WN Malaysia yang Selundupkan 1.887 Butir Ekstasi Hanya Divonis Tujuh Tahun Penjara

Warga negara Malaysia yang terbukti bersalah mengimpor 1.887 butir pil ekstasi. Foto: BNN/pro.

Denpasar/BaliNewsNetwork-Majelis hakim PN Denpasar pimpinan I Dewa Budi Watsara Dalam sidang, Senin (18/3/2019) hanya mengukum warga negara (WN) Malaysia, Mohd Husaini bin Jaslee yang kedapatan menyelundupkan 1.887 Butir ekstasi dengan pidana penjara selama tujuh tahun.

Vonis ini lebih ringan tiga tahun dari tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) Purwanti yang sebelumnya menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 10 Tahun.

Dalam amar putusannya, majelis hakim sependapat dengan Jaksa yang menyatakan terdakwa terbukti tanpa hak atau melawan hukum memproduksi, mengimpor, mengekspor, atau menyalurkan Narkotika Golongan I.

Perbuatan terdakwa sebagaimana diatur dan diancam pidana pada Pasal 113 ayat (2) UU Namor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. Tapi majelis tidak sependapat dengan lamanya hukuman yang dimohonkan jaksa.

Setelah mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan, majelis akhirnya memangkas hukuman dari 10 tahun tuntutan jaksa menjadi tujuh tahun.

Selain itu majelis juga menghukum agar terdakwa membayar denda Rp. 1,5 miliar.”Dengan ketentuan apabila tidak dibayar diganti dengan hukuman penjara selama empat bulan,”tegas Hakim Budi Watsara dalam putusannya.

Atas putusan itu, baik terdakwa yang didampingi pengacara Ketut Dody Karyawan maupun jaksa sama-sama menyatakan pikir-pikir.”Kami pikir-pikir yang mulia,”sebut jaksa Kejati Bali itu.

Dalam dakwaan diuraikan, sebelum ditangkap, pada tangga 3 September 2018 sekira pukul 06.00 waktu Malaysia, terdakwa bersama Nurasyqin binti AB Razak berangkat dari Kuala Lumpur menuju Bali dengan menumpang pesawat Air Asia D7798.

Tiba di Bali sekitar pukul 10.00 Wita. Terdakwa membawa satu buah tas laptop warna hitam, satu buah tas gendong, dan tas koper warna abu-abu Sedangkan temannya, membawa satu buah tas gendong warna biru dan sebuah tas koper warna silver.

“Saat pemeriksaan dengan mesin X-Ray, terdakwa hanya memasukkan tas koper warna abu-abu, sedangkan tas laptop warna hitam tidak terdakwa masukkan ke mesin X-Ray,”sebut jaksa Kejati Bali itu.

Aksi itu dilihat oleh petugas yang langsung meminta terdakwa untuk memasukkan tas laptop warna hitam kedalam mesin X-Ray. Tapi, karena isi dari tas laptop itu adalah ekstasi, terdakwa yang merasa khawatir perbuatannya diketahui, tidak memasukkan tas itu kedalam mesin X-Ray.

Terdakwa malah meletakkan tas laptop itu disamping mesin X-Ray, dan untuk mengelabuhi petugas terdakwa memasukkan lagi tas koper warna abu-abu kedalam mesin X-Ray.

Setelah meletakkan tas disamping mesin X-Ray, terdakwa meninggalkan bandara dengan membawa tas koper warna abu-abu. Selanjutnya terdakwa mencari penginapan, dan sore harinya melanjutkan perjalanan ke Jakarta dan dilanjutkan kembali ke Malaysia.

Sedangkan temannya, Nurasyqin binti AM Razak tetap berada di Bali yang kembali ke Malaysia tidak bersamaan dengan terdakwa.

Tidak lama setelah terdakwa bersama temanya meninggalkan Bandara, sekitar pukul 13.00 Wita, salah satu petugas mendapat laporan dari penumpang tentang adanya tas laptop warna hitam disamping mesin X-Ray.

Oleh petugas, tas laptop itu kemudian dimasukan kedalam mesin X-Ray. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa didalam tas laptop itu berisikan Narkotika yang diduga ekstasi sebanyak 1887 butir atau sebarat 588,7 gram.

Setelah itu, dilakukan pemeriksaan CCTV oleh petugas untuk mencari tahu siapa pemilik dari tas. Dari CCTV petugas memastikan bahwa tas yang berisikan ekstasi itu adalah milik terdakwa.

Atas temuan itu, Polda Bali langsung menerbitkan Daftar Pencarian Orang (DPO) terhadap terdakwa dan juga rekanya. Polisi, baru bisa menangkap terdakwa saat terdakwa bersama rekanya kembali ke Indonesia melalui Bandara Soekarn Hatta, Cengkareng, Minggu, (9/9). (pro)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment