Tikam Majikan dengan Pisau, Chusen Terancam Hukuman Mati

Mochamad Chusen saat diadili di PN Denpasar. Foto: BNN/ist.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Hanya karena upah kerja tidak dibayar, Mochamad Chusen tega menghabisi nyawa Ho Sigit Pramono dengan menggunakan pisah dan bambu runcing.

Akibat perbuatannya itu, Chusen yang asal Jombang ini pun harus diadili untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya,

Tak hanya itu, akibat perbuatannya, pria yang tinggal di Jalan Segina II ini pun terancam hukuman mati. Sebab, Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dina K Sitepu dalam sidang beberapa waktu lalu menjerat terdakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana.

Dalam dakwaan jaksa yang dibacakan dimuka sidang terungkap, kasus ini berawal saat terdakwa merasa kesal karena upah kerjanya belum dibayar oleh korban.

Terdakwa, sebagaimana dalam dakwaan, bahkan sudah mendatangi rumah korban di Perumahan Polri Jalan Imam Bonjol Nomor: B6, Denpasar. Tapi tetap saja terdakwa tidak mendapatkan upah yang sangat diharapkan itu.

Tak hanya itu, korban yang didatangi oleh terdakwa malah mengancam terdakwa dengan mengatakan.”Jangan macam-macam kamu dengan saya”. Atas hal itu, terdakwa pun berencana untuk menghabisi nyawa korban.

Untuk memuluskan niat membunuh, terdakwa menyiapkan segalanya sesuatunya seperti, pisau dan bambu sepanjang 115 senti meter. Setelah meruncingkan bambu, terdakwa lalu pergi ke rumah korban.

Sampai di rumah korban, terdakwa meletakan bambu yang sudah diruncingkan itu di depan rumah dan mengedor pagar rumah korban.

“Tidak lama kemudian korban keluar dan membuka pagar rumah,” sebut Jaka Kejari Denpasar itu dalam surat dakwaannya.

Saat posisi berhadapan, terdakwa langsung menusuk korban sebanyak dua kali. Pada tusukan kedua, karena mata pisau lepas dari gagangnya, terdakwa keluar dan mengambil bambu yang diteletakan di depan rumah.

Meski bambu itu sudah diruncingkan, tapi bambu itu hanya digunakan untuk memukul kepala korban. Istri korban bernama Dian Indah Permatasari yang mendengar teriakan korban langsung keluar rumah dan mencapai suaminya sudah bersimbah darah.

Istri korban juga dihajar terdakwa dengan menggunakan bambu. Teriakan istri korban didengar oleh saksi Umar dan Muhamad Iqbal. Saksi Umar awalnya sempat mengamankan terdakwa.

Tapi karena terdakwa mengancam akan melaporkan saksi Umar ke Kodam, saksi Umar pun melepaskan terdakwa. Sementara saksi Iqbal membawa korban dan istrinya ke Rumah Sakit.

Setelah mendapat perawan di Rumah Sakit, nyawa korban Ho Sigit Pramono tidak dapat diselamatkan. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment