya akan bekerja keras untuk meningkatkan hubungan kebudayaan dan pendidikan antara Bali (Indonesia) dan Jepang di masa mendatang,” ucap Bandem yang juga Pembina Yayasan Widya Dharma Shanti Denpasar yang menaungi Institut Teknologi dan Bisnis Stikom Bali itu.

Bandem juga berterima kasih kepada Konjen Jepang, Hirohisa Chiba dan Wakilnya Koichi Ohashi atas kecermatan mereka sebagai diplomat untuk mengamati perkembangan hubungan kebudayaan dan pendidikan Bali dengan Jepang, serta menominasi dirinya untuk memperoleh Bintang Jasa yang sangat prestisius ini.

“Sebagai seniman, saya telah lama mempelajari kesenian Jepang, khususnya musik Gagaku, sebuah ansambel yang lahir pada abad VII, terdiri dari daiko, kako, shakubyoshi, biwa, shakuhaci, reuteki, koto dan berbagai instrumen lainnya. Bersamaan dengan mendalami musik klasik Jepang tersebut, saya dan istri (Swasthi Widjaja Bandem) juga pernah mempelajari tarian topeng klasik Bugaku dan kami kami secara intensif mementaskan kedua musik dan tari itu ketika berada di Amerika,” kata Bandem.

Sejak tahun 1982, ketika menjadi Ketua Asti Denpasar, Bandem pun aktif bekerja sama dengan dengan The Japan Foundation, The Toyota Foundation, The Yamashirogumi Foundation, The Min-On Concert Organization, dalam pengiriman Misi Kesenian Bali ke Negeri Matahari itu.

“Setelah lama bergaul dengan kesenian dan kebudayaan Jepang, banyak nilai-nilai positif yang bisa kita pelajari dan teladani. Mereka itu begitu menjaga tradisinya dengan baik, warganya dimana-mana selalu disiplin, dan tidak pernah lengah maupun tidak egois,” ucap Bandem,

Pada kesempatan ini Konjen Jepang di Bali Hirohisa Chiba mengatakan penghargaan tertinggi dari Kaisar Naruhito ini kerena Pemerintah Jepang menilai Prof. Bandem sangat berjasa dalam meningkatkan hubungan persahabatan Jepang dan Indonesia melalui diplomasi seni-budaya dan akademisi.

“Saya kenal Prof. Bandem empat tahun lalu dalam sebuah acara di kantor gubernur Bali. Saya sangat senang mengenal Prof. Bandem yang berjasa besar meningkatkan hubungan kebudayaan Indonesia dan Jepang. Karena itu saya tidak mengusulkan nama Prof. Bandem sebagai salah seorang penerima Bintang Jasa dan akhirnya disetujui.  Saya ucapkan selamat dan mudah-mudahan hubungan baik dan persahabatan Indonesia-Jepang semakin meningkat,” kata Hirohisa Chiba dalam Bahasa Indonesia sangat fasih. (rsn)

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment