Penyelidikan Kasus Raibnya Isi Brankas Desa Waiula Telah Dihentikan, Komitmen Pengembalian Berubah-Ubah

Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Wulanggitang, Iptu Mohammad Pua Djiwa. Foto : BNN/Emnir.

Wulanggitang/BaliNewsNetwork-Penyelidikan kasus raibnya isi brankas milik desa Waiula , Kecamatan Wulanggitang, Kabupaten Flores Timur-NTT, telah dihentikan pihak penyidik Polsek Wulanggitang. Penghentian  penyelidikan itu dikarenakan pasca gelar  penyelidikan kasus itu, bendahara tersebut (sebelum mengundurkan diri) menyatakan kesediaannya untuk menggantikan  nominal yang raib itu. Informasi tentang hal tersebut pun  telah disampaikan oleh pihak Polsek Wulanggitang kepada Pemerintah Desa Waiula pada pertengahan Oktober 2019 . Bahkan pihak Polsek pun telah mengarahkan Kades Waiula untuk mengkondisikan forum desa agar pihak Polsek menjelaskan  seluruh rangkaian penyelidikan hingga penghentian penyelidikan itu kepada masyarakat di desa itu .

Seiring perjalanan waktu, komitmen mantan bendahara desa Waiula,Kecamatan Wulanggitang,Kabupaten Flores Timur-NTT untuk mengembalikan  Rp. 66.130.000  nominal uang desa yang raib dari brankas milik desa  di pertengahan Agustus 2019 silam itu hanyalah sebatas komitmen yang terucapkan. Sebagaimana yang tertegaskan dalam rapat desa di Selasa 21 Januari 2020, komitmen untuk menyerahkan tahap pertama senilai Rp 20.000.000 dalam rapat tersebut  pun berakhir dengan permintaan penundaan pada Jumad 24 Januari 2020.

“Namun apa yang dijanjikan itu ternyata tidak terlaksana. Rencana hari ini, Jumad (24/1) sebagaimana yang telah dijanjikan mantan bendahara bersama keluarganya dalam rapat desa di Selasa (21/1) dengan besaran Rp 20.000.000  untuk tahap pertama,ternyata tidak terlaksana ! Malah mereka kembali minta penundaan ke Jumad (31/1).Padahal dalam pertemuan di Selasa (21/1) itu komitmennya akan diserahkan pada saat itu juga. Komitmen tersebut disampaikan dalam rapat desa yang dihadiri juga oleh Kapolsek Wulanggitang. ”beber beberapa warga desa Waiula  menyesalkan komitmen mantan bendahara desa yang selalu berubah-ubah itu.

Komitmen pengembalian  besaran dana milik desa yang raib dari brankas desa itu pun dibenarkan Kapolsek Wulangitang, Iptu Mohammad Pua Djiwa. Dikonfirmasi di Mapolsek Wulanggitang, Kamis (23/1) terkait pelaksanaan ganti rugi sebagaimana ketegasan kesanggupan yang terutarakan mantan bendahara usai gelar pertama penyelidikan kasus raibnya isi brankas itu, bahkan sangat yakin kalau telah terlaksana pada Selasa ,21 Januari 2020 itu.

Keyakinan Iptu Mohammad Pua Djiwa itu dikarenakan dalam rapat desa yang juga dihadiri dirinya itu, mantan bendahra yang didampingi keluarganya sangat menyakinkan forum untuk menyerahkan Rp 20.000.000 tahap pertama dalam rapat desa tersebut.

“Dia mengungkapkan kalau pihaknya akan menyerahkan 20 juta Rupiah untuk tahap pertama pada saat itu, dalam rapat itu. Namun karena uang yang telah disiapkan itu masih berada ditangan salah satu anggota keluarganya (guru) yang sedang melaksanakan tugasnya di luar desa Waiula maka mereka minta pertimbangan forum.  Saya perintahkan mereka untuk menghubungi oknum guru tersebut, dan jawabannya akan segera merapat ke kantor desa dan membawa uang itu untuk diserahkan usai melaksanakan pekerjaannya ! Karena saya harus bergeser untuk urusan dinas lainnya maka saya ingatkan Kepala Desa agar Berita Acara penyerahan tersebut,segera juga dikirimkan ke pihaknya.Karena itu komitmen yang terungkap dalam forum rapat desa itu, maka pasti terlaksana !” ungkap Kapolsek Wulanggitang itu penuh optimis.

Sayang, tatkala Kapolsek Wulanggitang tersebut meninggalkan kantor Desa Waiula, kondisinya pun berubah.Komitmen yang tegas tersampaikan itu malah diikuti dengan kesepakatan baru di Jumad 24 Januari 2020. Namun janji  itu pun berganti dengan penawaran baru  lagi di Jumad 31 Januari 2020.

Dari perjalanan investigasi media ini, komitmen pengembalian yang ditegaskan mantan bendahara desa Waiula dihadapan penyidik Polsek Wulanggitang sebagai wujud tanggungjawab atas jabatannya sebagai  bendahara desa disaat kehilangan tersebut, pun diwarnai dengan aksi protes  penyesalan keluarga mantan bendahara atas ketidak beresan pengelolaan pemerintahan desa ala Kades Basilius Naya Deornay.

Selain pelantikan bendahara pengganti tanpa diikuti dengan acara serah terima dari mantan bendahara ke bendahara pengganti,Kades Basilius pun dikeluhkan tidak mempersiapkan dokumen administrasi yang berkaitan dengan penyerahan pengembalian uang tersebut.

Benarkah demikian? Kepala Desa Waiula Basilius Naya Deornay yang hendak dikonfirmasi BaliNewsNetwork.com  terkait hal itu melalui ponselnya pada Jumad (24/1), sulit dihubungi. “Nomor yang anda tujuh sedang tidak aktif!” demikianlah suara yang terdengar setiap kali menghubungi nomor kontak Kades Basilius Naya. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment