Dukcapil Flotim Hapus Duka Buruh Migran Asal Flotim di Nunukan dan Tarakan

Kadis Dukcapil Flotim, Marianus Nobo Waton,SE didampingi Kadis Dukcapil Nunukan,menyerahkan dokumen Kependudukan kepada para pekerja asal Flotim dalam kegiatan Pelayanan Langsung Dukcapil Flotim di Nununukan (5-10/9). Foto: BNN/doc.pkk/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork-Pelayanan Dokumen Kependudukan bagi perantau asal Flores Timur oleh Tim Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kabupaten Flores Timur di Kabupaten Nunukan dan Tarakan, Kalimantan Utara  pada 5-13 September 2019 dinikmati perantau asal Flores Timur sebagai sebuah pelayanan penyelamatan. Walau belum menjangkau keseluruhan pekerja di  wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia tersebut, namun pelayanan barisan Marianus Nobo Waton tersebut telah menghapus duka mereka dan membuktikan betapa pedulinya Pemerintah Kabupaten Flores Timur  kepada warganya di tanah rantau.

Berdomisili dan bekerja dengan identitas  penduduk ilegal lantaran tidak memiliki dokumen kependudukan yang dikeluakan dari Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil di Kabupaten tempat mereka bekerja, membuat hari-hari hidup para pekerja asal Flotim  tidak aman dan nyaman. Mereka  juga tidak menikmati pelayanan yang diberikan negara sebagaimana penduduk lainnya. Alhasil  hasil kerja mereka pun terkuras hanya untuk bertahan hidup sebagai pekerja dengan status kependudukan  ilegal.

Sebagaimana yang diungkapkan Yohanes Kerowe Koten salah seorang buruh migran asal kampung Leter, Adonara Barat tatkala diwawancara Kabid Pendaftaran Penduduk Dinas Dukcapil Flotim, Petrus K. Kewuan di sela-sela pelayanan di kota Nunukan. Masuk bekerja di wilayah Sabah-Malaysia di Tahun 1989, dirinya atas hasil keringatnya itu  lalu membuka usaha bagi anaknya yang bekerja di Nunukan. Hanya bermodalkan paspor, hidup mereka  selalu diwarnai ketakutan akan terkena operasi Polis Diraja Malaysia.

Ketika hendak memutuskan untuk pulang kampung, anaknya yang di Nunukan terkena musibah strom dan harus menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Nunukan. Karena tidak memiliki KTP Elektroknik Nunukan serta dokumen Kependudukan lainnya, Yohanes Kerowe Koten terpaksa harus membayar biaya perawatan tersebut sekitar 30 jutaan. Tak ada layanan BPJS terhadap anaknya. Hasil kerja yang terkumpulkan selama bekerja di Sabah itu pun lalu terkonsentrasikannya hanya untuk membiayai perawatan anaknnya. Bersama keluarganya, dirinya lalu memilih menetap dan bekerja di Nunukan.

“Saya dan keluarga  sudah menikmati betapa sengsaranya hidup dan bekerja di tanah rantau tanpa memiliki dokumen kependudukan. Makanya ketika mendengar pengumuman tentang adanya pelayanan dokumen kependudukan dari  Dinas Dukcapil Flores Timur, saya memboyong semua anggota keluarga ke sini.Terima kasih banyak atas perhatian Pemda Flotim. Dan saya berjanji  dengan  telah memiliki KTP Elekronik dan dokumen kependudukan Nunukan atas pertolongan Pemda Flotim melalui Dinas Dukcapil  Flotim ini, saya sekeluarga tidak akan lagi ke Sabah.”ujarnya dalam wawancara tersebut.

Masih banyak lagi litani penderitaan yang diungkapkan para Buruh Migran asal Flotim  sebagaimana yang terkisahkan Kadis Dukcapil Flotim, Marianus Nobo Waton dan Kabid Pedaftaran Penduduk, Petrus K.Kewuan kepada Bupati Flores Timur Anton Hadjon dalam konferensi pers tentang layanan mereka di Nunukan dan Tarakan bertempat di ruangan kerja Bupati, Rabu 18 September 2019 itu .

Ungkapan penderitaan yang  diikuti  dengan antusias pekerja asal Flotim yang dengan gembira melakukan perekaman dokumen kependudukan tersebut pun membangkitkan rasa haru tim Dukcapil Flotim. Acara serah terima KTP Elektronik, Suket, Kartu Keluarga, Akta Perkawinan dan Akta Kematian  tersebut disertai dengan isak tangis para migran yang mambangkitkan rasa haru tim pimpinan Nus Waton itu.

Sosialisasi akan pentingnya dokumen kependudukan pun terlantangkan oleh barisan Nus Waton dalam kolaborasi kerja sama dengan Dinas Dukcapil Nunukan dan Tarakan kepada  Buruh Migran asal Flores Timur. Tak Cuma itu, Nus Waton dan ke-3 stafnya pun mengunjungi  pekerja asal Flotim yang dideportasi dari Malaysia di Rusunawa. Terharu akan kondisi mereka, barisan Nus Waton pun lalu membangun koordinasi dengan pihak Imigrasi dan BP3TKI serta pihak Konsulat RI di Tawau-Malaysia untuk menyelamatkan mereka serta membangun kerja sama pelayanan dokumen kependudukan.

Rescue action atau tindakan penyelamatan terhadap para pekerja asal Flotim yang dilakukan pihak Dukcapil Flotim tersebut mendapat apresiasi dari Bupati Nunukan, Hj. Asmin Laura Hafid,SE. Bupati Laura bahkan menitip pesan buat Bupati Flores Timur untuk mempercakapkan persoalan Buruh Migran (dokumen kependudukan) di Nunukan yang menurut data Pemda Nunukan, pekerja etnis NTT adalah kelompok pekerja terbesar urutan kedua itu bersama Gubernur NTT.

Kemesraan dalam kerja sama lintas Dinas Dukcapil Flotim, Nunukan dan Tarakan pun terbangun.Pintu pelayanan terpadu antar ketiga rumpun  instansi  itu pun terbuka. Komitmen saling menolong dalam pengurusan dokumen kependudukan pun terjalin sangat mesra. Sebuah terobosan pelayanan humanis telah berani dijalankan Pemda Flotim melalui Dinas Dukcapil Flotim. Walau menjalaninya dengan keterbatasan dana, toh demi kenyamanan kerja para Buruh Migran asal Flores Timur, Pemerintah Kabupaten Flores Timur  melalui ketulusan barisan Nus Waton rela membantu melayani pengurusan dokumen kependudukan para pekerja di wilayah perbatasan Indonesia dan Malaysia itu. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment