Kadis Kesehatan Flotim Saat Ini Diduga Palsu – Hasil Pansel Berpangkat IV/b, Pakai TMT Orang Lain

Kadis Kesehatan Fotim Dr. Agustinus Ogue Silimalar. Masih menyisakan masalah. Foto: BNN/Dok.

Masyarakat Flores Timur bakal Geger-Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur (Flotim) saat ini yang dijabat oleh Dr. Agustinus Ogie Silimalar diduga palsu. Masalahnya, saat mengikuti seleksi sebagai calon Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Flotim tahun 2018, dia diduga menempatkan keterangan palsu atau diduga memalsukan kepangkatan atau eselonnya atau diduga berkonspirasi dengan orang lain agar dinyatakan memenuhi syarat administrasi dan lulus seleksi sebagai calon Kepala Dinas Kesehatan Flotim dan akhirnya terpilih. Padahal dia sebenarnya masih yunior, berstatus pejabat fungsional dokter umum sehingga seharusnya tidak memenuhi syarat manakala mengikuti seleksi administrasi. Bagaimana ini bisa terjadi?

Oleh Rahman Sabon Nama

Denpasar/BaliNewsNetwork-Panitia seleksi (pansel) pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama lingkup Sekretariat Daerah Kabupaten Flotim tahun 2018 yang diketuai oleh Sekretaris Daerah Kabupaten Flotim Antonius Tonce Matutina ternyata masih menyisakan masalah sampai sekarang dan luput dari perhatian masyarakat dan media. Pasalnya, salah seorang peserta seleksi untuk jabatan Kepala Dinas Kesehatan Flotim, yakni Dr. Agustinus Ogie Silimalar seharusnya tidak memenuhi syarat alias gugur pada proses seleksi administrasi. Ternyata yang bersangkutan melenggang kangkung hingga proses akhir,  terpilih dan dilantik  oleh Bupati Antonius Hubertus Gege Hadjon, ST sebagai Kepala Dinas Kesehatan Flotim tahun 2018.

Sebuah sumber terpcercaya di Pemerintah Kabupaten Flotim mengungkapkan, sesuai aturan yang berlaku ada tiga kriteria hasil seleksi administrasi. Yakni memenuhi syarat (MS), masih memenuhi syarat (MMS) dan tidak memenuhi syarat (TMS). Dr. Ogie masuk dalam kriteria tidak memenuhi syarat atau TMS dan seharusnya gugur mengikuti proses seleksi selanjutnya.

“Padahal persyaratan khusus bagi calon kepala Dinas Kesehatan adalah  pejabat Eselon III/a dan pejabat fungsional tertentu dengan keahlian bidang kesehatan. Dr. Ogie bukan pejabat Eselon III/a dan juga bukan pejabat fungsional tertentu keahlian bidang kesehatan.. Dr. Ogie hanyalah pejabat fungsional tertentu dokter umum. Kepangkatan masih IV/a, bukan IV/b. Jadi dia tidak memenuhi syarat administrasi tapi dinyatakan memenuhi syarat (MS),” kata sumber ini beberapa waktu lalu.

Fidelis Larantukan. Foto: BNN/Dok

Lalu siapa yang bermain meloloskan Dr. Ogie? Patut diduga ada tiga pihak bermain memuluskan langkah Dr. Ogie menuju kursi empuk Kepala Dinas Kesehatan Flotim.  Dugaan pertama mengarah kepada Dr. Ogie sendiri. Patut diduga dia dengan tahu dan mau menghalalkan cara untuk memalsukan kepangkatan dan eselonnya agar dinyatakan memenuhi syarat oleh pansel. Atau kalaupun bukanlah dia yang melakukan perbuatan pidana tersebut tetapi dilakukan oleh orang lain, setidaknya dia membiarkan keterangan yang tidak benar atas dirinya dalam akta otentik dan sama sekali tidak membantahnya. Dugaan kedua yang ikut bermain adalah Kepala Badan Kepegawaian, Pendidikan dan Pelatihan (BKPP) Kabupaten Flotim yakni Fidelis Larantukan. Sebagai Kepala BKPP Flotim dan duduk dalam pansel, seharusnya Fidelis tahu  pangkat dan eselon dari “anak buahnya” ini. Asal tahu saja, Fidelis Larantukan ini sebelumnya diduga terlibat kasus kenaikan status puluhan ASN menjadi 100 persen bodong dan baru ketahuan pada saat para ASN tadi mengajukan usulan kenaikan pangkat dari III/a menjadi III/b. Sampai sekarang bagaimana penyelesaian kasus itu, tidak ada transparansinya.

Tonce Matutina. Foto: BNN/Dok

Dugaan ketiga  adalah mengarah kepada Ketua Pansel Tonce Matutina. Sebagai pejabat ASN tetiinggi di Flotim wajib hukumnya seorang Sekda tahu persis pangkat dan eselon anak buahnya, apalagi yang mau mencalonkan diri manjadi kepala dinas. Dugaan keempat atau terakhir –dan ini sangat memungkinkan-adalah konspirasi berjemaah antara Dr. Ogie, Fidelis Larantukan dan Tonce Matutina. Lalu untuk apa? Hanya mereka bertiga yang tahu. Tapi sekedar Anda tahu, sudah menjadi rahasia umum, di mana-mana yang namanya  kepala dinas adalah sumber pendapatan luar biasa bagi pejabat itu sendiri dan tentu saja atasannya.

Awalnya, ketika Dr. Ogie mengurus surat persetujuan dari atasan langsung sebagai salah satu persyaratan mengikuti seleksi, Direktur Rumah Sakit Dr. Hendrikus Fernandez Larantuka, Dr. Yosep Kopong Daten,  tak punya pretensi apa-apa selain beranggapan Dr. Ogie sekedar “pelengkap pederita” saja. Karenanya Dr. Yos Kopong Daten enteng saja menandatangani surat dimaksud.

Singkat cerita, proses seleksi berjalan mulus hingga akhirnya keluarlah pengumuman dari panitia seleksi pengisian jabatan pimpinan tinggi pratama yang ketuai oleh Tonce Matutina itu dengan nomor: 131/PANEL JPTP-FLT/2018 tertanggal 13 Februari 2018. Dalam pengumuman tersebut, daftar peserta terbaik jabatan kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Flores Timur terdiri dari Dr. Agustinus Ogie Silimalar NIP: 197908152006041013, Pembina Tk. I (IV/b) / 01-04-2012; berikutnya adalah Frlorentina B. Beoang, SKM, MPH dengan NIP: 196403171986032013, Pembina Tk. I (IV/b) / 01-10-2010, dan terakhir adalah Dr. Yosep Kopong Daten, NIP: 196409181997031004, Pembina (IV/a) / 01-04-2010.

Menariknya, sebelum pengumuman itu dikeluarkan, Tonce Matutina mengumpulkan  para alon kepala dinas (tiga nama terbaik dari masing-masing OPD) di ruang kerjannya dan menjelaskan hasil seleksi dengan catatan keputusan terakhir di tangan bupati. Karena sudah dinyatakan lulus, rata-rata mereka tak gubris lagi pengumuman tertulis yang dijanjikan Tonce Matutina, besoknya.

Ketidakberesan cara kerja pansel mulai terendus ketika Bupati Anton Hadjon melantik para kepala dinas hasil seleksi tadi. Yang lebih mengejutkan lagi, Dr. Ogie Silimalar yang oleh  atasan langsungnya, Dr. Yosep Kopong Daten, dinyatakan sebagai “pelengkap penderita” ternyata dilantik menjadi Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Flotim. Otomatis Dr. Yosep Kopong Daten terlempar.

Proteskah Dr. Yosep Kopong Daten atas ketidakadilan atau lebih tepatnya konspirasi jahat ini? Ternyata bukan. Dia tidak protes sama sekali. Dia tetap menghormati Bupati Anton Hadjon yang lebih memilih Dr. Ogie.

Dr. Yosep Kopong Daten kembali menjalankan tugasnya sebagai Direktur Rumah Sakit Dr. Hendrikus Fernandez Larantuka. Berbulan-bulan dia tak mempersoalkan pelantikan Dr. Ogie sampai suatu saat seorang temannya mendatangi dia memberitahukan kabar yang membuatnya hanya mengelus dada. Temannya itu menanyakan, apakah dokter Yos baru berpangkat IV/a? Karena pengumuman pansel itu tertulis Dr. Yosep Kopong Daten berpangkt V/a terhitung mulai tanggal (TMT) 01-04-2010. Di situ barulah Dr. Yos Kopong Daten menyadari dirinya tertipu, menjadi korban konspirasi jahat, karena pangkat dan TMT disematkan pada namanya dalam pengumuman itu milik orang lain yang dia sendiri tidak tahu. Lebih megejutkan lagi, pangkat dan TMT untuk Dr. Ogie itulah sebenarnya milik sah Dr. Yosep Kopong Daten. Wow… sebuah dokumen negara, akta otentik pula, kok bisa amburadul begitu?

Dikonfirmasi per telepon selularnya Minggu (08/12/2019) terhadap peristiwa yang menimpanya ini Dr. Yosep Kopong Daten membenarkannya.

“Awalnya memang saya kira dia sekedar penggembira. Tapi pada saat pengumuman hasil pansel kok kolomnya dia pangkat IV/b, TMT saya punya. Padahal data Dr. Ogie IV/a. Apakah ada konspirasni?,” tanya Dr. Yos  melalui pesan whatsapp.

Di situ sudah ada petunjuk dugaan tindak pidana pemalsuan dokumen, kenapa tidak lapor polisi? Ditanya begitu dokter Yos hanya menjawab santai.

“Awalnya banyak kalangan mendesak saya agar kasus ini dilaporkan ke polisi saja. Tetapi saya tak mau karena bukan jabatan yang saya kejar. Tapi saya berprinsip, suatu saat atasan saya, pak bupati, akan tahu, ada dugaan proses pansel yang tidak beres, jadi biarlah atasan saya yang menilainya seperti apa,” kata Dr. Yosep Kopong Daten, merendah.  “Tapi kalau media mau ekspos silahkan, ini demi citra ASN Flores Timur ke depan. Saya tak mau kasus yang menimpa saya terulang kepada orang lain,” lanjutnya masih tetap rendah diri.

Ombudsman NTT: Bisa Ditinjau Lagi.

Kepala Ombudsman NTT Darius Beda Daton dikonfirmais soal ini juga kaget bukan kepalang.  Disebutkan, di setiap pansel Kepala BKD (BKPP-red) pasti masuk dalam pansel karena dia lebih tahu pangkat dan golongan para ASN di wilayahnya. “Kenapa yang bersangkutan bisa lolos? Apalagi para calon itu dikonsultasikan ke Komisi ASN, sehingga seharusnya ketahuan dan ditolak. Meski sudah lewat setahun, proses ini bisa ditinjau kembali,” tegas Darius Beda Daton ketika dihubungi dari Bali per telepon selularnya, Minggu (08/12/2019) sore.

Meski begitu, Darius Beda Daton berjanji akan mengkaji lebih lanjut informasi ini sebelum menelusuri proses seleksi oleh pansel tahun 2018 lalu barulah bersikap lebih tegas.

Bagaimana tanggapan Bupati Flotim Anton Hadjon? “Selamat malam pak bupati. Saya mau konfirmasi,  Tahun lalu hasil pansel untuk calon Kadis Kesehatan ternyata baru ketahuan bermsalah. Dr. Ogie seharusnya tidak memenuhi syarat administrasi tapi akhirnya lolos seleksi dan terpilih serta dilantik sebagai Kadis Kesehatan. Lebih celaka lagi, pada pengumuman hasil pansel, Dr. Ogie berpangkat IV/b dan menggunakan TMT Dr. Yos. Sedangkan Dr. Yos berpangkat IV/a dengan TMT orang lain,” itu pesan whatsapp saya malam ini. Sayang, sampai sekarang belum dibalas. Tapi saya yakin besok pagi pak bupati akan puyeng juga menghadapi klarifikasi wartawan soal ini.***

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment