Dituntut Enam Tahun, Mantan Pegawai Bank Minta Bebas

Ayu Aprilyani Rosalina Banik, terdakwa yang dituntut enam tahun dan minta bebas. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Wanita kelahiran Gianyar, Ayu Aprilyani Rosalina Banik (26) yang diduga memalsukan tanda tangan dan mengembat dana nasabah yang sebelumnya dituntut enam tahun penjara, Kamis (11/4/2019) mengajukan pembelaan.

Dalam pembelaan yang disampaikan di muka sidang, terdakwa melalui kuasa hukumannya memohon agar dibebaskan dari segala dakwaan jaksa. Alasanya, kasus yang membelitnya itu bukanlah kasus kejahatan perbankan melainkan kasus perdata.

“Karena terdakwa minta bebas, maka pada sidang selanjutnya kami menanggapi secara tertulis,” kata jaksa Putu Gede Juliarsana, jaksa yang menyidangkan perkara ini usai persidangan.

Diberitakan sebelumnya, terdakwa yang tinggal di Gianayar itu dinyatakan terbukti bersalah melaikan tidak pidana sebagaimana dimaksud dalam Pasal 63 ayat (1) huruf a UU Nomor 21 tahun 2008 tentang Perbankan Syariah Jo Pasal 64 ayat (1) KUHP.

Yaitu membuat atau menyebabkan adanya pencatatan palsu dalam pembukuan atau dalam laporan, dokumen atau laporan kegiatan usaha, dan/atau laporan transaksi atau rekening suatu Bank Syariah atau UUS.

“Memohon kepada majelis hakim untuk menghukum terdakwa dengan pidana penjara selama enam tahun dan denda Rp10 miliar,” tegas jaksa Kejari Badung dihadapan majelis hakim PN Denpasar.

Kasus yang membelit terdakwa ini berawal saat terdakwa bekerja di PT. BTPN. Syariah dan bertugas sebagai Pembina Sentra (PS) di Mobile Marketing Syariah (MMS) Abiansemal yang bertanggungjawab atas beberapa pekerjaan.

Yaitu, melakukan survei, pembiayaan, maintenance nasabah serta melakukan pencairan pembiayaan kepada nasabah. Namun dalam pelaksanaanya, terdakwa sebagai PS, tidak pernah menjalankan fungsinya.

Terdakwa tidak pernah melakukan verifikasi terhadap calon nasabah dengan mencocokan KTP dan KK asli dengan foto copy yang diajukan oleh nasabah dalam formulir pengajuan.

Terdakwa dalam dakwaan juga disebut telah memalsukan sebagian tanda tangan nasabah dalam dokumen kelengkapan pengajuan pembiayaan.

“Selain itu, terdakwa juga mengatakan kepada beberapa nasabah bahwa pengajuan pembiayaan tidak disetujui, padahal pengajuan pembiayaan nasabah tersebut disetujui dan uang pencairan sudah diserahkan kepada terdakwa,” sebut jaksa Kejari Badung itu.

Ada pula, beberapa nasabah yang sebenarnya sudah membatalkan pengajuan pembiayaan, tapi oleh terdakwa tetap diproses seolah-olah nasabah tetap mengajukan hingga pengajuan disetujui dan cairkan.

“Setelah itu, terdakwa juga tidak menyerahkan uang setoran dari nasabah ke pihak bank, uang itu oleh terdakwa digunakan untuk keperluan pribadi,” ungkap jaksa.

Perbuatan terdakwa ini terendus saat internal perusahaan melakukan pengecekan adanya tunggakan pembayaran dari beberapa nasabah di MMS Abiansemal dan ditemukan adanya kecurangan (fraund) yang diduga dilakukan oleh terdakwa.

Atas temuan itu, pihak PT. BTPN Syariah akhirnya melakukan pemeriksaan lanjutan dan ditemukan beberapa indikasi kecurangan yang dilakukan oleh terdakwa sehingga perusahaan mengalami kerugian. Akibat perbuatan terdakwa itu, pihak PT. BTPN Syariah mengalami kerugian mencapai Rp206.369.000. (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment