SMASHED Project, Solusi Praktis untuk Menyelesaikan Berbagai kebingungan dan Kecemasan Remaja

Denpasar/BaliNewsNetwork-Produser-Kurator Program dari SMASHED Project Yudhi Soerjoatmodjo, Selasa (20/8/2019) di sela-sela acara yang berlangsung di SMPN 3 Denpasar mengatakan SMASHED Project berangkat dari latar belakang permasalahan remaja yang menghadapi beragam tantangan dan tuntutan untuk memiliki tanggung jawab yang semakin serius terkait dengan sikap dan pilihan hidupnya.

Karena itu SMASHED Project hadir untuk memberikan sejumlah life skills praktis untuk menyelesaikan berbagai
kebingungan, kecemasan dan konflik yang dihadapi remaja agar bisa terus tumbuh menjadi dewasa yang
sehat lahir dan bathin.

”SMASHED Project digelar bekerja sama dengan pihak sekolah dan diharapkan dapat
melengkapi pendidikan budi pekerti yang diberikan sekolah,” ujarnya.

Dikatakan Yudhi, pelaksanaan SMASHED Project di Bali adalah upaya melanjutkan keberhasilan pelaksanaan program yang berlangsung pada tahun 2017-2018. Program ini menunjukkan perubahan positif pada 5.860 siswa kelas 7 dan kelas 8 di 20 SMP Negeri, swasta dan Madrasah di Jabodetabek.

Berdasarkan hasil survey pra dan paska kegiatan terhadap siswa, terjadi perubahan pengetahuan dan sikap yang signifikan antara lain, 66% siswa
semakin memahami tentang bahaya perundungan (naik 26% dibanding sebelum mengikuti pelatihan), 77% menjadi lebih tahu ke mana mereka harus bertanya bila menghadapi persoalan, termasuk ke guru BP (naik 28%), pengetahuan siswa terkait usia legal minum alkohol di atas 21 tahun berdasarkan peraturan pemerintah naik sebesar 50%.

Dalam penyampaian pesannya, menurut Yudhi SMASHED project menggunakan metode yang interaktif dan menyenangkan melalui pertunjukan teater serta kegiatan dialog dan workshop membuat poster. Pertunjukan teater diperankan oleh tiga aktor yang kerap tampil bersama Teater Koma dan Teater Bulungan.

Menurut Yudhi,
pertunjukkan teater digunakan untuk memberikan pengalaman belajar melalui cerita yang kuat dan menggerakkan emosi. Para siswa akan dibawa ke narasi cerita yang akan menantang mereka untuk memikirkan ulang keputusan-keputusan yang dibuat oleh para karakter tersebut termasuk konsekuensinya.

Selain itu, aktivitas workshop juga menjadi bagian penting dari pengalaman belajar. Setelah menonton
pertunjukkan teater, workshop memberikan transisi dari pola pembelajaran didaktik menjadi pelibatan yang lebih interaktif.

Dipandu oleh tim pakar perkembangan anak atau fasilitator dari Program Studi Psikolog Universitas Udayana, para siswa yang mengikuti program dapat mengidentifikasi capaian
pembelajaran yang relevan bagi diri masing-masing, yaitu keterampilan dan informasi yang diperlukan agar dapat membuat pilihan bijak dan mencapai tujuan.

Untuk pertama kalinya, SMASHED Project berlangsung di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan. Yudhi
menyatakan pilihan untuk memulai pelaksanaan SMASHED Project di dua daerah ini berdasarkan pada
pertimbangan perkembangan pariwisata di Bali yang memungkinkan remaja terpapar dan mengadaptasi budaya yang dibawa oleh turis domestik maupun mancanegara.

Diharapkan pelaksanaan SMASHED Project di Bali dapat menduplikasi keberhasilan yang telah dicapai pada pelaksanaan sebelumnya di sekolah-sekolah
menengah pertama di Jakarta dan sekitarnya dan memberikan manfaat yang sama. “Let’s get smart, don’t get
smashed!,” pungkas Yudhi.

Di sela-sela kegiatan yang diikuti ratusan siswa, Kepala SMPN 3 Denpasar Wayan Murdana,MPd. mengatakan kegiatan ini sangat positif bagi siswa. Kalau dulu pendidikan lebih banyak teori, sekarang bisa praktek dan dirasakan langsung oleh siswa.

“Kegiatan ini juga sejalan dengan misi sekolah dalam hal pembangunan karakter,” jelasnya seraya berharap program ini bisa kontinyu sebab membangun karakter tak bisa dalam satu atau dua hari saja.

SMASHED Project digelar oleh lembaga pendidikan Collingwood dari Inggris yang bekerja sama dengan Dapoer Dongeng Noesantara, telah memulai program ini di Bali sejak 5 Agustus hingga awal September 2019 mendatang. Program ini akan menjangkau lebih dari 6.000 siswa di beberapa
sekolah menengah pertama di Kota Denpasar dan Kabupaten Tabanan. (pro)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment