Mantan Perbekel Diperiksa, Satu Saksi Mangkir dari Panggilan 

Tim penyidik Pidsus Denpasar saat melakukan penggeledahan di Kantor Desa Dauh Puri Klod, beberapa waktu lalu.Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Pengusutan kasus dugaan penyelewengan dana Desa di Desa Dauh Puri Klod, Denpasar terus bergulir.

Setelah melakukan penggeledahan dan menemukan sejumlah bukti di Kantor Desa Dauh Puri Klod, tim penyidik Pidana Khusus Kejari Denpasar langsung memanggil pihak-pihak yang dianggap penting untuk diperiksa sebagai saksi.

Yang terbaru, tim penyidik dibawah pimpunan Kepala Seksi Pidana Khusus (Kasipidsus) I Nengah Astawa melakukan pemeriksaan sejumlah saksi, yang salah satunya adalah mantan Perbekel Desa Dauh Puti Klod, I Gusti Made Wira Namiartha.

Selain itu,  tim juga memeriksa mantan Sekdes Dauh Puri Klod, Ni Luh Cihna Kembar Dewi serta Bendahara Desa Duah Piri Klod, Ni Luh Putu Ariyaningsih.

Selain memerikan mantan pejabat dan pejabat desa, tim penyidik juga memanggil beberapa pegawai Desa Dauh Puri Klod untuk dimintai keterangan. Mereka adalah dua orang petugas pungut, Ketut Tangkas dan A. A Putu Susilawati.

Penyidik juga memanggil Kaur Perencanaan,  I Putu Wirawan.
Satu lagi saksi yang dipanggil yaitu atas nama I Nyoman Sada yang merupakan anggota BPD Desa Dauh Puri Klod. Namun I Nyoman Sada tidak memenuhi panggilan tim penyidik.

Kasi Intelijen Kejari Denpasar, I Gusti Ngurah Agung Ary Kusuma yang dikonfimasi terkait pemanggilan saksi-saksi ini membenarkanya. Dia juga membenarkan bila satu orang saksi yaitu atas nama I Nyoman Sada tidah memenuhi panggilan penyidik.

“Para saksi ini kami panggil,  Kamis lalu dan kita himpun keterangan seputar dugaan peleyelewangan dana desa tersebut, ‘ ungkap Jaksa yang akrab disapa Gung Ary. Dikataknya, untuk saksi yang tidak hadir ini kembali dijadwalkan untuk dipanggil.

Dijelaskan pula,  dari hasil pemeriksaan saksi, pahaknya akan kembali memeriksa dua orang saksi dari Desa yang sebelumnya tidak masuk dalam daftar saksi yang ada.

“Artinya,  kami akan kembali memanggil tiga orang saksi,  dua saksi baru dan satu lagi saksi yang tidak hadir itu, ” pungkasnya.

Diketahui,  kasus ini terungkap berkat laporan I Nyoman Mardika,  salah satu warga Desa Duah Puri Klod ke Kejaksaan Tinggi Bali.  Saat itu Mardika menuturkan,  dugaan penyelewengan ini berawal dari adanya sisah lebih penggunaan anggaran (SILPA) sebesar Rp1,95 miliar.

Dari jumlah itu, uang yang masih ditangan bendahara desa Ni Luh PA sebesar Rp877 juta, dipegang perbekal (saat itu) I Gusti MWN sebesar Rp8,5 juta dan ditangan Kaur Keuangan I Putu W sebesar Rp102.82 juta.

Dikatakanyan dugaan penyelewengan ini muncul ketika selisih antara SILPA dengan dana yang masih dipegang yakni sebesar Rp1,035 miliar yang tidak jelas keberadaanya.

“Jadi, dari SILPA itu, lebih dari satu miliar tidak jelas keberadaanya,” ungkap Mardika. Dikatakan pula, dari hasil pemeriksaan ditemukan adanya selisih antara SILPA dan uang yang berada di tangan bendahara.

Temuan ini lalu dituangkan dalam Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP). “Adanya SILPA yang diduga diselewengkan sesungguhnya sudah dituangkan dalam LHP inspektorat,” ucap Mardika. (pro)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment