Di Solor Timur Ada 7 Desa Tak Bersinyal, Warga Terpaksa Panjat Pohon

Warga  di wilayah Solor Timur bagian selatan terpaksa memanjat pohon agar Hp mereka tertangkap sinyal. Foto: BNN/doc.hmdn/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork-Warga di 7 desa pada Kecamatan Solor Timur hingga kini  belum menikmati kegembiraan dalam menggunakan sarana komunikasi telepon selular. Ke-7 desa yang berada di belahan selatan Solor Timur itu  belum terjamahkan sinyal telekomunikasi. Untuk kelancaran komunikasi dengan perangkat seluler mapun aktivitas online, warga Desa Liwo, Watohari, Lamawai, Lebao, Watanhura I, Watanhura II  dan Apelame harus menempuh jarak 400 meter hingga 1 kilometer  menuju kawasan  tangkapan sinyal. Baik di panta maupun di  wilayah batas desa serta perbukitan, warga terpaksa berbondong-bondong menuju areal bersinyal itu. Bahkan harus memanjat pohon  agar perangkat selulernya  dapat menangkap sinyal.

Hamdani, seorang warga desa Watohari kepada Balinewsnetwork, Senin 30 September 2019 meriwayatkan penderitaan sebagian warga di wilayah selatan Kecamatan Solor Timur itu. Sembari meragakan kebiasaan mereka mencari sinyal dan berkomunikasi di kawasan tersebut, Hamdani mengungkapkan betapa susahnya mereka.

“Hp harus diangkat tinggi  melewati kepala agar bisa menangkap sinyal. Artinya tidak bisa SMS, hanya menelepon dengan mendongak sambil mengaktifkan speaker. Melelahkan! Alangkah repotnya bila warga yang memiliki gangguan pada pendengaran. Ada kawasan sinyal yang memang OK, namun sangat jauh dari kampung. Baik di pantai maupun perbukitan, kawasan bersinyal itu selalu ramai  dipadatai warga. Kadang warga terpaksa nginap  di situ, kalau urusannnya sangat penting. Bahkan harus panjat pohon. Urusan gerak cepat seperti  pengiriman data dengan sistem online  misalnya  urusan pendidikan, pemerintahan desa maupun urusan bidang kesehatan, serta urusan instansi pemerintahan lainnya yang menggunakan sistem aplikasi maka operatornya terpaksa harus nginap di kawasan bersinyal itu. Pokoknya sangat sengsara,” ungkap Hamdani.

Warga  ke-7 desa tersebut sebagaimana yang diutarakan Hamdani sangat mengharapkan perhatian dari Pemerintah Kabupaten Flores Timur, Pemprov NTT,dan Pemerintah Pusat  bersama para wakil rakyat baik DPRD Flotim, DPRD Provinsi NTT maupun DPR RI untuk bisa membebaskan salah satu kemelut dari sekian banyak kemelut pembangunan di wilayah Solor Timur itu.

Kondisi kampung tak bersinyal pun masih nampak di Desa Lewotanah Ole dan Tanalein, Solor Barat. Warga di  kedua desa itu pun harus menghabiskan waktu setiap harinya hanya untuk urusan berlelah-lelah menjangkau kawasan sinyal. Bahkan sambil membawa bekal, warga desa Lewotana Ole meninggalkan kampung mereka hanya untuk melancarkan komunikasi via perangkat seluler tersebut. Menikmati buah pembangunan di alam Kemerdekaan? (Emnir)

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment