Selundupkan Orang Utan, WN Rusia Dituntut 6 Bulan, Divonis Hakim Setahun

Andrei Zhestkov WN Rusia yang mencoba selundupkan orang utan divonis satu tahun penjara. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Warga Negara (WN) Rusia, Andrei Zhestkov yang ditangkap karena mencoba menyelundupkan orang utan, Kamis (11/7/2019) divonis satu tahun penjara. Vonis yang dijatuhkan majelis hakim pimpinan Bambang Ekaputra ini setengah lebih tinggi dari tuntutan jaksa.

Diketahui, pada sidang sebelumnya, Jaksa Penuntut Umum (JPU) A.A Made Suarja Teja Bhuana menuntut terdakwa Andrei Zhestkov dengan pidana penjara selama enam bulan. Meski tidak sependapat dengan lamanya hukuman yang dimohonkan jaksa, majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan jaksa terkait tindak pidana yang dilakukan terdakwa.

Dalam amar putusannya yang dibacakan di muka sidang, majelis menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana mengangkut satwa liar yang dilindungi. Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 40 ayat (2) Jo. Pasal 21 ayat (2) huruf a UU KSDA dan Ekosistem.

Sebelum menjatuhkan putusan, majelis terlebih dahulu mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan. Yang meberatkan pebuatan terdakwa betentangan dengan program pemerintah dalam upaya melindungi satwa liar.

Sedangkan hal yang meringankan, terdakwa sopan selama persidangan, mengakui terus terang perbuatanya dan terdakwa juga belum pernah dihukum. “Menghukum terdakwa Andrei Zhestkov dengan pidana penjara selama satu tahun,” tegas Hakim Bambang Ekaputra.

Selain hukuman penjara, terdakwa juga diganjar hukuman denda Rp10.000.000.” Dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan pidana kurungan selama tiga bulan,” pungkas hakim yang juga Kepala Pengadilan Negeri (KPN) Denpasar.

Merespon putusan tersebut, terdakwa yang didampingi pengacara IGN. Ngurah Artana dkk., menyatakan pikir-pikir.”Setelah kami berunding dengan klien kami, kami meminta waktu untuk pikir-pikir yang mulia,” kata Ngurah Artana. Senada dengan jaksa yang juga menyatakan pikir-pikir.

Sebagaimana terungkap dalam dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) A.A Made Suarja Teja Bhuana yang dibacakan dihadapan majelis hakim beberapa waktu lalu menjelaskan, terdakwa ditangkap di Bandara Ngurah Rai tanggal 22 Maret lalu.

Sebelum ditangkap, terdakwa oleh petugas bandara diminta untuk memasukan tas koper besar yang dibawanya didalam mesin X-Ray. Saat masuk mesin X-Ray, petugas melihat dalam koper itu ada benda mirip seekor monyet.

Atas temuan itu, petugas bernama Edi Permana melaporkan kepada Wayan Oka Muliadi. “Olah saksi Wayan Oka dilakukan pemeriksaan kembali terhadap tas bawaan menggunakan mesin X-Ray,” sebut jaksa Kejari Badung itu.

Hasilnya memang benar dalam tas koper yang dibawa terdakwa berisikan benda yang mirip seekor monyet. Karena tidak ada yang berani membuka, petugas bandara langsung menghubungi pihak Karantina dan KP3 Bandara.

Saat petugas Karantina dan KP3 datang dan membuka tas koper itu, benar saja didalamnya ada seekor bayi orang utan yang sebelumnya diberi obat tidur oleh terdakwa.

Kepada petugas terdakwa mengaku bahwa orangutan itu adalah milik orang lain bernama Igor (DPO). Igor menurut terdakwa adalah orang yang memerintahkan terdakwa untuk membawa orang utan itu.

Masih menurut terdakwa, sebelum berangkat, Igor juga berpesan agar setibanya di Bandara, terdakwa langsung menuju Kantor Karantina guna mengurus dokumen atas satwa yang yang dibawa itu. Namun apabila tidak bisa, Igor berpesan agar orangutan tersebut diserahkan kepada petugas Karantina dan terdakwa tetap pergi meninggalkan Bali. (pro)

 

Editor : Rahmah Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment