Berhamburan Busana Tenun Khas Flotim, Siapakah Penenunnya?

Gelar atraksi menenun dalam rangkaian Festival Nubun Tawa II yang menjadi bagian dari Festival Lamaholot Flores Timur Tahun 2019 di desa Bantala,Kecamatan Lewolema, Kamis (12/09) .Foto : BNN/Emnir.

Lewolema/BaliNewsNetwork-Identitas penenun pun menjadi kabur, tidak lagi diketahui  tatkala hasil tenunan para penenun berpindah tangan, dan  ketika hasil karya mereka itu berubah wujud menjadi busana modifikasi. Tak seperti pelukis yang menorehkan identitasnya pada karyanya yang membuat dirinya senantiasa dikenal, namun berbanding terbalik dengan seorang penenun.

Mengenalkan  lebih  dekat para pengunjung akan  keseluruhan proses dari menenun itu, Pemerintah Kabupaten Flores Timur melalui Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Flores Timur dalam gandengan kerja sama dengan Indonesiana Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI memunculkan puluhan penenun di hari kedua pelaksanaan Festival Nubun Tawa II,Kecamatan Lewolema, di desa Bantala, Kamis 12 Sepetember 2019.

Dominan penenun  wanita yang telah berusia tua itu mendemonstrasikan keahlian mereka dari tahapan awal hingga akhir menghasilkan sehelai sarung dan selendang dalam beragam motif. Berbusanakan pakaian adat khas perempuan Lewolema, mereka dengan lincah menampilkan keterampilan dari mengolah kapas menjadi uratan benang, pencelupan dengan pewarna herbal hingga pada aktivitas merekatkan benang dengan bentukan motif yang telah terdesain hingga hasil jadi-nya.

Adalah Theresia L. Tukan (74) sang komandan kelompok tenun Dona Tobo  kepada BaliNewsNetwork.com meriwayatkan kegigihannya mengangkat kaumnya para penenun Lewolema yang sempat kian menghilang. Bertahan bersama beberapa anggotanya yang telah bersuia rentah itu, Ketua Kelompok Dona Tobo itu mengatakan bersama rekan-rekannya, mereka tidak sekedar menghasilkan karya tenun dan memasarkannya namun ingin mengangkat penenun Flores Timur khususnya Lewolema yang identitasnya tidak diketahui seiring dengan hasil tenunan mereka terbelanjakan.

“Contohnya begini, pada saat seorang pejabat atau orang-orang ramai menggunakan sarung atau baju tenunan khas Lewolema atau daerah lain,orang tidak bertanya  siapa penenunnya. Identitas penenun  hilang begitu saja. Nah ini yang selama ini senantiasa mengganggu jalan pikiran saya,bagaimana carannya agar nama kami penenun itu senantiasa terkenang bak seorang pelukis atau pemusik,”ujar nya sambil menghentakan peralatan tenunannya.

Ditanya soal keterlibatan orang muda di wilayahnya, Theresia L Tukan berguman sedih. Dirinya pun cemas, bila orang muda tidak menggeluti aktivitas menenun ini suatu saat nanti corak khas tenunan di daerahnya  bisa hilang. Olehnya dia mengharapkan pihak Pemerintah Daerah Flores Timur untuk menggairahkan semangat menenun  bagi kelompok orang muda maupun kalangan pelajar.Pihaknya siap membantu melatih mereka.

Sebagaimana yang disaksikan BaliNewsNetwork.com, aktivitas ke-50 penenun Lewolema dalam rangkaian Festival Lamaholot Flores Timur Tahun 2019  tersebut diminati banyak pengunjung. Warga pun berjugelan menyaksikan dari dekat, sembari  menanyakan harga hasil karya mereka itu. Ada yang langsung membeli, ada pula yang melakukan pesanan sesuai motif yang diinginkannya. Kondisi tersebut pun mendatangkan berkah bagi wanita-wanita  yang tidak muda lagi itu. Festival Nubun Tawa II (2019) membawa rejeki bagi mereka. (Emnir/adv)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment