Mengasah Ksatria Lewolema di Le’on Tenada

Peserta Le’on Tenada dalam atraksi memanah di Festival Nubun Tawa II, Desa Bantala, Lewolema-Flores Timur, Kamis (12/09). Foto: BNN/Emnir.

Lewolema/BaliNewsNetwork-Tradisi  Le’o Tenada dalam persekutuan adat Lewolema Kabupaten Flores Timur merupakan sebuah tradisi memanah menggunakan peralatan busur dan anak panah. Tradisi tersebut  biasanya dilaksanakan dalam rangkaian upacar syukur pembangunan rumah adat atau yang lazim disebut Koko Padak Bale. Sigap, cepat,tepat, demikianlah pria-pria Lewolema mengasa jiwa ksatrianya dalam iringan  lengkingan dan sorak-sorai yang bergemuruh dalam dentuman  gendang dan gong yang tertabuhkan.

Sebagaimana yang terpentaskan di acara Festival Nubun Tawa II di hari kedua, Kamis 12 September 2019,di desa Bantala, atraksi Le’on Tenada itu diawali dengan ritual adat, termasuk penetapan atau pemasangan tiang sasaran (padu). Penggunaan jenis kayu sebagai tiang bidik itu pun tidak asalan.  Melalui permenungan  mendalam , barulah pimpinan  Lewo menentukan jenis kayunya.Demikian pun penetapan titik bidik itu.

“Yang menentukan titik sasaran atau Tenada adalah seorang anak suku yang disepakati dalam musyawara bersama pembesar lewo. Gemuruh sorakan, pekikkan, dan lengkingan terus berkumandang mengiringian kegiatan tersebut sebagai wujud  kegembiraan atau syukur atas pembangunan rumah adat. Gendang gong terus tertabuhkan,dan  penari hedung terus bergerak memeriahkan acara itu. Hingga akhirnya pemanah pertama dari suku Lamahewe  sebagai pihak sebagai Jutera melesatkan panahnya ke tenada  atau tiang sasar ,”jelas Petrus Eban Tukan , seorang warga Desa Painapang, Lamatou -Lewolema.

Demikianlah keriuhan serta keseruan tradisi seni memanah tradisional yang senantiasa terlaksanakan  oleh  komunitas adat Lewolema itu. Sigap, cepat dan tepat, itulah  nilai sakral yang diperlihatkan dari pelaksanaan ritus seni memanah tradisional tersebut. Jiwa ksatria  para pria Lewolema menjadi titik timbul dibalik  tarikan tali busur dan kelebatnya anak panah tersebut. Musuh telah tumbang dan tewas, demikianlah akhir kegiatan panah itu pabila obyek bidik terkena anak panah peserta. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment