Aneh, Ahli Waris Cabut Gugatan, Hakim Tetap Paksa Sidang Dilanjutkan

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sidang kasus gugatan mendiang Frans Bambang Siswanto (FBS) dilanjutkan Senin (21/10/2019) di PN Denpasar. Dalam agenda sidang ini, malah berujung perdebatan sengit dan panas lantaran langkah hakim malah cenderung tambah aneh.

Yaitu tetap ingin melanjutkan sidang, tanpa melibatkan penggugat yaitu ahli waris dari almarhum FBS.
Sidang dipimpin oleh Majelis hakim Dewa Budi Watsara, hadir kuasa hukum ahli waris FBS Willing Learned, Pengacara Made Sumantra yaitu Wayan ‘Tang’ Adimawan dan pengacara Hotel Mulia Haris Nasution.

Agenda sidang adalah Penyerahan Jawaban atau Tanggapan kepada Penggugat Intervensi Hotel Mulia. Menjadi panas dan ada perdebatan sengit adalah, ketika hakim tidak memberikan kesempatan kepada penggugat melalui kuasa hukumnya Willing.

Bahkan hakim mempersilakan kepada kuasa hukum ahli waris FBS untik tidak mengikuti sidang, dengan alasan hakim penggugat sudah menarik diri.

“Kan sudah saya tetapkan jika penggugat gugur karena ahli waris tidak mau melanjutkan perkara. Tapi untuk penggugat intervensi (Hotel Mulia) perkaranya tetap kami lanjutkan,” tegasnya.

Kuasa hukum FBS lalu mempertanyakan soal kelanjutan perkara. Pasalnya, FBS merupakan penggugat untuk Made Sumantra dan Hotel Mulia merupakan penggugat intervensi.

Karena menurutnya, jika gugatan awal dari Frans Bambang digugurkan tentu penggugat intervensi dalam hal ini Hotel Mulia juga harus digugurkan. Namun pendapat ini kembali dibantah majelis hakim. “Itu kan pendapat anda. Pendapat majelis hakim perkara untuk penggugat intervensi akan tetap dilanjutkan,” lanjut Dewa Budi.

Kondisi ini menjadi perdebatan tambah panas, kemudian Willing membeberkan sikap – sikapnya. Dengan menyatakan bahwa, ketika ahli waris penggugat ini mencabut gugatan, mesti seluruh sidang dihentikan.

Dia mengutip kembali dalam Yurisprudensi MA No. 431K/Sip/1973 tanggal 9 Mei 1974 menyatakan pada pokoknya bahwa ‘Dengan meninggalnya penggugat asli dan tidak adanya persetujuan dari semua ahli warisnya untuk melanjutkan gugatan semula, maka gugatan harus dinyatakan gugur’.

“Yang kami maksud, gugatan kami cabut. Persidangan dihentikan, lantaran ahli waris memilih mencabut gugatan karena kondisi berduka. Bukan malah kami cabut gugatan di kabulkan, kemudian sidang dilanjutkan untuk Penggugat Intervensi (Hotel Mulia),” teriak Willing dengan suasana sidang tambah panas.

Selain itu, ketika gugatan dicabut oleh ahli waris dikabulkan, kemudian sidang dilanjut dengan Penggugat Intervensi (Hotel Mulia), akan menjadi sangat janggal sidang ini. Lantaran perkara penggugat intervensi hotel mulia dan rekonvensi oleh Made Sumanra berada dalam satu nomor perkara.

“kami tegas menentang langkah persidangan ini,.” Cetus Willing.
Perdebatan akhirnya tambah sengit, hingga hakim akhirnya Penyerahan Jawaban atau Tanggapan kepada Penggugat Intervensi Hotel Mulia.

Namun pihak ahli waris mesti mau melanjutkan sidang atas gugatannya sebelumnya. Dan dalam sidang kemarin bisa memebrikan tanggapan kepada Hotel Mulia. “Silahkan masuk lagi, ajukan kuasa baru dari ahli waris untuk melanjutkan perkara ini,” ujar hakim Dewa Budi.

Usai Sidang Willing mengatakan bahwa, ahli waris akhirnya bisa menyerahkan tanggapan atas penggugat intervensi Hotel Mulia. Dan ahli waris akhirnya bersedia melanjutkan sidang, lantaran ketika mencabut gugatan malah sidang akan dilanjutkan tanpa penggugat.

“Kami istilahnya sudah memilih untuk mencabut gugatan. Dengan alasan jelas keluarga sedang berduka tidak mau berpolemik, namun situasi membuat kami harus lanjut. Karena sidang mau dilanjutkan tanpa pengugat, padahal jelas tidak sesuai dengan Yurisprudensi MA No. 431K/Sip/1973 tanggal 9 Mei 1974,” tegasnya.

“Tentu dengan posisi kami mesti lanjut, kami akan berjuang maksimal, untuk terungkapnya kebenaran,” pungkas Willing.

Sebelumnya kasus ini disoroti oleh ahli perdata dan praktisi hukum. Yang menyatakan, ketika ahli waris memilih tidak melanjutkan gugatan, seharusnya hakim mengabulkan untuk menghentikan sidang kasus ini.

Kasus ini berawal dengan kasus pidana, atas laporan Frans Bambang Siswanto (FBS) terhadap I Made Sumantra terkait keterangan palsu terhadap surat otentik (Sertifikat) yang berada di Hotel Mulia.

Atas laporan itu, MS diadili dan diganjar hukuman 6 tahun penjara sebagaimana putusan banding dari Pengadilan Tinggi (PT) Denpasar.

Setelah bersalah secara pidana, FBS melanjutkan gugatan secara perdata. Namun FBS keduluan meninggal dunia. Sehingga ahli waris FBS melalui pengacaranya Pengacara Willing Learned, berkeinginan mencabut gugatan.

Lantaran keluarga masih dalam kesedihan mendalam atas berpulangnya FBS. Diajukanlah permohonan pencabutan/pengguguran perkara ke Majelis Hakim pada 1 Oktober 2019 lalu.(pro)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment