Siti Saodah usai menjalani persidangan di PN Denpasar. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Wanita pemilik salah satu toko emas di Denpasar, Siti Saodah, Rabu (14/8/2019) diadili di PN Denpasar karena diduga melakukan tindak pidana pemalsuan surat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 263 KUHP. 

Dalam sidang yang sudah masuk pada agenda pemeriksaan saksi, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Assri Susantina menghadirkan dua orang saksi, yang salah satunya adalah saksi korban, Abdul Azis Batheff. Sedangkan satu saksi lagi adalah Rizal Akbar Maya Poetra yang tidak lain adalah kuasa hukum saksi korban. 

Di muka sidang pimpinan Hakim I Made Pasek, saksi mengaku dirugikan oleh terdakwa dengan adanya dua lembar bonggol cek senilai Rp  90 juta dan Rp 75 juta yang bertulisan “Komisi Azis” (Azis adalah saksi korban) yang dijadikan bukti untuk perkara perdata. 

“Saya tidak pernah menerima cek atau uang dari tedakwa. Karena tanah dan bangunan yang saya jual adalah milik saya, jadi tidak mungkin saya terima komisi,” tegas saksi Azis di muka sidang. 

Sementara dalam BAP (berkas acara pemeriksaan), dua lembar bonggol cek yang dijadikan bukti  perkara perdata tersebut dinyatakan tidak sesuai dengan kenyataan karena tulisan “Komisi Azis” adalah palsu karena saksi Azis tidak pernah menerima komisi atas penjualan sebidang tanah seluas 175 m2. 

Apalagi menurut saksi Azis, tanah seluas 175 m2 yang berlokasi di Jalan Letda Kajeng SHM 1376 adalah miliknya yang dibuktikan dengan akta PPJB nomor : 2 tanggal 5 Januari 2005 yang dibeli dari I Putu Widhiarsana Witana. 

Sementara saksi Rizal Akbar menerangkan, dengan mengeluarkan dua lembar cek bertuliskan “Komisi Azis” patut diduga bahwa terdakwa sengaja ingin mengaburkan hak kepemilikan atas tanah dan bangunan 175 m2 yang berlokasi di Jalan Letda Kajeng SHM 1376 dari saksi korban. 

Mengingat tanah itu, menurut Rizal Akbar, awalnya adalah milik H. Sahabudin (almarhum) yang tidak lain adalah suami terdakwa. Tanah itu, oleh Azis dijual kepada orang lain dan telah dilakukan pembayaran.

Nah, dengan adanya dua lembar bonggol cek bertuliksan “Komisi Azis” maka Azis kemudian disebut sebagai mekelar, bukan pemilik tanah itu. (pro)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment