Sudah Lima Bulan Divonis, Kejaksaan Belum Eksekusi Terpidana Kasus KSDA

Ketut Purnita alias Andika saat menjalani persidangan di PN Denpasar.Foto:BNN/dok

Denpasar/BaliNewsNetwork-I Ketut Purnita alias Andika yang pada bulan Juli lalu divonis hukuman 7 bulan penjara karena dinyatakan terbukti dengan sengaja memelihara dan memiliki satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup, masih menghirup udara bebas.

Pasalnya, hingga berita ini ditulis, pihak Kejaksaan dalam hal ini Kejaksaan Negeri (Kejari) Badung belum juga melaksanakan putusan Pengadilan atau melakukan eksekusi terhadap terdakwa yang selama menjalani proses persidangan tidak dilakukan penahanan rutan.

Padahal usai divonis, baik terdakwa mupun jaksa tidak mengajukan upaya hukum banding sehingga vonis hakim sudah memiliki kekuatan hukum tetap

Atas belum dilakukan eksekusi terhadap terpidana, diakui oleh kepala seksi pidana umum (Kasipidum) Kejari Badung, Rachmadi Seno Lumakso.

Memang saat  dikonfirmasi,  awalnya, Seno mengaku belum tahu soal eksekusi tersebut. “Saya belum tahu, coba saya cek dulu,” katanya, Selasa (03/12/2019).

Setelah melakukan pengecekan, Seno mengakui memang pihaknya belum melakukan eksekusi atau melaksanakan putusan Pengadilan terhadap terpidana 7 bulan itu.

“Secepatnya kami koordinasikan dengan JPU agar dilaksanakan eksekusi,” katanya.

Diketahui, I Ketut Purnita alias Andika (37), warga Desa Cemagi itu, oleh majelis hakim pengadilan negeri Denpasar pimpinan Bambang Ekaputra divonis 7 bulan penjara karena terbukti memelihara satwa yang dilindungi dalam keadaan hidup tanpa izin.

Tak hanya itu, dalam sidang, Kamis (11/7/2019), majelis juga menjatukan hukuman denda Rp. 10.000.000, subsider tiga bulan penjara. Atas putusan itu majelis hakim memberikan kesempatan kepada terdakwa maupun jasa untuk pikir-pikir selama satu minggu.

Diketahui pula, Andika diamankan petugas dari Polda Bali dan petugas BKSDA di rumahnya. Terdakwa diamankan kerena memelihara dua ekor burung Merak, satu ekor Cendrawasih, satu ekor burung Kangkareng dan satu ekor burung Alap-alap atau Elang.

Awalnya, polisi dan pihak BKSDA mendapat laporan dari warga bahwa terdakwa diduga memelihara satwa yang dilindungi. Atas laporan itu, polisi dan petugas BKSDA langsung mendatangi rumah terdakwa.

Sampai dirumah terdakwa, polisi dan petugas BKSDA mendapati terdakwa memelihara satwa yang dilindungi. Karena terdakwa tidak dapat menunjukan dokumen/izin dari pihak yang berwenang, terdakwa harus diadili di PN Denpasar.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment