Nipu Rp.1,5 Miliar Divonis 2,5 Tahun Penjara

Terdakwa Hadi Santoso yang divonis dua tahun dan enam bulan penjara. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Sungguh beruntung nasib pria bernama Hadi Santoso, pengusaha muda asal Kediri Jawa Timur ini. Bagaimana tidak, dia oleh majelis hakim dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan, tapi hanya divonis 2,5 tahun penjara.

Padahal antara korban, Lie Juharto dengan tidakwa tidak pernah ada pedamaian, tidak ada pengembalian kerugian sehingga korban mengalami kerugian Rp. 1.575.000.000. Selain itu, sebagaimana dalam tuntutan jaksa, terdakwa juga berbelit-belit selama persidangan.

Namun begitu, majelis hakim PN Denpasar pimpinan I Ketut Kimiarsa tetap berbaik hati dengan memotong tuntutan hukuman dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Dewa Narapati dari tiga tahun menjadi dua tahun dan enam bulan (2,5) tahun.

Majelis hakim dalam amar putusannya menyatakan sependapat dengan jaksa yang menyatakan terdakwa terbukti bersalah melakukan tindak pidana penipuan. Perbuatan terdakwa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 378 KUHP.

“Menghukum terdakwa Hadi Santoso dengan pidana penjara selama dua tahun dan enam bulan, menetapkan terdakwa tetap dalam tahanan serta menghukum terdakwa untuk membayar biaya perkara,” demikian vonis hakim.

Atas vonis yang lebih ringan enam bulan itu, baik terdakwa maupun Jaksa Dewa Narapati sama-sama menyatakan pikir-pikir.” Kami pikir-pikir,” kata Jaksa Dewa Narapati yang ditemui usai sidang, belum lama ini.

Diberitakan sebelumnya, saksi korban saat diperiksa di muka sidang mengatakan saat melakukan transaksi sewa menyewa vila yang terletak di Jalan Kayu Tulang, Desa Canggu, Kuta Utara, terdakwa tidak pernah mengatakan bahwa sertifikat tanah atas vila tersebut dijadikan agunan di bank.

“Saat saya hendak menyewa vila tersebut malah terdakwa memperlihatkan sertifikat tanah yang asli, itu yang membuat saya percaya dan langsung sepakat untuk menyewa vila tersebut,” ungkap korban di muka sidang.

Awalnya, setelah terdakwa membayar sewa vila selama enam tahun dengan nilai sewa pertahunnya adalah Rp250 juta plus uang jaminan Rp75 juta, semua masih bak-baik saja.

Persoalan muncul saat korban baru menempati vila itu selama kurang lebih enam bulan. Saat itu terdakwa menerima surat pemberitahuan akan dilakukan eksekusi oleh PN Denpasar terhadap tanah atas vila tersebut.

Dari sini korban baru mengetahui bahwa ternyata selama ini sertifikat tanah vila tersebut dijadikan jaminan di bank oleh terdakwa.

“Apakah saksi korban yakin bahwa setifikat yang pernah saksi lihat itu asli,” tanya hakim yang dijawab korban sepetinya asli karena bentuk dan warnanya sepeti sertifikat asli, dan saksi juga tidak pernah mengecek di BPN.

Saksi juga mengatakan, setelah megetahui akan ada ekekusi, saksi sempat menghubungi terdakwa. “Saat itu terdakwa mengatakan agar saya melakukan perlawanan ke Pengadilan,” terangnya.

Namun keterangan saksi korban ini dibantah oleh terdakwa.Terdakwa mengatakan bahwa sebelum dibuatkan perjanjian sewa menyewa, terdakwa sudah mengatakan kepada korban bahwa sertifikat tanah atas vila tersebut sedang dijaminkan di bank.

Sementara itu sebagaimana dalam dakwaan jaksa, kasus ini terjadi pada 12 Agustus 2016 silam di Perumahan Puri Sembada Nomor A 102 Jalan Kayu Tulang, Canggu. Sebelum kasus ini terjadi, pada bulan Juli 2016 saksi korban sempat melihat sebuah iklan yang isinya menjual hotel.

Korban lalu mencari si pemilik atau si pemasang iklan tersebut yaitu terdakwa. Namun dari hasil pertemuan itu saksi korban merasa tidak cocok dengan hotel yang ditawarkan terdakwa. Lalu terdakwa menawarkan kepada korban sebuah vila yang berlokasi di Jalan Tulang Kayu, Canggu.

Singkat cerita korban merasa cocok dan sepakat untuk menyewa vila itu selama enam tahun dengan nilai sewa Rp250 juta pertahunnya sehingga nilai total sewa vila tersebut adalah Rp 1.575.000.000.

Dalam dakwaan dikatakan pula bahwa, terdakwa juga sempat meyakinkan korban bahwa tanah dan bangunan vila itu adalah miliknya sehingga memberi jaminan seratus persen aman selama sewa berjalan.

Tapi ternyata, sertifikat tanah atas vila tersebut sudah dijaminkan ke bank dengan nilai pinjaman Rp4 miliar. Akibat perbuatan terdakwa itu, korban mengalami kerugian 1.575.000.000. (pro)

 

Editor : Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment