Profesi Advokat akan Menjadi Prodi S-2 Fakultas Hukum – PKPA Peradi Suara Advokat Indonesia Ditutup

Peserta PKPA angkatan ke-4 yang digelar DPC Denpasar Peradi Suara Advokat Indonesi foto bareng bersama Prof. Ibrahim dan I Wayan Purwitha, SH., MH.

Denpasar/BaliNewsNetwork–Profesi advokat bakalan dipermudah, tidak perlu lagi menjalani proses bertele-tele seperti selama ini sebelum menjadi advokat. Ke depan, profesi advokat akan menjadi salah satu program studi (Prodi) Strata 2 (S-2) di Fakultas Hukum. Proses menjadi Prodi Advokat itu kini sedang digodok di Kementerian Riset, Teknologi  dan Pendidikan Tinggi.

Hal itu dikatakan I Wayan Purwitha, SH., MH., Ketua Ketua Dewan Pimpinan Cabang  (DPC) Denpasar Perhimpunan Advokat Indonesia (Peradi) Suara Advokat Indonesia usai menutup Pendidikan Khusus Profesi Advokat (PKPA) angkatan ke-4 di Denpasar, Sabtu (13/07/2019).

Menurut Purwitha, berkaca dari pengalaman bertahun-tahun selama ini, menjadi seorang advokat tidaklah mudah. Dia harus melewati beberapa tahap yang terkesan bertele-tela. Dia menguraikan, lulus dari Fakultas Hukum, seorang calon advokat harus mengikuti magang di kantor pengacara selama 2 tahun, setelah itu mengikuti PKPA lalu UPA (Ujian Profesi Advokat), barulah diambil sumpahnya menjadi seorang advokat.

“Selama proses itu, belum tentu juag dia lulus menjadi advokat, akhirnya mengulang lagi. Nah dari pemikiran itulah maka diusulkan agar profesi advokat menjadi salah satu Prodi S-2 di Fakulttas Hukum. Kini sedang digodok di Kemenristek Dikti. Kita harapkan tahun depan, sudah bisa dibuka di Fakultas Hukum di seluruh Indonesia yang memenuhi syarat,” terang I Wayan purwitha.

Menurut Purwitha, selain terobosan baru dalam dunia advokat seperti tadi, ada terobosan lain yang menjadi acuan para advokat ke depan, yakni pembatasan usia maksimal seorang calon advokat saat diambil sumpahnya menjadi advokat. Konsep ini akan dibahas dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Dewan Pimpinan Nasional (DPN) Peradi Suara Advokat Indonesia pada Oktober 2019 mendatang.

“DPC Denpasar Peradi Suara Advokat Indonesia ditunjuk menjadi tuan rumah Rakernas DPN Peradi. Pelaksanaannya sekitar 12–14 Oktober 2019. Salah satu agenda utama adalah membahas pembatasan usia maksimal seorang calon advokat saat diambil sumpahnya menjadi advokat. Kalau usia minimal kan sudah jelas dalam UU Advokat, yakni 25 tahun,” kata Purwitha.

Mengenai PKPA ke-4 yang degelar DPC Denpasar Peradi Suara Indonesia bekerja sama dengan FH Unud Denpasar ini, Purwitah mengatakan 40 peserta yang telah selesai mengikuti PKPA ini selanjutnya akan mengikuti Ujian Profesi Advokat (UPA) yang akan digelar beberapa waktu mendatang.  Menariknya, dari 40 peserta ini ada yang datang dari Jawa Barat dan Jakarta. Bahkan salah seorang dosen FH Unud juga menjadi peserta PKPA ini.

“Direncanakan pada bulan Agustus 2019 ini diadakan pengambilan sumpah para calon advokat yang dilakukan oleh Ketua Pengadilan Tinggi Denpasar,” pungkas Purwitha.

Sementara itu, Koordinator Prodi Doktor Ilmu Hukum FH Unud, Prof. Dr. Ibrahim R., SH., MH., menambahkan, kerja sama pendidikan PKPA antara DPC Denpasar Perad denagn FH Unud ini mulai diselenggarakan sejak tahun 2016, dengan sejumlah materi yang dapat menjadi dasar pembekalan bagi seseorang yang ingin terjun secara sungguh-sungguh di dunia ‘lowyer’.

“PKPA merupakan langkah awal bagi para peserta untuk mengikuti ujian advokat yang akan diselenggarakan beberapa waktu setelahnya,” tandas Prof. Ibrahim. (rsn)

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment