Alit Wiraputra Sebut Dakwaan Jaksa Cacat Formal 

Anak Agung Alit Wiraputra saaat disidang si PN Denpasar. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Setelah mendengarkan dakwaan Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada sidang pekan lalu, kini giliran A.A. Alit Wiraputra memberikan tanggapan atau eksepsi atas dakwaan tersebut.

Dibacakan oleh tim kuasa hukumnya, mantan Ketua KADIN  itu menyebut bahwa dakwaan jaksa cacat Formal (error procedure).

Dalam sidang, Senin (24/6) tim kuasa hukum terdakwa yang dikomandani Wayan Santoso menyebut, jaksa dalam menyusun dakwaan tidak sepenuhnya  berdasarkan pada hasil penyelidikan. 

Maksudnya, dari hasil perbandingan antara dakwaan dengan hasil penyidikan, terdapat fakta hukum yang dihilangkan atau disembunyikan, begitu pula sebaliknya, terdapatnya bagian tertentu yang ditambah seolah-olah memang demikian fakta hukum dalam perkara ini.

“Hal ini terlihat dalam dakwaan jaksa yang cenderung lebih menekankan bahwa terdakwa mengaku sebagai anak angkat Gubernur. Padahal itu belum jelas buktinya,” ungkap kuasa hukum terdakwa dalam eksepsinya.

Hal ini diperkuat dengan pengakuan Putu Pasek Sandoz Prawirottama yang termuat dalam BAP (Berita Acara Pemeriksaan) mengatakan tidak pernah mendengar perkataan bahwa terdakwa mengaku sebagai anak angkat Gubernur. 

Disebut pula, dalam BAP halaman 22 No. 44, Sandoz menjelaskan, surat izin prinsip Gubernur Bali tidak akan mungkin terbit dalam waktu enam bulan. Lalu mengapa dalam dakwaan dibuat penyelesaian surat-surat dalam waktu enam bulan yang ditulis tangan oleh I Made Jayantara? 

Dikatakan pula, awalnya hubungan hukum yang terjadi adalah perjanjian berupa kesepakatan saling pengertian tentang kerjasama. Dimana para pihaknya adalah Sutrisno Lukito Disastro dan Putu Pasek Sandoz Prawirottama. 

Dalam BAP halaman 11 No. 19 dan halaman 19 No. 35 saksi Sandoz menjelaskan bahwa, pada bulan Januari 2012 I Made Jayantara menghubunginya dan menjelaskan bahwa draf perjanjian kerjasama pengembang Pelabuhan Benoa sudah dibuat dan dicantumkan nama Sandoz. 

Atas pencantuman mamanya itu, Sandoz tidak bersedia sehingga I Made Jayantara mengusulkan kepadanya agar dicantumkan nama terdakwa.

 “Artinya terdakwa hanya pihak atau sebagai pengganti Sandoz yang sebenarnya memberikan peran sebagai konsultan pengurus perizinan proyek di kawasan pelabuhan Benoa,” ujar kuasa hukum terdakwa dalam eksepsinya.

Dikatakan pula, dalam BAB halaman 44 No. 88, saksi pelapor mengatakan semua perizinan tidak pernah diterima. Jika demikian, apa artinya rekomendasi DPRD Provinsi Bali tanggal 21 Januari 2014 yang ditujukan kepada PT. Bali Segitiga Emas yang dikeluarkan melalui tahap kajian FS dari Bapeda Bali?. 

Dan apabila pelapor menganggap terdakwa belum mempunyai prestasi kerja, lalu mengapa pencarian tahap I dan tahap II dapat terlaksana?. 

Seperi deketahui, A.A. Alit Wiraputra dudukan di kursi pesakitan PN Denpasar karena diduga melakukan tidak pidana penipuan perizinan pelebaran kawasan pelabuhan Benoa. (pro)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment