Lahan Tidur Waibao Disentuh Investor Mente, Pemilik Lahan Lihat Sebagai Hujan Emas

Hamparan lahan tidur di lokasi menuju Pantai Kwuta, Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga yang kini dijadikan sebagai areal pengembangan mente grafting oleh PT.Tigate Trees Indonesia. Foto :BNN/Emnir.

Larantuka/BaliNewsNetwork.com– Sedikitnya 50 hektar lahan tidur di kawasan menuju pantai Kwuta, Desa Waibao, Kecamatan Tanjung Bunga, Flores Timur, kini menjadi areal pengembangan tanaman mente grafting (hasil penyambungan) oleh PT Tigate Trees Indonesia. Pemanfaatan lahan dengan sistem kontrak selama 30 tahun tersebut disambut warga dengan gembira. Banyak aspek untung! Istilah mereka, hujan emas itu kini sedang ada di kampung mereka,dan sedang ada di tanah mereka yang telah lama tidak dimanfaatkan itu.

Adalah Mateus Nasi Lio (Suku Lio), Vitalis Gregorius Raja Kelen, Mikael Lana Kelen (Kelen Raja),Fransikus Kelen, Stefanus Banunaek (Suku Timor) dan Elias Nitit ketika dikonfirmasi BaliNewsNetwork.com, Rabu,8 Mei 2019 mengaku sangat menikmati investasi oleh Aaron Fishman tersebut.

Mateus N.Lio (wakil suku Lio)

“Kami harus berkata jujur, suku kami, suku Lio adalah pemilik lahan terbanyak di wilayah kami. Kami memang petani, kami tanam jagung ,padi, dan mente pada kebun yang selama ini kami kerjakan. Masih banyak lahan kami yang belum kami garap dan tertidur selama ini. Kami tidak punya kemampuan (modal dan tenaga) untuk mengolahnya. Ketika desa kami didatangi pihak investor dan menyampaikan maksud mereka untuk menyewa lahan demi pengembangan tanaman mente hasil sambung, kami sangat tertarik. Ah, ini berkat Tuhan. Sudah puluhan tahun kekurangan kami untuk mengolah lahan tidur tersebut, kini teratasi tanpa kami cari. Terjadilah diskusi dan pertemuan sosialisasi oleh pihak perusahaan di desa kami (5 kali rapat) hingga akhirnya kami menyepakati untuk menerima niat PT Tigate Trees Indonesia itu dengan beberapa kesepakatan yang tertuang dalam Berita Acara Kontrak kerjasama sewa lahan,”papar Mateus Lio.

Ada pun sisi baik kehadiran investor yang oleh Mateus Lio dan barisan pemilik lahan lainnya adalah selain nilai sewa lahan Rp 1.000.000 per tahun yang dibayar setiap 10 tahun untuk masa kontrak 30 tahun, proses sertifikasi lahan mereka tersebut pun diurus pihak perusahaan. Status hukum lahan menjadi jelas, sertifikat tanah atas nama mereka dan dipegang oleh mereka. Soal tenaga kerja, tetap diutamakan warga lokal, warga desa Waibao, dan warga desa tetangga. Ada 60 tenaga kerja yang telah dipekerjakan dengan upah per hari Rp 60.000 yang dibayar setiap dua minggu. Ada juga ilmu baru yang kami peroleh dalam kaitannya dengan pengembangan tanaman mente unggul dengan sistem grafting ini, yang dapat kami lakukan di lahan yang sedang kami kelolah selama ini.

“Jadi kami tidak jual lahan kami, bahkan aset yang ada dalam lahan yang sedang digarap pihak investor ini pun akan menjadi milik kami setelah usai masa kontrak. Kami bekerja, dengan sistem pengupahan yang jelas dan dibayar tepat waktu. Uang ada di sini dan berputar di sini. Ada ilmu baru yang kami dapatkan. Belum lagi mereka pun membeli jagung, beras merah dan sorgum dari petani. Banyak keuntungan yang tidak saja kami petani dan warga Waibao nikmati tetapi juga warga sekitarnya,” ungkap Mateus Lio penuh riang.

Elias Nitit

Senada Mateus Lio, Elias Nitit menambahkan, kehadiran pihak PT Tigate Trees Indonesia di kampung mereka itu pun  berdampak pada pengurangan angka pengangguran dan menekan warga desa untuk pergi merantau serta mengurangi tingkat kerawanan sosial.

“Beberapa anak muda telah masuk kerja. Kebiasaan mereka yang duduk minum tuak dan arak di pinggir jalan, mabuk lalu bikinkaco, kini berubah menjadi pekerja yang ulet. Ada perubahan perilaku. Uang sudah ada di kampung ini, untuk apa nganggur dan cari kaco? Warga yang mau pergi merantau tapi berpikir kembali, uang sedang ada di tanah di kampung kita ini, untuk apa pergi merantau? Ini sisi positip lainnya yang kami peroleh. Dari pada nikmati hujan batu di negeri orang, lebih baik nikmati hujan emas di negeri sendiri,” tandas Elias Nitit bersemangat seraya menambahkan bahkan warga desa Waibao di perantauan pun hendak pulang setelah mendengar ada investasi di kampung mereka itu.*(Emnir/Adv).

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment