Kisah Pastor Ferry C.Ss.R Akhiri Permusuhan  Warga  Bantala dan Wailolong

Pastor Paroki Lewotala, P.Fransiskus Xaverius Bulu, C, Ss.R (kiri). Foto: BNN/Emnir.

IleMandiri/BaliNewsNetwork-Pastor Paroki Santo Alfonsus Maria De Liguiri Lewotala, P.Fransiskus Xaverius Bulu,C,Ss.R adalah salah satu tokoh penginisiatip perdamaian antar warga desa Bantala dan warga desa Wailolong. Mengurai persoalan itu dan menemukan titik solutif di hamparan pertanian bernama Ma Lema dan kepercayaan pada Nobo Ema, memacu semangat Pastor Ferry  C.Ss.R untuk  mengusahakan perdamaian.

Dikonfirmasi usai acara penanaman Pohon Perdamaian di Koke Bale Wailolong dalam  lanjutan acara perdamaian antara kedua desa itu di Wailolong,Senin (18/11), Pater Ferry meriwayatkan, konsolidasi hingga  terlaksananyaa ritual perdamaian itu berlangsung selama dua tahun. Realitas akan hubungan persaudaraan (Opu dan Blake) yang terjalin antara Bantala dan Wailolong serta kebersamaan  atau Keneu yang terpaut dilahan pertanian  Ma Lema menjadi modal dirinya merasuki  hati para tokoh  di Bantala untuk mengupayakan perdamaian itu.

“Ada 3 komponen  penting yang menstrukturi masyarakat di Bantala,yakni Pemerintah Desa, Gereja dan Adat. Ketika kita pergi ke desa Bantala kita akan bertemu dengan  Gereja, Koke (Adat), dan Kantor Desa (Pemerintah). Ketiga pilar inilah yang membentuk masyarakat disana, sama seperti di Wailolong. Namun nyatanya  kami berhadapan dengan sebuah kondisi  pemusuhan .Warga desa Bantala yang adalah bagian dari Paroki  Lewotala bermusuhan dengan warga desa Wailolong. Terhadap kondisi permusuhan itu saya lalu membangun komunikasi dan bekerjasama dengan pihak Pemdes Bantala dan Lembaga Adat disana untuk menggalang perdamaian. Hasilnya, kami lalu minta bantuan pihak Pemdes Bantala untuk membangun komunikasi dengan Pemdes dan masyarakat desa Wailolong.” urai Pastor Ferry  Bulu, C,Ss.R.

Mengapa Perdamaian?

Pastor Ferry  Bulu menempatkan aspek budaya pada tempat pertama untuk memulai mengurai persoalan menuju ruang perdamaian. Masyarakat Bentala dan umat Paroki Santo Alfonsus Maria De Liguiri Lewotala percaya  yang namanya Nobo Ema atau Dewi Padi (Dewi Kesuburan). Ada lahan pertanian di wilayah perbatasan antara Bantala dan Wailolong –Ma Lema yang dikerjakan secara persekutuan atau secara bersama (Keneu) antara warga kedua desa tersebut..Kedua wilayah tersebut memiliki pertalian kekerabatan akibat perkawinan yang sudah lama terjalin. Bantala adalah Opu dari Wailolong.

Sebagai masyarakat petani, dan memiliki ketergantungan pada kawasan pertanian Ma Lema (Keneu), mereka menanam Nobo Ema. Karena sedang bertikai maka Keneu di Ma Lema itu pun tidak dikerjakan. Nobo Ema tidak bisa ditanam dalam keadaan panas atau permusuhan.

Setelah mengurainya dari aspek budaya, Pastor dari Congregatio Sanctissima Redemptoris itu lalu membuat pendekatan Iman Gereja Katolik. Ma Lema dan Nobo Ema memiliki nilai Ekaristi. Nobo Ema menjadi menjadi darah daging manusia. Nobo Ema memberi makanan dan memberi hidup bagi manusia. Nobo Ema tidak akan tumbuh dengan baik jika masyarakat di kedua desa  itu tidak mengalami perdamaian. Harus ada hati yg damai, harus ada jiwa yag damai sehingga Nobo Ema dapat tumbuh dalam kesuburan. tumbuh subur dalam kesejukan, dan tumbuh subur dalam perdamaian.

“Dalam perspektif Gerejani, kita kita pindahkan  Mimbar ke kebun. Mimbar tidak lagi sebagai konteks sarana atau alat yang dipakai untuk berkotbah di gereja melainkan kita pindahkan pada penghayatan dalam kehidupan nyata yaitu dalam usaha pertanian dalam kerjasama antar masyarakat desa, gereja, dan pemerintah. Kami lalu duduk bersama ketiga pilar itu, menghayati dalam wujud pekerjaan di Ma Lema itu. Injil dihayati dalam Keneu (dalam kebersamaan). Injil dijalankan dalam pekerjaan  nyata dimana umat (masyarkat) Bantala adalah petani, hidup bergantung dari pertanian . Maka Injil itu kita selaraskan dalam konteksnya dalam dunia nyata yaitu bersama dengan masyrakat desa yang mayoritas petani! Injil dan Mimbar kita pindahkan dalam kehidupan nyata, tidak lagi hanya terbaca dalam gereja atau KBG,” tandas Pater Ferry.

Konsolidasi perdamaian pun dimulai. Langkah pertama adalah membangun diskusi interna, kemudian mengkomunikasikannya dengan Kepala Desa Bantala dan selanjutnya Kepala Desa bersama masyarakat adat. Walau gayung  bersambut ,toh tantangan baru muncul lagi pada opsi.”Apakah berdamai dulu baru kerja di Ma Lema atau kerja dulu baru berdamai?”

“Kami pakai taktik lain, kerja dulu baru berdamai, Terjadilah, lahan pertanian tersebut pun dibuka kembali. Setelah Seru Etan, baru kami konsolidasi dalam bentuk Ape Naha. Acara makan persaudaraan tersebut merupakan momen menyatukan kekuatan dan pikiran serta menimba kekuatan bersama untuk melakukan pekerjaan itu. Dari situlah kami secara resmi minta tolong kepada Pemdes Bantala  untuk berkomunikasi dengan Pemdes Wailolong demi tujuan mengakhiri perseteruan yang sudah berlangsung selama 38 tahun tersebut. Puji Tuhan, kehendak baik itu diberkati Tuhan dan akhirnya terlaksanalah acara perdamaian ini. Semoga proses perdamaian ini menginspirasi generasi muda kedepannya, dan dari  perspektif Gereja, Injil selalu dilihat dalam konteksnya. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment