Dana BOS ‘Terkunci’, Kepsek SDK Kokang Pinjam Uang  Pihak Ketiga

Kepala Sekolah SDK Kokang,desa Ojan Detung,Kecamatan Wulanggitang,Flores Timur-NTT. Foto: BNN/Emnir.

Wulanggitang/BaliNewsNetwork-Gara-gara mengabaikan aspek pelaporan penggunaan dana BOS Triwulan Pertama di Tahun 2017,kuota tahapan selanjutnya hingga dana BOS 2018 dan 2019 yang terkucur bagi sekolah itu masih ‘terkunci’ .Untuk membiayai kebutuhan sekolah,Kepala Sekolah SDK Kokang, Bartolomeus Rema Liwu terpaksa melakukan pinjaman dari pihak ketiga.Berapa besar pinjaman tersebut ? Siapakah pihak ketiga itu ?

Dikonfirmasi di kantor Dinas PKO Flotim, Senin, 24 Juni 2019, Meus, demikian Bartolomeus Rema Liwu itu biasa disapa, mengakui kalau dirinya  menggunakan uang pribadinya  untuk membiayai kebutuhan sekolah . Tentang berapa besar dana pribadinya yang sudah digelontorkan, Meus Liwu mengaku tidak menghafalnya. Selain menggunakan dana pribadinya, menurut mantan bendahara pada SDK Kokang itu, beberapa kali pembelanjaan, menggunakan dana pribadi bendahara. Soal besarannya pun lagi-lagi sang Kepsek tersebut mengakui tidak mengafalnya. Dan terhadap penggunaan dana tersebut, pihaknya mencatat sebagai pinjaman  pihak ketiga  yang akan dikembalikan pasca pencairan dana BOS Triwulan II dan seterusnya.

“Kami memang tidak membuat laporan penggunaan dana BOS untuk triwulan pertama  itu karena terbentur pada kesibukan.Kami sibuk mengurus hal-hal  lain serta tidak pernah  membangun koordinasi dengan Tim managemen BOS Kabupaten. Baru di Tahun 2018, ketika masukan laporan kami, ternyata  mentok karena banyak aturan yang berubah, atau laporan kami itu  tidak sesuai Juknis . Kami bawa kwitansi pembelanjaan dana triwulan pertama 2017 , ternyata kami diarahkan tim BOS KAbupaten  untuk merubahnya karena  tidak sesuai dengan aturan pembukuan. Kesulitan kami itu di situ. Setelah itu kami pulang dan kami hanya mengeluh saja. Karena laporan kami belum beres maka otomatis dana tahapan lanjutannya belum bisa dicairkan hingga dana BOS 2019 ini. Nah untuk membiayai kebutuhan sekolah, kami terpaksa melakukan pinjaman pada pihak ketiga, dengan catatan setelah membereskan laporan dan dana lanjutannya  cair,pinjaman tersebut kami kembalikan.”papar Kepsek Meus Liwu.

Menyinggung soal beberan informasi tentang keberadaan bendahara BOS SDK Kokang yang hanya sebagai lambang, Kepsek Bartolomeus Rema Liwu langsung membantahnya. Kondisi tersebut bagi Kepsek Meus mungkin  terlihat dari intensitas belanja yang dominan dilakukan oleh dirinya .

“Itu penilaian yang mungkin mereka lihat saya yang dominan belanja. Lalu kenapa saya yang harus lakukan pembelanjaan ? Sekolah kami jauh dari pusat perbelanjaan.Bendahara  dana BOS pada sekolah kami adalah seorang ibu rumah tangga dan wali kelas.Tuntutan kerja baik urusan rumah tangga maupun urusan administrasi sebagai guru kelas,membuat yang bersangkutan kewalahan.Saya tidak mau hanya karena pergi belanja, kelas kosong.Olehnya saya yang lakukan pembelanjaan itu.Uang belanja  pun saya ambil dari bendahara. Jadi bukan uang saya yang pegang.” ujar Bartolomeus Rema Liwu seraya mengaku  pelaporan penggunaan dana BOS Triwulan I di Tahun 2017 itu  kian rampung. (Emnir)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment