Dinas Sosial NTT Bentuk Kampung Siaga Bencana di Desa Ile Padung

Kampung Siaga Bencana di Desa Ile Padung, Kecamatan Lewo Lema, Flores Timur. Foto: BNN/IST 

Larantuka/BaliNewsNetwork-Dinas Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur bekerja sama dengan Dinas Sosial Kabupaten Flores Timur berhasil membentuk Kampung Siaga Bencana (KSB) di Desa Ile Padung, Kecamatan Lewo Lema belum lama ini.

Kegiatan ini dibuka oleh Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Flores Timur Dominikus Demon, SH  mewakili Bupati Flores Timur dan dihadiri Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial pada Dinas Sosis Provinsi Nusa  Tenggara Timur Drg. Lien Adriany, M. Kes  mewakili Kepala Dinas Sosial Provinsi NTT, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Flores Timur Theo Maran, Camat Lewo Lema Bernard Tukan, para kepala desa dan seluruh masyarakat Desa Ile Padung.

Bupati Flores Timur Antonius H. Gege Hadjon, ST melalui Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Flores Timur Dominikus Demon, SH, menyampaikan apresiasi dan penghargaan kepada Pemerintah Provinsi NTT melalui Dinas Sosial Provinsi NTT yang memilih Flores Timur khususnya Desa Ile Padung sebagai lokus kegiatan pembentukan Kampung Siaga Bencana. Kampung Siaga Bencana (KSB) merupakan sebuah wadah formal penanggulangan bencana berbasis masyarakat yang berada di kecamatan atau desa dan dijadikan kawasan/tempat untuk program penanggulangan bencana.

“Dengan dibentuknya Kampung Siaga Bencana yang kita canangkan hari ini, diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada masyarakat dari resiko dan ancaman bencana dengan cara menyelenggarakan kegiatan penanggulangan bencana berbasis masyarakat melalui pemanfaatan sumber  daya alam dan manusia yang ada pada lingkungan masyarakat setempat,” kata Asisten Perekonomian Setda Flotim Domi Demon.

Hal yang paling mendasar dari pembentukan Kampung Siaga Bencana, kata Domi Demon, adalah masyarakat dituntut aktif dan selalu berlatih sesuai bidang tugas dalam mengurus kampung siaga bencana. Persoalan kebencanaan ini tidak dapat dilihat sebagai tanggung jawab pemerintah saja, oleh karena itu, paradigma pembangunan saat ini menempatkan peran seluruh komponen masyarakat dalam upaya mengurangi resiko bencana.

“Di sinilah masalahnya, perencanaan penanggulangan kebencanaan di berbagai level masih menempatkan masyarakat sebagai sasaran. Masyarakat masih diposisikan sebagai objek mobilisasi ketika tindakan tanggap darurat dilakukan atau korban yang harus dibantu pada saat atau pasca kejadian sebuah bencana. Tidaklah mengherankan jika partisipasi masyarakat dalam persoalan penanggulangan bencana masih tergolong rendah. Sejatinya penyelenggaraan penanggulangan bencana tidak semata merupakan tanggung jawab pemerintah tetapi warga masyarakat juga harus mampu berperan aktif dalam penanggulangan bencana. Warga masyarakat di daerah rawan bencana harus mulai membiasakan diri untuk melaksanakan kegiatan yang mampu mengurungi resiko bencana, baik dengan memelihara lingkungan, melatih diri dalam deteksi bencana dan melatih kemampuan jika terjadi bencana,” demikian tutur Domi Demon.

Kepala Bidang Perlindungan dan Jaminan Sosial Provinsi Nusa Tenggara Timur Drg. Lien Adriany, M. Kes dalam sambutannya menjelaskan, Pemerintah Provinsi NTT dan Pemerintah Kabupaten/Kota telah berupaya semaksimal mungkin untuk melakukan tindakan antisipatif terhadap kejadian bencana namun fenomena alam seringkali tidak dapat dikendalikan oleh kekuatan manusia, maka sejak Tahun 2010 sampai dengan Tahun 2018 telah terbentuk 26 KSB di empat belas Kabupaten.

Selain itu Lien Adriany juga menyampaikan tujuan dari kegiatan ini adalah memberikan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang bahaya dan resiko bencana, membentuk jejaring masyarakat siaga bencana di seluruh Indonesia, mengorganisir potensi masyarakat terlatih dalam penanggulangan bencana, memperkuat  solidaritas inter dan antar anggota masyarakat,pembentukan jejaring siaga bencana berbasis masyarakat, mengoptimalkan potensi dan sumber daya masyarakat dalam penanggulangan bencana.

Peserta dalam kegiatan ini diiukti oleh masyarakat Ile Padung dengan jumlah peserta 200 orang yang dibagi dalam 3 kategori, yaitu penyuluh sebanyak 60 orang, pelatih 100 orang dan 250 orang untuk melakukan simulasi. Narasumber berasal dari Dinas Sosial Provinmsi NTT, Dinas Sosial Kabupaten Flores Timur, praktisi provinsi dan panitia provinsi.

Kegiatan pembentukan Kampung Siaga Bencana (KSB) diakhiri dengan simulasi benacan yang diperankan oleh panitia penyelenggara dan melibatkan segenap masyarakat Desa Ile Padung. (adv)

Editor: Rahman Sabon Nama

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment