Hanya Miliki 3 Ruangan, Kondisi Bangunan SDI Mekko Memprihatinkan

Kondisi Bangunan SD Inpres Mekko,di Desa Pledo, Kecamatan Witihama, Flores Timur-NTT. Foto: BNN/Emnir.

Witihama/BaliNewsNetwork-Bangunan sekolah SD Inpres Mekko di Desa Pledo, Kecamatan Witihama, Kabupaten Flores Tmur-NTT sungguh memprihatinkan. Selain hanya memiliki 3 ruangan belajar, 8 tiang penyangga yang terhitung dari bangunan tempat lonceng sekolah itu tergantung hingga bangunan tempat kegiatan belajar dan mengajar itu telah keropos parah.

Lilitan besi yang sebelumnya tertutup semen pada keseluruhan tiang penyangga kini terlihat jelas akibat pecah dan luruh campuran penutupnya. Beberapa batang besi terlihat keluar dari ikatannya. Kondisinya pun telah keropos termakan karat. Retakan pada sekujur pondasi dan dinding bagian bawah terlihat merata pada bangunan tersebut.

Sementara itu ketika menyusuri bagian dalam dari bangunan tempat berlangsungnya kegiatan belajar dan mengajar tersebut, terlihat ada sekat pembatas yang terbuat dari tripleks. Sekat tersebut adalah pembatas kelas. Dari ketiga ruangan pada bangunan tersebut, masing-masing terpasang sekat sehingga jadilah 6 ruangan kelas.

Dua kelas dalam satu ruangan.

“Memang sejak dibangun, hanya ada 3 ruangan kelas. Untuk menggenapi 6 ruangan kelas maka dibuatkanlah sekat itu. Bangunan permanen itu dibangun sekitar Tahun 2000, karena ketika itu saya berada di kelas 6 dan kami turut serta mengisi tanah untuk memenuhi fondasi pada bangunan ini. Dan begini sudah kondisi sekolah kami,” kisah Sulaiman salah seorang warga dusun Mekko ketika dikonfirmasi balinewsnetwork.com, Minggu 15 September 2019.

Tentang situasi proses KBM, beberapa siswa  SD Inpres Mekko kepada wartawan mengaku sangat tidak nyaman akibat jarak antar kelas sangat dekat.Konsentrasi mereka pada pelajaran sangat terganggu dengan suara guru dan siswa di kelas sebelahnya.

“Sangat terganggu Om. Contohnya begini, ketika kelas kami ada ulangan, sedangkan di sekat sebelah les seperti biasa, maka konsentrasi kami otomatis terganggu. Belum lagi kalau di sebelahnya tidak ada aktivitas pembelajaran. Pasti ribut dan baku ganggu. Jangankan itu,ketika di kelas kami ada pelajaran bahasa Indonesia, dan di sebelahnya Matematika, kami mau dengar yang di sini atau yang di sebelah? Jadi sangat terganggu. Tapi kami mau bilang bagaimana Om?,” uajr beberpa siswa dengan dialeg khas suku Bajo seraya mengharapkan penderitaan mereka di ruang sekolah serta  penderitaan di ruang sosial lainnya bisa diketahui para pemangku kebijakan tingkat atas. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment