Sampah Menjemput di Awal Tugas, Inilah Kiat Kadis DLH Flotim Bereskan Persoalan Sampah

Kondisi sampah di  salah satu TPS dalam Kelurhan Waihali-Larantuka,Rbu (15/1). Foto: BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetworkDua orang mengais sampah, dua lainnya mengangkut dan mengangkat, serta dua tenaga menerimanya diatas mobil pengangkut sampah, begitulah sistem kerja  pasukan kebersihan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Flores Timur  di urusan angkut sampah. Beranggotakan 7 tenaga kerja (termasuk sopir) per armada pengangkut, mereka disetiap hari kerja bergumul dengan onggokan sampah pada setiap TPS.

 Walau berstatus  kontrak daerah, namun ke-21 tenaga pengangkut sampah itu (7 x 3 armada) untuk kota Larantuka tersebut, jarang menikmati suasana kantor. Aktivitas kedinasan  mereka  bergerak  pada timbunan sampah!  Kantor mereka adalah mobil pengangkut sampah, dan ruang kerja mereka adalah TPS dan TPA. Mereka tidak bersentuhan dengan ATK dan laptop serta fasilitas kerja kantor santai lainnya, namun mereka hanya mengakrabi  penggaruk,  sekop dan arena kotor, kumuh dan menjijikkan! Santai mereka hanyalah pada sikon panas yang tak tertahankan, dan tatkala hujan deras mengguyur. Itu pun hanya sesaat !

Demikianlah gambaran kerja barisan kontrak daerah di lini pengangkut sampah, sebagaimana yang terpaparkan Kepala Dinas Lingkungan Hidup,Servulus Satel Demoor,S.Hut dan Kepala Bidang Pengolahan Sampah dan Limbah B3, Aleksander Bediona, ketika dikonfirmasi BaliNewsNetwork.com, terkait kiat menyelesaikan persoalan sampah di kota Larantuka itu, Rabu (15/1).

Dari aspek sarana prasarana dan tenaga kerja , baik Kadis Olus Demoor maupun Kabid Aleksander Bediona, tidak memungkiri akan kenyataan keterbatasan kedua sumber daya tersebut. ”Memang masih sangat terbatas !”demikianlah Olus Demoor dan Aleksander Bediona mengakui kenyataan ketidak seimbangan antara sampah yang diangkut dengan sampah yang tertimbun disetiap harinya itu!

Olehnya, sembari melakukan pembenahan internal dinasnya, the top leader  pada Dinas Lingkungan Hidup tersebut berencana akan segera melakukan koordinasi dengan Camat Larantuka bersama para Lurah sekecamatan Larantuka serta stakeholder lainnya untuk secara bersama ‘mengeroyok’ persoalan sampah di kota Larantuka ini  demi sebuah misi kecil, Larantuka Bersih!

“Kami harus jujur dengan kenyataan keterbatasan  armada pengangkut, maupun tenaga kerja pengangkut sampah ini.Kondisi ini menyebabkan sampah yang terangkut,tidak seimbang dengan sampah yang tertimbun. Maka sejak saya ke sini, saya berlakukan aksi melenyapkan timbunan sampah atau mengurangi timbunan sampah pada titik-titik vital. Langkah selanjutnya adalah,dengan keterbatasan ini, kami akan membangun koordinasi dengan Camat Larantuka dan para Lurah sekecamatan Larantuka, dan elemen masyarakat lainnya untuk bersama-sama membangun kesadaran masyarakat kita untuk membuang sampah pada TPS dan tidak membuang sampah pada parit atau  tempat lain, sembari memberlakukan  jam kerja malam. Penjadwalan Jumad Bersih bagi kalangan birokrat, pun merupakan salah satu alternatif solusi untuk kita bereskan sampah di nagi Larantuka ini. Kami butuh gandengan kerja sama semua pihak,untuk kita citptakan kebersihan di nagi Reinha Larantuka ini.” ujar Olus Demoor yang semakin menikmati iklim sampah itu .

Secara kuantitaf, dalam hitungan per hari di jam kerja dengan  satu armada pengangkut, hanya mampu membereskan 5-6 TPS. Itu pun tergantung volume sampahnya. Pergerakan armada dari TPS ke TPA Riangkoli per hari,3 reit untuk satu armada pengangkut sedangkan di kota Larantuka terbangun 59 TPS. Bila dikaitkan dengan ukuran dumptruck pengangkut sampah (kubikasi) dan ukuran TPS  (6 meter kubik)  dan jumlah pergerakan per hari untuk sebuah armada dari TPS ke TPA  maka dalam seminggu,ketiga armada tersebut mengangkut 225 meter kubik sampah , 1020 meter kubik perbulannya.

“Itu kalau ketiga armada itu aktif beroperasi. Nah kini tinggal dua, maka memang sangat tidak seimbang antara sampah yang tertimbunn dan sampah yang terangkut. Kami tidak menghitung dalam tonase karena tidak mau terjebak dalam asumsi atau prediksi. Namun kami  menghitungnya pada sistem kubikasi dengan berdasarkan ukuran setiap armada pengangkut dan ukuran TPS kita,pada setiap muatan per hari  kerja. Kami memang mengalami kendala untuk menghitung sisa sampah pasca terangkut, karena banyak sampah yang dibuang warga diluar TPS. Kami akui, memang lebih berkonsentrasi pada pasar Larantuka, karena apabila terlambat mengurus sampah di sana, alhasil akan membludak sampah!,” jelas Olus dan Aleksander Bediona.

Selain bergumul dengan persoalan sampah, Olus Demoor akan mengeluarkan konsep menjadikan Taman Felix Fernandes sebagai ruang terbuka hijau dan sejumlah program kerja Dinasnya termasuk urusan perijinan. Larantuka Bersih, Larantuka Indah, demikianlah mimpi Olus Demoor yang akan dituangkan dalam kerja nyatanya bersama warga Dinas Lingkungan Hidup . Karena demikianlah dirinya diutus mengepalai Dinas itu ! (Emnir).

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment