Beli 9 Paket Sabu, Pria Asal Samarinda ini Dituntut 10 Tahun dan 6 Bulan

Anton Wijaya terdakwa yang membeli 9 paket sabu sabu. Foto : BNN/pro

Denpasar/BaliNewsNetwork-Pria asal Samarinda, Kalimantan Timur, Anton Wijaya (46) yang ditangkap dengan barang bukti 9 paket sabu sebarat 16,91 gram sedikit bisa tersenyum lega. Pasalnya, dengan barang bukti narkoba yang cukup banyak, dia hanya dituntut hukuman 10 tahun dan 6 bulan penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Chandra Andika Nugaraha dalam amar tuntutannya,yang dibacakan di muka sidang, Rabu (20/11/2019) pimpinan Hakim Ageliky Handajani Day menyatan terdakwa terbukti bersalah, menyimpan, memiliki, menguasai atau menyediakan narkotika golongan I yang beratnya diatas 5 gram.

Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 112 ayat (2) UU narkotika. “Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama 10 tahun dan 6 bulan,” tegas JPU Kejati Bali itu dalam surat dakwaannya.

Selain memohon agar terdakwa dipenjara, jaksa juga memohon agar majelis hakim menjatuhkan pidana denda Rp 1 miliar.” Dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan hukuman kurungan selama 6 bulan,” pungkas JPU.

Atas tuntutan itu, terdakwa yang didampingi pengacara Chalie Yustus Usfunan menyatakan akan mengajukan pembelaan secara tertulis pada sidang selanjutnya.

“Kita berikan kesempatan kepada terdakwa mengajukan pembelaan secara tertulis pada sidang pekan depan,” kata Hakim Ageliky sambil mengetok palu tanda sidang ditutup.

Dalam surat tuntutan, jaksa juga membeberkan sejumlah fakta yang terungkap dalam persidang, diantaranya terkait penangkapan terdakwa yang dilakukan oleh polisi dari Polda Bali.

Diterangkan, terdakwa ditangkap pada tanggal 7 April 2019 sekira pukul 01.30 WITA di kamar kos nomor B8 Kuta Hary Tage Recidence Jalan Setia Budi, Kuta Utara, Badung.

Dari penangkapan ini polisi berhasil mengamankan 9 paket narkoba jenis sabu sabu seberat 16,91 gram netto. Kepada petugas terdakwa mengaku mendapat sabu itu dengan membeli dari orang yang biasa dipanggil ECA (DPO).

Tak tanggung – tanggung, sekali memesan sabu terdakwa langsung membeli 15 gram dengan harga pergramnya Rp 1,2 juta. Setelah sabu dibayar, ECA memerintah anak buahnya untuk menempel yang kemudian diambil oleh terdakwa.(pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment