Proyek Rehab Puskesmas Waklibang Kian Rampung,Tukang Batu Litanikan Kecewa

Hasil Proyek DAK TA 2018 Pekerjaan Rehab Puskesmas Waiklibang, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur-NTT. Foto: BNN/Emnir.

Waiklibang/BaliNewsNetwork-Kemajuan fisik proyek pekerjaan rehab total Puskesmas Waiklibang, Kecamatan Tanjung Bunga, Kabupaten Flores Timur-NTT di tahun anggaran 2018, kian rampung. Namun di balik kemajuan fisik 99 persen proyek yang bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAK) TA 2018  dengan rnilai kontrak Rp 978.547.000 itu, ada kidung kecewa yang terlantunkan dari para tukang pasangan batu. Hak mereka sebesar Rp 66.000.000 belum terbayarkan pihak kontraktor pelaksana. Pelaksana proyek tersebut pun komit akan segera menyelesaikannya dalam waktu dekat. Usai proyek tersebut 100 persen dan sisa dana 55 persen itu cair, pihaknya langsung membayar hak para tukang itu.

Kepada BaliNewsnetwork.com di sela-sela kesibukannya di Desa Ratulodong, Tanjung Bunga, Selasa  30 Juli 2019, Yoseph Braja, big bos tukang batu melitanikan kekecewaan pihaknya lantaran hak mereka sebesar Rp 66.000.000 belum terbayarkan pihak CV. Govinda walau ke-11 tukang itu telah menyelesaikan keseluruhan pekerjaan mereka. Pekerja pasangan batu pimpinan Yos Braja itu baru mendapat panjaran 10.000.000 menjelang perayaan Natal di Desember 2018 silam.

Yoseph Braja, Kepala Tukang Batu

“Sisa upah kami sebesar  Rp 66.000.000 belum dibayar. Kami baru mendapat panjaran Rp 10.000.000 menjelang perayaan Natal kemarin. Kami sudah selesaikan pekerjaan yang menjadi bagian kami , tapi hak kami belum juga terbayarkan sampai sekarang. Sudah mau masuk satu tahun ini.  Untuk kami, tukang batu itu, angkanya tadi, Rp 66.000.000 dari total  Rp 76.500.000 sebagaimana kesepakatan kami. Namun ya sudahlah, 500 ribu, saya keluarkan sehingga tinggal 66.000.000 itu,” beber Yoseph Braja menyesalkan belum terbayarnya hak mereka tersebut.

Tidak saja bagi tukang batu, kondisi yang sama pula dialami oleh tukang kayu dan meubeler. Sebagaimana yang terlontar dari mulut Yoseph Braja, hak tukang kayu yang belum terbayarkan sebesar Rp 22.000.000. Sedangkan bagi rekannya yang menangani meubeler, belum sama sekali terbayarkan.

Khusus untuk kerja  tukang batu, Yos Braja meriwayatkan, dirinya diminta kontraktor pelaksana untuk melanjutkan pekerjaan yang ditinggalkan para tukang sebelumnya (asal Waibalun). Di saat itu, realisasi fisik baru mencapai 30 persen. Pihak Yoseph Braja pun menyanggupi itu dengan kesepakatan angka upah serta sistem pembayaran: habis pekerjaan, mereka dibayar. Ternyata apa yang tersepakati itu berbanding terbalik.

Direktur CV Govinda, Ignas Balun yang dikonfirmasi secara terpisah di kediamannya mengakui kenyataan tersebut. Memahami sangat dengan litani penderitaan Yos Braja tersebut, Nasu Balun, demikianlah nama Direktur CV Govinda itu biasa disapa, kepada balinewsnetwork.com menjelaskan  bahwa apa yang diungkapkan oleh kepala tukang pasangan batu itu berangkat dari ketidakmengertian mereka tentang sistem  pekerjaan pada  proyek bangunan. Berbeda sebagaimana yang terjadi pada proyek rabat jalan, jembatan, dan plat deker yang mana ketika habis pekerjaan itu, maka selesailah sudah-dananya pun tercairkan. Namun tidak untuk proyek bangunan. Pada proyek bangunan, pekerjaannya bertahap dan melibatkan beberapa pihak.

“Saya sudah jelaskan kepada mereka dari awal. Berkali-kali pula saya menjelaskan itu kepada mereka. Saya paham sangat dengan kondisi mereka itu dan saya akan langsung membayar hak mereka tersebut baik hak tukang batu, tukang kayu dan meubeler setelah pekerjaan itu 100 persen dan sisa dana 55 persen itu cair. Untuk kondisi terkini, tinggal pasang 6 daun pintu (materialnya sudah siap) dan gantung meteran yang sudah berproses di PLN. Ini pekerjaan bangunan yang tidak  saja ditangani oleh tukang batu, namun melibatkan tukang kayu, meubeler dan pekerjaan instalasi listrik  yang mana pekerjaan tersebut saling berikutan, dan melewati aneka proses. Tidak mungkin pekerjaan instalasi listrik  dikerjakan mendahului pekerjaan atap. Instalasi listrik sudah terpasang, kita harus menunggu mekanisme pemasangan meteran sebagaimana mekanisme PLN. Jadi, walaupun bagian kerja dari tukang batu itu sudah selesai, namun komponen lain belum, ya tentunya belum dinamakan 100 persen. Karena belum 100 persen, tentunya sisa dana belum bisa dicairkan. Untuk saat ini, tinggal pasang 6 daun pintu dan gantung meteran itu,” jelas Nasu Balun sembari menonjolkan komitmen dirinya dalam menjalankan profesinya  itu yakni  dirinya selalu takut  memaksa PPK untuk menyatakan 100 persen terhadap pekerjaan yang belum 100 persen.

Kondisi siap rampung itu pun dibenarkan oleh Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pekerjaan yang didesain oleh CV Yerrof  dan diawasi oleh PT Kencana Adya Daniswara, Rudi Wada. Rudi dalam jawaban pengkonfirmasiannya balinewsnetwork.com melalui saluran WhatsApp menyebut capaian kemajuan fisik pekerjaan tersebut telah mencapai 99 persen.

“Pihak kontraktor sudah ajukan permintaan PHO sehingga telah dilakukan pemeriksaan  lapangan pertama oleh Tim PHO. Dari hasil pemeriksan tersebut, tim PHO menemukan beberapa kekurangan yang perlu dilengkapi. Kemajuan fisiknya telah 99 persen. Untuk pekerjaan ini, tidak sampai pada tahapan finishingn-nya sehingga terlihat seperti masih banyak  yang kurang. Memang pekerjaanya hanya sampai di situ sebagaimana yang dikerjakan. Tidak sampai pada tahapan finishing,” urai Rudi tanpa merincikan hal yang masih kurang itu. (Emnir)

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment