In Memoriam Dr. Paul Sabon Nama  – Pendidik Itu Meninggalkan Obsesinya Membangun Universitas di Adonara

Dr. Paul Sabon Nama

Minggu, 26 Mei 2019 dini hari, Paul Sabon Nama menghembuskan nafas terakhir di RSUD Dr. Hendrikus Fernandez, Larantuka, dalam usia 83 tahun.  Kisah hidupnya seperti drama. Saat duduk di kelas 3  Seminari Menengah Mataloko, kakek dan  bapak kecilnya dibunuh. Sabon Nama juga dikejar dibunuh, beruntung dia diselamatkankan di sebuah rumah. Kemudian dijemput  oleh seorang pastor dengan menyembunyikannya di belakang jok mobil jeep. Lalu dini hari diselundupkan  ke Larantuka hingga akhirnya dia selamat dan bisa melanjutkan pendidikannya. Karena kondisi keluarga itulah  dia memilih ditahbiskan menjadi pastor di Roma. Setelah sekian lama mengabdi sebagai imam, dia mengajukan permohonan mengundurkan diri dan disetujui oleh Tahta Suci. Berikut catatan saya bersama beliau plus beberapa sumber dari media diolah untuk melengkapi tulisan ini, sekaligus sebagai penghormatan terakhir saya kepada Om Tuan Sabon.

Oleh Rahman Sabon Nama

“Saya sudah cukup berbuat untuk Maumere. Di sisa umur saya ini, saya ingin berbuat sesuatu untuk Flores Timur, khususnya Adonara. Saya ingin mendirikan sebuah universitas di Adonara. Mungkin bisa diceritrakan ke bosmu dan sampaikan kepada beliau saya ingin diskusi dengannya”. Itu kata-kata Om Tuan Sabon – panggilan akrab Paul Sabon Nama – kepada saya, empat tahun lalu.

Karena niatnya baik dan sejalan dengan apa yang sedang saya kerjakan, permintaan Om Tuan Sabon itu segera sampaikan kepada bos saya, Dr. Dadang Hermawan, Ketua STIKOM Bali. Pak Dadang juga sangat welcome. Saya segera agendakan pertemuan kedua tokoh pendidikan ini.  Pada Senin, 29 Juni 2015, Paul Sabon Nama bertemu ke STIKOM Bali. Lihat:  http://kupang.tribunnews.com/2015/07/13/sabon-nama-bertemu-dadang-bahas-universitas-adonara.

Kepada Dadang Hermawan, Paul Sabon Nama memaparkan data demografi, potensi sumber daya manusia dan sumber daya ekonomi Pulau Adonara serta jumlah sekolah menengah yang ada. Dari sisi ekonomi, Adonara memiliki potensi yang cukup besar yang selama ini menjadi sumber  terbesar PAD  kabupaten Flores Timur. Selain itu,  sumber pendapatan terbesar juga adalah remitansi (kiriman uang dari luar negeri, terutama Sabah, Malaysia)  karena budaya masyarakat Adonara yang senang merantau ke luar negeri untuk memenuhi segala kebutuhan hidup, termasuk untuk membiayai pendidikan anak-anaknya, sehinggga dari sisi kemampuan membiayai pendidikan tinggi cukup memadai.

Paul Sabon Nama dan Dadang Hermawan

Menurut doctor bidang Tafsir Kitab Suci lulusan Institutum Biblicum, Roma, Italia  ini, letak Adonara yang strategis sangat layak memiliki universitas. Karena mudah dijangkau dari Larantuka, Solor dan Lembata. Jadi kalau sebuah perguruan tinggi berdiri di Adonara, inputnya tidak hanya  tamatan SMA/SMK di Adonara melainkan juga dari Larantuka dan Lewo Leba serta Solor.

Terhadap paparan Paul Sabon Nama itu, Dadang Hermawan menyambut baik dan berharap rencana besar ini terwujud. Hanya saja perlu ada lagi mitra lokal sebagai penyandang dana awal untuk membiayai proses perizinan, penyiapan gedung dan fasilitas pendukung perkulihan, dan pemasaran. Sedangkan STIKOM Bali mendukung dari sisi sistem administrasi, software, dan tenaga dosen.

Menurut Dadang Hermawan, jika perguruan tinggi yang didirikan itu adalah bagian dari STIKOM Bali, maka hal itu tidak akan sulit karena regulasi pemerintah memungkinkan untuk itu. Misalnya membuka Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) STIKOM Bali di Adonara, itu sangat bisa karena regulasinya ada. PJJ atau distance learning ini tidak sama dengan kelas jauh yang sudah dilarang oleh pemerintah.

“Untuk PJJ nanti proses perkulihan menggunakan  teknologi informasi dan komunikasi atau TIK seperti video conference. Jadi anak-anak Adonara kuliah di STIKOM Bali tetapi tidak perlu merantau ke Bali sehingga lebih hemat, ” terang Dadang Hermawan

Setelah pertemuan di Bali itu, Om Tuan Sabon beberapa kali berdiskusi dengan saya, termasuk mengontak dua orang lagi di Jakarta sebagai penyandang dana. Begitu juga kemungkinan menggunakan gedung SMA Surya Mandala Waiwerang. Sayangnya rencana besar ini mulai tersendat seiring dengan kondisi kesehatannya yang sudah tak lagi mendukung.

50 Tahun Bergelut di Dunia Pendidikan

Paul Sabon Nama lahir di Lamalouk, Desa Karing  Lamalouk, Adonara Timur, Flores Timur pada 8 Juli 1936. Setamat Sekolah Rakyat (Kiwang Ona 1943-1946) ia melanjutkan di Sekolah Standar (Larantuka 1946-1949) dan masuk Seminari Menengah (SMP-SMA) di Mataloko (1949-1956), angkatan terakhir para siswa asal Flores Timur yang bersekolah di Todabelu.  Novisiat (1956-1958) dan pendidikan filsafatnya (1958-1960) ia ikuti di Ledalero. Sebagai salah satu anggota paling cakap dari angkatannya, Sabon Nama menempuh pendidikan teologi dasarnya di Universitas Gregoriana, Roma (1960-1964) tepat pada masa berlangsungnya Konsili Vatikan II (1962-1965).

Ditahbiskan menjadi imam di Roma pada  16 Februari 1964, Sabon Nama melanjutkan pendidikannya dengan spesialisasi di bidang tafsiran Kitab Suci pada  Institutum Biblicum 1964-1966. Sekembali dari Roma dan setelah mengabdi di lembaga pendidikan Ledalero selama 10 tahun (1967-1977), Paul Sabon Nama menjalankan sabatikal di Roma (tafsiran Kitab Suci 1977-1978). Seusai sabatikalnya, Sabon Nama menetap ke Pastoran St. Yosef, Maumere (1978-1983), dan menjabat sebagai Ketua Yayasan Bina Sari (SMA/SMEA Sint Gabriel 1980-1995).

Dengan dukungan dari para pastor se-Dekenat Maumere, ia diangkat oleh Uskup Agung Ende, Donatus Djagom, sebagai Deken Maumere (1982-1983). Kenang Sabon: “Uskup Donatus betul mengandalkan saya dan mengangkat saya sebagai Deken dalam satu situasi yang banyak sekali masalahnya di Maumere.” Peran Sabon Nama sebagai pendidik tak pernah kunjung akhir: sebagai Direktor Akademi Bahasa Asing St. Maria (ABA), Maumere (1997-2005), Ketua Dewan Pendidikan Kabupaten Sikka (2002 hingga kini) dan Wakil Rektor bidang Akademik Universitas Nusa Nipa (Unipa), Maumere (2005-2008)

Dari Blog Seminari Ledalero diperoleh catatan menarik tentang para rektor Seminari Tinggi St. Paulus Ledalero. Disebutkan, P. Paulus Sabon Nama, SVD menjadi rektor 1972-1975. Pater Paulus Sabon Nama menjabat sebagai rektor Seminari Tinggi Ledalero sejak 1 Mei 1972. Acara pelantikan baru terjadi pada 28 November 1972. Untuk melaksanakan tugas pendidikan di Ledalero dia didampingi oleh P. Philipus Djuang, SVD sebagai Magister, P. Kalixtus Hadjon sebagai Sosius, P. C. Maas sebagai Prefek dan P. Niko Hayon sebagai Prefek Pembantu.

Dalam bidang pendidikan, Pater Paul Sabon Nama menekankan pentingnya kemandirian dalam diri mahasiswa dalam menggali ilmu. Pada 8 September 1975 di Ledalero juga dirayakan pesta 100 tahun SVD. Upacara ini berlangsung meriah, dalam mana Pater Rektor sendiri tampil sebagai pengkhotbah.

Kisah Paul Sabon Nama secara gamblang dapat dibaca dalam artikel berjudul “Pada Masa Itu…” Paul Sabon Nama Dosen. Kitab Suci  Profesional 1967-1977. Pengawal Pembentukan STF(T) K Ledalero. Artikel ini ditulis oleh John Mansford Prior, sebuah frangkuman kesan-kesan dari sejumlah alumni STF(T)K St. Paulus Ledoro dan wawancara langsung dengannya  29 Januari 2014. Sebagian saya tampilkan secara utuh seperti ini:

1966: Ledalero  Goncang Paul Sabon Nama bercerita:

Saya kembali dari Roma pada akhir 1966 dan mulai mengajar di Ledalero pada awal 1967. Anggapan rendah terhadap orang Indonesia masih sangat kuat di kalangan misionaris asing waktu itu. Tapi saya lihat tidak ada orang di Eropa yang lebih dari kami – kami ini. Dan, ya, saya merasa cukup yakin diri bahwa saya mampu membikin sesuatu, hanya suasananya tidak terlalu mendukung.

Sejak awal 1960an komunitas Ledalero tergoncang oleh pertentangan antara dosen yang berasal dari Belanda dan beberapa dosen muda dari Indonesia. Orang Belanda, yang masih memegang kekuasaan di Provinsi SVD Ende dan di Seminari Ledalero, mengambil langkah memindahkan dosen Indonesia dari seminari. Tahun 1963 Mige Raya (1928-2011), dosen teologi sejak tahun 1958 dipindahkan ke Papua. Puncaknya terjadi pada tahun 1966 ketika lagi tiga dosen dipindahkan dari Ledalero: Stefanus Kopong Keda (1924-2001) dosen liturgi praktis 1964-1966;1Clemens Pareira (1926-1970) dosen filsafat 1963-1966 dipindahkan ke Maumere; dan Lambert Padji Seran (1930-2007) dosen sejarah Gereja 1964-1966, dipindahkan ke Lembata. Dalam seketika gerakan “indonesianisasi” yang diilhami pembaruan Konsili Vatikan II (1962-1965) dan yang dipelopori dosen-dosen muda ini dihentikan.

Mengutip Sabon. Di Roma kami sudah runding, kira-kira apa yang nanti kami bisa buat di Ledalero. Ada beberapa konfrater yang dianggap bermasalah. Jadi, kami bagaimana pun mau memasukkan mereka dalam mainstream.

Dari Roma saya berpikir bahwa terhadap Kopong, Clemens dan Padji masalahnya salah paham saja. Mereka itu bukan orang anti-Eropa, bukan. Orang-orang ini mampu semua; Kopong sangat pintar, Padji sangat. Kemudian Kopong Keda dikeluarkan dari Tarekat Sabda Allah (SVD) dan tinggal di Jakarta. Gregorius Monteiro, SVD, membantunya secara moral dan finansial hingga ia meninggal.

Kenang Piet Nong: “Paul Sabon datang sebagai seorang Indonesia muda, Flores-Adonara, yang menambah barisan kecil dosen di Ledalero.”

Sabon adalah ekseget profesional pertama di Ledalero dan warga Indonesia kedua yang pernah Pemimpin Regio SVD Ende (1963-1972)

Pengdongkrak Berdirinya STF(T) K Mulai 1969 hingga berangkat dari kampus Ledalero (1977), Sabon bekerja di sekretariat sekolah dan bersama Pancras Mariatma (1940 – 2010) berhasil memperoleh pengakuan bagi STFTK. Sabon menjabat sebagai sekretaris pertama STFTK Ledalero Dan secara praktis “mengurus segalanya”.

Tutur Yosef Seran: Sabon Nama membangun Sekretariat STFTK. Ia mengorganisasi ujian Negara yang pertama bagi semua angkatan mahasiswa yang digabungkan untuk mengikuti ujian.  Bersama Ketua Sekolah, Ozias Fernandez, Paul Sabon Nama menandatangani nilai-nilai pada ijazah Sarjana Muda yang kami terima.

Sabon bercerita: Akreditasi itu bukan soal akademis, bukan soal mutu, itu soal birokrasi, kebanyakan itu soal mengatur administrasi supaya Kopertis bisa melayani. STFK itu sebenarnya

pekerjaan saya dengan Pankras Mariatma. Hampir tujuh tahun kami bekerja, sejak permulaan sampai ketika saya pergi sabatikal (1977) dan waktu itu kami sudah tuntuaskan proses “disamakan”. Malah pernah saya menyewa satu pesawat dari Kupang untuk membawa Panitia Ujian Negara dari Kopertis ke Ledalero.

Dalam Kronik Seminari dapat kita baca betapa sering Sabon pergi-pulang ke Kopertis untuk mengurus akreditasi sekolah, hingga ujian negara Sarjana Muda dapat diselenggarakan untuk pertama kalinya pada tgl.4 – 12 Februari 1972.

Lolos dari Pembunuhan

Masih dalam artikel ini, perjalanan hidup Paul Sabon Nama dikisahkan langsung olehnya. Sungguh mengharukan. Alkisah, ketika Sabon sudah duduk di kelas III Seminari Menengah Mataloko, ada perang dalam keluarga Korebima di Kiwang Ona, akibatnya Sabon tinggal satu-satunya laki-laki yang diselamatkan dari keturunan ayahnya.

Salah seorang, anak dari saudari kandung kakek saya, datang tinggal di kampung kami. Ini keluarga terpandang (bangsawan). Ketika kakek saya dibunuh bersama beberapa anggota keluarga lain, dan saya juga dikejar untuk dibunuh, saya berlari ke rumah keluarga Korebima itu dan berlindung di sana. Malam itu saya dibawa ke Kiwang Ona, ke rumah mereka yang sudah selesai dibangun tetapi belum didiami. Saya menjadi semacam sandera, karena yang membunuh kakek saya adalah juga dari keluarga besar Korebima. Keesokan hari ratusan orang dari Witihama, Suku Tokam, Hinga dan lain-lain, datang untuk membalas pembunuhan, tapi gagal karena saya masih di tangan keluarga Korebima tadi. Ada satu pasukan yang datang hendak menjemput saya ke kampung mereka tetapi tidak diberi, karena keluarga Korebima itu takut akan keselamatan mereka sendiri.

Rahman Sabon Nama dan Paul Sabon Nama

Beberapa hari kemudian saya dijemput oleh Pastor Harrie van der Hulst. Untuk meluputkan Sabon, Pastor Paroki Hinga, Harrie van der Hulst, SVD, (1902-1993) menyembunyikan Sabon di belakang tempat duduk jeepnya karena harus melalui jalan yang sudah ditutup oleh segerombolan orang bersenjata.Sejak itu keluarga Sabon pegang harapan besar bahwa pada suatu saat: “Suatu tunas akan keluar dari tunggul Isai, dan taruk yang akan tumbuh dari pangkalnya akan berbuah” (Yes 11:1).

Dalam perjalanan waktu Paul Sabon Nama dan isterinya Ema Wokan dikaruniai dua orang anak, Josefin Desire Ese Doni (lahir 1991), dan Ishak Rahman Geroda Beni (lahir 1997).

Jarang kita berjumpa dengan orang yang hidup tertib, lurus dan konsekuen seperti itu, seorang pastor yang menjalankan tugas imamatnya dengan tekun sampai saat surat laicisasi tiba dari Roma; Sabon harus tunggu lima tahun baru permohonannya itu dikabulkan.

Belakangan saya mendapat ceritra dari ayah saya, dalam peristiwa pembunuhan itu, kakek Om Taua Sabon bernama Masang  Uba langsung tewas di TKP. Sementara putranya Roman Nama (bapak kecil Om Tuan Sabon) mengalami luka parah, sempat diselamatkan ke Pepak (rumah saya) akhirnya meninggal di Pepak.

Lalu mengenai Om Tuan Sabon, setelah diselamatkan oleh Pater Vanderolus,  Om Tuan Sabon tinggal beberapa saat di rumah saya di Pepageka. Suatu ketika di tengah malam, ayah saya bersama sepupunya Doni Dore menyelundupkan Sabon Nama  dengan menunggang kuda menuju Aran (Sagu). Lalu pada dini hari, dari Aran ayah saya   menyewa perahu menuju Larantuka dan tinggal di rumah Lukas Tura. Lukas Tura (kini sudah almarhum) adalah teman baik ayah saya, seorang mantri asal Bunga Lawan yang saat itu bertugas di Larantuka. Dari sinilah Sabon Nama akhirnya bisa melanjutkan pendidikan di Mataloko hingga menjadi pastor.

Dalam sebuah obrolan santai di  Bali, saya pernah tanya soal ini, “bagaimana suasananya saat ayah saya menyelundupkannya ke Aran menuju Larantuka. Om Tuan Sabon terdiam, lama tak menjawab. Tiba-tiba air matanya menetes. Saya tak tega menunggu dia menjawab. Akhirnya  saya mengalihkan ke obrolan lain.

Melihat perjalanan hidupnya seperti di atas, yang sebagian besar dihabiskan di Maumere untuk bergelut di bidang pendidikan, maka sangat wajar jika Paul Sabobn Nama berobsesi mewujudkan sebuah universitas di Pulau Adonara. Siapa yang berani melanjutkan? Inilah tantangn terbesar saya dan Anda juga,  para pencinta dunia pendidikan dan pembinaan generasi muda FloresTimur, minimal anak Adonara. Beristirahatlah dalam Damai, Om Tuan Sabon.***

 

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment