Menelusuri Kisah Dibalik SPK Bidan Mirnawati Kasim

Meja Pelayanan pada Ruangan Rawat Inap Puskesmas Lambunga, Klubagolit, Kabupaten Flores Timur. Foto : BNN/Enir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Mirnawati Kasim, A.Md.Keb,bidan PTT propinsi pada Puskesmas Lambunga, Kecamatan Klubagolit, Kabupaten Flores Timur secara tegas menolak menjalankan Surat Perintah Kerja (SPK) ke Puskesmas Kalike, Kecamatan Solor Selatan. Selain menilai SPK yang diterbitkan pada 2 Desember 2019 oleh Kepala Dinas Kesehatan Flotim, dr. Agustinus Silimalar itu inprosedural, Mirnawati Kasim kepada BaliNewsnetwork.com melalui sambungan seluler, Sabtu (14/12) secara tegas menegaskan apa yang dilaporkan Yosep Paron Kabon, salah seorang keluarga pasien tentang dirinya telah berlaku kasar tersebut adalah tidak benar ! Lantas seperti apa kisahnya dan kisah YPK  ?

Pada hari Senin 2 Desember 2019, Mirnawati Kasim sebagaimana jadwal kerja yang telah ditetapkan, melaksanakan tugasnya (dinas pagi). Bersama rekan-rekannya di ruangan Rawat Inap. dirinya melaksanaka tugas pelayanan sebagaimana berbiasa mereka lakukan.

Pada pukul 11.00 wita , datanglah seorang ibu bernama  Sutri Doren (istri Yosep Paron Kabon) mengantar pasien  yang hendak melakukan pemeriksaan Lab di Rawat Inap Puskesmas Lambunga. Setelah urusan pemeriksan tersebut, istri Yosep Paron Kabon itu lantas mengantar pasien tersebut keluar dari ruangan Rawat Inap. Namun sebelumnya, dia sudah berpesan kepada zuster Guntildis, rekan kerja Mirnawati untuk mengurus surat bukti perawatan, karena pasien tersebut sebelumnya sempat menjalani perawatan di ruangan Rawat Inap.

Lemari arsip dan meja pelayanan

“Atas permintaan itu, teman saya Guntildis meminta saya mengambil formulir bukti perawatan . Saya pun lalu mengambilnya dan memberikan kepada teman saya itu. Setelah mengantar pasien keluar ruangan, ibu Sutri masuk kembali ,dan menghampiri meja pelayanan dan memintakan surat bukti perawatan yang dimintakannya tadi. Sambil duduk dikursi, ibu Sutri lalu memberitahukan nama pasien yakni pasien atas nama Maria Kewa Dua (62). Pasien itu sudah pulang di hari Minggu, (1/12) setelah menjalankan perawatan di Rawat Inap Puskesmas  Lambunga  selama dua hari. Saat itu posisi saya sementara menulis laporan dan ibu Sutri dilayani oleh Guntildis.”tutur Mirnawati Kasim.

Lanjut Mirna, setelah mendapat identitas pasien sebagaimana yang tersebutkan Sutri Doren itu, ,Guntildis  kemudian mencari berkas pasien tersebut di lemari arsip. Karena tidak menemukan berkas pasien tesebut di lemari arsip, Guntildis lalu meminta bantuan kepada Mirnawati Kasim untuk mencari berkas pasien di laci meja pelayanan. Atas permintaan itu, Mirna pun membantu mencarikannya.

“Nah,dalam proses pencarian itu,tiba-tiba  ibu Sutri mengatakan “Pasien min wia nedi seba moi lo mihi ? yang artinya Pasien baru kemarin kok, berkasnya sudah tidak ditemukan lagi ?  Saya kemudian menjawab ibu Sutri  “Kaka, kami ini layan pasien bukan cuma satu, kami layan pasien banyak. Terus, kami juga pake shift, jadi kadang ada pasien yang kami dapat rawat,  kadang tidak sama sekali.”  Setelah itu saya  menanyakan ulang nama pasien ke ibu Sutri dan yang bersangkutan pun memberitahukannya.” ujar Mirna sembari mengaku tidak mengerti kalau dirinya dilaporkan bernada kasar.

Semuanya berjalan normal, baik-baik saja, disaat dirinya membantu rekannya Guntildis untuk mencari berkas pasien tersebut di laci meja pelayanan. Kebetulan laci tersebut ada di ujung meja pelayanan, tepat  persis di depan kursi yang sedang ditempati Mirnawati. Dirinya pun mencarikan hingga akhirnya menemukan berkas yang dicarikannya itu dan kemudian memberikannya kepada Guntildis.

Meja Pelayanan Ruangan Rawat Inap

“Karena teman saya itu duduk di ujung lain dari meja itu, sehingga saya memberikan berkas tersebut dengan cara badan saya agak dimajukan  dan sedikit  mendorong map yang berisikan berkas itu , dengan maksud agar pergerakk an map itu dapat sampai ke teman perawat saya itu . Semuanya baik-baik saja, tidak ada bantingan, tidak ada pernyataan atau kalimat kasar yang terlontar dari mulut saya. Setelah saya dorong berkas itu, Guntildis melanjutkan pengisian formulir keterangan rawat inap pasien itu , dan saya melanjutkan dengan pekerjaan saya, membuat laporan. Setelah selesai pengisian data formulir itu, Guntildis lalu menyerahkan Surat bukti Rawat Inap itu pada ibu Sutri.” urai Mirnawati Kasim dengan terus menerus membantah tudingan kalau dirinya berlaku kasar terhadap  istri Yosep Paron Kabon disaat itu.

Ketika urusannya selesai, Sutri Doren pun meninggalkan ruangan pelayanan Rawat Inap tersebut. Namun sebelum keluar dari ruangan tersebut, dirinya sempat ngobrol beberapa saat dengan dokter yang kebetulan tiba di ruangan itu, lalu pamitan pulang.

Tentang kondisi perawatan ibundanya di Rawat Inap Puskesmas Lambunga itu, Yosep Paron Kabon pun membenarkannya. Terhitung Jumad, 29 Nopember hingga Minggu 1 Desember 2019, Maria Kewa Dua (62) ibu kandungnya itu menjalani perawatan di Puskesmas Lambunga. Pada hari Minggu,mamanya pulang ke rumah.

“Sesunguhnya, mama saya dirawat terhitung pada hari Jumad hingga hari Minggu. Dan pada hari Minggu itu mama saya keluar. Berbiasa pelayanan disana, pada hari Minggu,  mereka tidak kasih keluar. Senin baru keluar. Tetapi karena pertimbangan medik, maka pada hari Minggu mama saya diijinkan keluar. Dan posisi waktu itu kami  di gereja sehingga  adik saya yang menjemput mama saya. Semua urusan admnistrasi perawatan mama, adik saya langsung membereskannya, hanya tinggal bukti rawat inap itu. Nah, kebetulan pada keesokkan harinya, Senin 2 Desember 2019 , atas saran dokter, mama saya harus uji HB-nya. Istri saya ikut mendampingi sekaligus  mengurus admnistrasi yang belum itu.”kisah Yosep Paron Kabon yang tenar disapa YPK itu mengawali kisah tentang keluarganya mengalami pelayanan buruk itu.

Sebagaimana informasi yang diperolehnya dari istrinya, YPK yang adalah Wakil Ketua I DPRD Flores Timur itu meriwayatkan, ketika mendampingi ibunda YPK,  istrinya menyempatkan diri ke ruangan bagian Rawat Inap untuk minta surat bukti perawatan ibunda YPK. Ada seorang perawat bernama Guntildis yang membantu proses itu dengan baik dan santun. Namun karena harus mendampingi ibunda YPK  berkonsultasi dengan dokter, istri YPK pun pamit sembari berpesan, nanti dirinya akan kembali lagi.

“Dan ketika kembali lagi, istri saya menemui perawat yang tadi urus itu, dan dia sedang memproses dokumen tersebut.  Tiba-tiba ada seorang yang bernama Mirnawati Kasim, keluar dari rawat inap lalu mengeluarkan kalimat masih 39. Entah apa maksudnya,namun mungkin, dia mau sampaikan kepada temannya yang mengurus surat itu. Mungkin, itu menurut istri, tetapi temannya yang sibuk urus itu dan tidak respon ! Nah menurut istri saya, muka Mirna langsung lain, mukanya langsung kelihatan marah begitu, dan istri saya tidak ada komunikasi dengan Mirna dan tidak berhubungan dengan dia,karena sedang diurus oleh perawat Guntildis. “ urai YPK.

Lanjut YPK, dalam kepentingan penyelesaian dokumen admnistrasi tersebut,  mungkin ada kebutuhan yang berkaitan dengan berkas mamany,  maka perawat tadi mencari berkas itu. Karena tertumpuk dan segala macam, demikian YPK dalam riwayat lanjutannya, menuturkan istrinya lantas menyelutuk : “dia baru keluar kemarin, jadi bisa cari yang dekat-dekat.” Lalu datanglah Mirna dari ruangan lagi dan langsung bentak : “Jangan…,Makanya diurus kemarin, jangan datang sekarang, kita ini banyak pasien !”

“Atas pernyataan itu, istri saya bilang begini : “Minta maaf kemarin hari minggu jadi kami tidak sempat”. Perawat yang sedang mencari berkas mama saya itu diam saja dan terus mencari berkas mama, ternyata mungkin Mirna yang dapatkan, dia ambil berkas mama saya itu, dia banting diatas meja lalu bilang “saya tidak urus.!”  Istri saya diam saja, tidak jawab apa-apa. Dia tetap berusan dengan perawat yang tadi,lalu ambil berkas  dan pulang setelah semuanya itu selesai .”beber YPK seraya menegaskan peristiwa itu dibenarkan oleh saksi Guntildis perawat yang membantu istrinya serta seorang nakes lagi  bernama Rini.  Rini tatkala itu  berada di belakang istri YPK

Rini demikian YPK. bahkan sempat mendengar suara Mirna dan memberi isyarat kepadanya agar jangan berbicara keras-keras. Karena tidak ditanggapi Mirna, Rini lalu keluar ruangan karena merasa malu dengan perilakuan kasar terhadap pasien dan keluarganya itu.

“Bagi saya, yang pertama sebagai keluarga, saya sungguh menyayangkan perlakukan tidak wajar oknum Nakes itu terhadap keluarga pasien. Bagaimana istri saya  tidak omong apa-apa, dibentak dengn suara kasar ? I bu saya sedang sakit, sedangg berjuang dengan hidupnya, lalu berkasnya dibanting ? Hati saya sakit sekali mendengar itu ! Tapi saya tetap berusaha rasional. Ketika mendengar informasi itu, saya langsung konfirmasi balik ke Kepala Puskesmasnya. Kapusknya ketika itu sedang tidak ada ditempat dan berjanji sekembalinya, dia ambil klarifikasi. Nah untuk kepentingan pengaduan saya, saya lalu sampaikan kepada Kepala Dinas Kesehatan.” tutur YPK.

Kepada Kadis Kesehatan, YPK menempatkan dirinya sebagai pribadi dan keluarga pasien yang mendapat perlakukan secara tidak etis ,dan sebagai anggota DPRD dalam konteks pengawasan terhadap pelayanan publik.

“Saya langsung bertemu Pak Kadis Kesehatan dan menyampaikan tentang kejadian itu. Ada hal yang tidak betul yang terjadi di Puskesmas lambunga , segera diambil langkah lah , sehingga ada upaya perbaikan bagi pelayana publik kita. Setelah menyampaikan hal itu,saya pulang. Tidak ada intevensi apapun. Saya hanya menyampaikan kondisi itu sebagaimana informasi yang saya dapatkan dari istri saya, dan minta Pak Kadis untuk mengambil langkah,demi  memperbaiki pelayanan di sana.” tandas YPK sembari menegaskan soal SPK , itu rana pemerintah. Dirinya bahkan baru tau kalau ada SPK terhadap bidan Mirnawati itu beberapa hari kemudian. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment