Tanaman Jagung Dikeroyok  Hama, Petani Solor  Resah

Us Werang, salah seorang petani penggarap pada hamparan Kebewa, Kelurahan Ritaebang, Solor Barat-Flores Timur-NTT. Foto: BNN/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork-Sebagian besar tanaman jagung milik petani di pulau Solor, Kabupaten Flores Timur-NTT terserang hama ulat. Serangan tersebut melanda hampir semua desa di pulau Solor. Pihak Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur pasca menerima laporan para PPL di tiga kecamatan  tersebut langsung bergerak cepat, mendroping insektisida Decis untuk ‘memusnakan’ hama ulat itu.

Ir.Antonius Wukak Sogen, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Flores Timur, kepada BaliNewsNetwork.com, melalui sambungan selulernya, Senin (20/1) pukul 15.15 wita, membenarkan akan adanya  serangan hama  pada tanaman  jagung, dan sebagian pada tanaman padi tersebut. Tidak saja di Solor, serangan hama ulat itu terjadi hampir merata pada wilayah Flores Timur.

“Pasca menerima laporan dari petugas lapangan kami tentang adanya serangan hama ulat itu, kami pun melakukan peninjauan lapangan pada beberapa wilayah. Kepada para PPL yang tersebar disetiap wilayah, kami menghimbau untuk aktif memberikan laporan. Dan atas laporan tersebut,  baik dari penyuluh, para kepala desa dan para petani itu, kami lalu  mendistribusikan insektisida Decis ke wilayah yang terserang hama itu, termasuk sejumlah desa di Solor. bDi Solor, kami sudah drop 30 botol Decis ke desa Pamakayo, 30 botol ke desa Balaweling I dan, Kelurahan Ritaebang 50 botol.” ujar Anton Wukak Sogeng .

Salah satu kebun di hamparan Riang Weran

Pantauan BaliNewsNetwork.com di Kelurahan Ritaebang, Senin (20/1), hampir seluruh kebun pada kawasan  Riang Weran,  Kebewa, Waikrowa, hingga U’uma, dan Lewutun serta beberapa hamparan kebun di wilayah Auglarang, terserang kebringasan ulat Grayak. Baik pucuk maupun daun jagung terlihat terpotong oleh hama ulat tersebut. Pada beberapa lapisan batang, dan daun, penuh terlumuri kotoran ulat pengerat itu.

Edel Gerin, salah seorang petani asal Lingkungan Ritaebang I yang menggarap di hamparan Riang Weran mengaku sangat terpukul dengan  serangan hama ulat itu. Edel mengaku, pasca serangan pertama, dirinya kembali menanam jagung jenis Bese yang oleh orang setempat menyebutnya wata kuma atau jagung lokal. Tatkala tumbuh, langsung digerogoti oleh ulat penyengat. Demikian pun bagi tanaman jagung hasil sewak atau penyulaman tersebut,langsung digerayang ulat ketika tumbuh.

Kondisi serupa pun dilitanikan Us Werang ,petani asal Lingkungan RItaebang II,yang menggarap lahan di  hamparan Kebewa. Sembari memperlihatkan hasil keroyokan ulat pengerat jagung pada kebunnya itu, Us Werang pun mengakui, hampir semua kebun di kawasan Kebewa  itu  mengalami kondisi serupa. Dirinya berharap agar kondisi  yang dialami para petani di kampungnya tersebut segera diatasi  oleh pihak  Pemerintah melalui instansi teknis terkait .

Edel Gerin dengan kebunnya yang terserang hama ulat

“Kalau kita mengitari kebun-kebun dari arah Riang Werang hingga di kawasan kami ini (Kebewa), akan kita temukan kondisi serupa. Bibit jagung,kami sudah tanam, dan kini sudah terbabat oleh ulat ini. Artinya kami sudah tidak memiliki stock bibit, kalau semua tanaman yang telah terserang ulat ini mati. Langkah pertama adalah harus dengan penyemprotan, mengusir hama ini.Yang jadi soal,kami tidak punya obat pembasmi hama ini. Demikian pun bibit jagung,tuk gantikan yang sudah layu dan mungkin akan mati ini. Tadi pagi istri saya melaporkan kondisi yang kami alami ini ke petugas PPL, semoga segera teratasi !”ungkap Us Werang dengan ekspresi sedih.

Tak jauh berbeda dengan hamparan kebun yang tersebutkan itu, pada perkebunan warga Ritaebang  yang tersebar pada sisi kiri dan kanan jalan utama pada wilayah Ritaebang Timur pun terlihat akan serangan  hama ulat itu. (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment