Mabuk Sambil Bawa Pedang, Nyoman Tinggal Dituntut Enam Bulan

I Nyoman Tinggal (baju putih) bersama kuasa hukumnya usai menjalani sidang dengan agenda tuntutan. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-I Nyoman Tinggal yang membuat geger penghuni maupun pengguna Jalan Pulau Batanta karena mabuk dan menenteng pedang, Rabu (19/6/2019) dituntut hukuman enam bulan penjara.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Widyaningsih dalam amar tuntutannya menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2 ayat (1) UU darurat No. 12 tahun 1951.

“Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa I Nyoman Tinggal dengan pidana penjara selama enam bulan,” tegas jaksa Widyaningsih yang diwakili oleh Jaka Peggy Ellen Bawengan.

“Bagaimana, terdakwa sudah dengar dituntut sama jaksa enam bulan. Sekarang apa mau mengajukan pembelaan lisan atau tertulis, silahkan diskusikan dengan pengacaranya, ” ujar Hakim Kimiarsa.

Setelah berbincang dengan kuasa hukumnya, terdakwa pun akhirnya sepakat untuk mengajukan pembelaan secara tertulis. ” Kami ajukan pembelaan secara tertulis yang mulia,” ujar pengacara terdakwa, Dewa Ayu Dwiyanti.

Atas permohonan itu, majelis akhirnya menunda sidang dengan agenda pembacaan pembelaan atau pledoi pada sidang pekan depan.

Sebagaimana dalam dakwaan jaksa yang dibacakan dihadapan majelis hakim pimpinan I Ketut Kimiarsa menerangkan, kasus yang menjerat terdakwa ini terjadi pada tanggal 26 Maret 2019 lalu.

Saat itu, sekitar pukul 14.00 WITA, terdakwa yang diduga mabuk berdiri dipinggir Jalan Pulau Batanta dengan membawa sebilah pedang. Akibat ulah terdakwa, pengguna jalan yang kebetulan melintas merasa ketakutan.

“Tidak lama kemudian ada warga yang melaporkan terdakwa ke polisi sehingga terdakwa pun dibawa ke kantor polisi untuk diperiksa, ” sebut jaksa.

Kepada polisi terdakwa mengaku pedang itu adalah miliknya yang sengaja disimpan untuk menjaga diri.

Tapi sayang, karena pedang milik terdakwa bukan digunakan untuk pertanian atau untuk melakukan pekerjaan yang sah, terdakwa pun harus diadili. (pro)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment