Shorgum, Primadona Baru dari Adonara – Besok Bupati Flotim Panen Perdana

Kepala Desa Pepageka Basir Kebesar Raya tampak bahagia di tengah kebun shorgun. Foto: BNN/RSN.

Bak anak kecil yang lama hilang dan baru diketemukan, tanaman shorgum kini menjadi buah bibir masyarakat Adonara. Itu berawal dari “ulah” Boro Tura, pria asal Desa Pledo, Kecamatan Witihama, Kabupetn Flores Timur (Flotim) yang lahir dan besar di Jakarta lalu merantau 8 tahun di Belenda tapi pulang dari Negeri Kincinr Angin itu malah menjadi petani shorgum. Kisah sukses Boro Tura mengembangkan shorgum itulah menghilhami Kepala Desa Pepageka Basir Kebesa Raya mengubah lahan tidur di Kleten Kredok seluas sekitar 10 Ha menjadi kawasan pertanian. Di antaranya 3,7 Ha menjadi tanaman shorgum nan indah di pandang mata.

Oleh Rahman Sabon Nama

Adonara/BaliNewsNetwork–Masyarakat Kecamatan Kelubagolit, khususnya warga wilayah Pepak Raran Papa (Desa Pepageka, Lambunga, Adobala, Keluwain dan Mangaaleng) sebenarnya sudah lama ogah berkebun. Masalahnya, mereka harus berjibaku dengan kawanan babi hutan dan monyet jika ingin hasil tanamannya sesuai harapan. Tetapi para petani itu terpaksa “angkat tangan” karena tak mungkin mereka standby sepanjang siang-malam menjaga kebunnya dari ancaman hama babi hutan dan monyet tadi. Tak pelak, semua tanaman perkebunan menjadi santapan gratis kawanan babi hutan dan monyet. Tak salah jika sebagian besar kawasan di wilayah itu dibiarkan telantar selama 40 tahun. Salah satunya adalah kawasan pertanian yang subur di sekitar Kleten Kredok, wilayah Desa Pepageka.

Koordinator Kebun Nurdin Kopong Pira bersama Basir Kebesa Raya

Kisah sukses Boro Tura mengembangkan tanaman shorgum di kawasan Witihama menjadi inspirasi bagi Kepala Desa Pepageka Basir Kebesa Raya untuk mengubah lahan tidur di Kleten Kredok itu menjadi lahan perkebunan shorgum. Bermodalkan dana APBDes tahun 2018 senilai Rp 130 juta, Basir Kebesa Raya mulai mendatangkan alat berat untuk mem-bolduser kawasan, membuka akses jalan dari Kleten Kredeok menuju ke atas perbukitan sepanjang 550 meter. Setelah jalan dibuka, kepala desa yang pernah menjadi TKI di Arab Saudi dan Taiwan ini mengerahkan masyarakatnya untuk turun bekerja, menebang pephonan. Jadilah lahan seluas 10 Ha milik 4 orang warga setempat menjadi lahan perkebunan shorgum. Perjanjian dengan para pemilik lahan, hasil dari tanaman shorgum setelah dijual dan dikurangi biaya-biaya yang dikeluarkan barula dibagi dengan persentasi 50 untuk desa dan 50 persen untuk pemilik lahan.

Basir Kebesa Raya di tengah kebun shorgum

Menariknya, baik pemilik lahan maupun warga desa yang turun bekerja mendapat upah yang sama, yakni Rp 80 ribu per hari dengan sistem hari rang kerja (HOK). Karene mendapat upah Rp 80 ribu itulah maka nama kebun shorgum ini diplesetkan dalam bahasa setempat menjadi “mang pulu buto” (kebun 80 ribu). “Total tenaga kerja yang digunakan sejak pembukaan lahan hingga saat ini sekitar 40 orang,” tukasnya.

Untuk bibit shorgum, Basir Kebesa Raya mengaku mendapat bantuan dari Yaspensel Larantuka. Lembaga di bawah Keuskupan Larantuka itu juga bertindak sebagai pembeli hasil tanaman kebun shorgum ini.

“Jadi pasarnya sudah jelas, kami tidak lagi repot menjual ke mana-mana,” kata Basir, dengan wajah berbunga-bunga, di tengah kebun shorgum-nya, pekan lalu.

Meski kini menuai sukses, mantan mahasiswa Program Studi Teknik Elektro, Fakultas Teknik Universitas Udayana Bali ini ternyata masih menyimpan unek-unek. Sebab, untuk membabat hutan lebat di kawasan ini, dia mengajukan permohonan kepada Wakil Bupati untuk dibantu mesin pemotong pohon chainsaw atau senso dan sudah mendapat persetujuan melalui disposisi kepada Kepala Dinas Pertanian. Sayangnya, tiga unit mesin senso yang diharapkan tidak pernah diperoleh, meski dia sudah bolak balik Larantuka. Dia tak patah semangat. Dia membeli 1 unit senso seharga Rp 17 juta dan menyewa tiga unit senso seharga sekitar Rp 3 juta, untuk membabat hutan tadi.

Kekesalannya diluapkan kepada Kepala BPP Kelubagolit ketika sang kades bersama Bebe Riantobi, Nurdin Kopong Pira dan wartawan media ini sedang sibuk mengukur luas lahan tanam dan luas lahan panen shorgum, pekan lalu.

“Dulu tak ada yang peduli, kenapa Pak Bupati mau datang panen kok semua orang sibuk telepon saya?,” ujar Basir, tampak emosional, menjawab Kepala BPP Kelubagolit.

Kebun shorgum Desa Pepageka

“Saya undang pak bupati untuk panen perdana, tembusannya ke instansi terkait, kalau kepala dinas mau datang syukurlah, tidak juga tidak apa-apa,” sebut Basir, masih dengan nada kesal.

Padahal, menurut Basir, tujuan program ini sangat mulia. Yakni untuk meningkatkan ketahanan pangan di desa, membuka lapangan kerja, sekaligus menyukseskan program Nawa Cita Presiden Jokowi dan menyukseskan visi – misi Bupati dan Wakil Bupati Flotim Selamatkan Orang Muda Flotim dan Selamatkan Tanaman Rakyat.

“Ini bisa mengurangi pengangguran di desa-desa sehingga saya harapkan rekan-rekan kepala desa bisa melakukan hal yang sama dalam rangka mengatasi pengangguran di desa-desa,” sebut pria yang belakangan berpenampilan ala cowboy ini.

Jika tak ada tak aral melintang, Senin, 18 Maret 2019 besok, Bupati Flores Timur Antonius Hubertus Gege Hadjon akan melakukan panen perdana pada lahan seluas 1,28 Ha. Guna memuluskan acara ini, Kamis, 14 Maret 2019, Basir Kebesar Raya bersama Koordinator Kebun Nurdin Kopong Pira dan Penyuluh Pertanian Lapangang (PPL) dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kelubagolit Bebe Riantobi dan wartawan media ini turun ke lapangan untuk mengukur luas lahan perkebunan dan luas lahan panen menggunalan teknologi Global Positioning System alias GPS dan mengambil sample ubinan di tiga titik. Ubinan adalah satuan untuk menghitung produktifitas lahan panen berukuran 2,5 m x 2,5 m atau seluas 6,25 m2 pada lahan panen seluas 1 Ha.

Basir Kebesa Raya bersama Bebe Riantobi

Dari luas lahan panen 1,28 Ha, jika menggunakan standar perhitungan 1 Ha saja, Bebe Riantobi menyimpulkan, bisa menghasilkan shorgum kering giling sebanyak 4.922 kg atau setara 4,9 ton yang siap dijual di pasar. Asal tahu saja, harga shorgum kering giling di pasaran Adonara saat ini mencapai Rp 10.000/kg. Dengan kata lain, pendapatan Desa Pepageka dari hasil shorgum pada lahan seluas 1 Ha yang akan dipanen perdana oleh Bupati Flotim Anton Hadjon itu mencapai Rp 49 juta. Jika dihitung seluruhnya atau 1,28 Ha maka nilainya tak kurang dari Rp 50 juta.

Menurut Bebe Riantobi, usia shorgum sejak tanam hingga panen perdana hanya 4 bulan. Setelah itu, batangnya dipotong agar tumbuh batang baru, berkembang dan berbuah seperti yang pertama dan siap panen tetapi hasilnya sudah berkurang, sekitar 50 persen dari penan pertama. Dengan pola yang sama, panen ketiga mendatangkan hasil yang lumayan meski tidak seperti panen kedua.

“Rata-rata panen kedua merosot 50 persen dari panen pertama, dan panen ketiga juga merosot 50 persen dari panen kedua, maka setiap tahun petani shorgum bisa menghasilkan uang sekitar Rp 80-an juta,” pungkas Bebe Riantobi. Luar biasa, memang.

Lebih penting lagi, tanaman shorgum ini ternyata tidak pernah dijamah kawanan babi hutan maupun monyet. “Tadi saya sudah cek keliling, ada jejak kaki babi atau monyet, syukurlah mereka tak makan, mungkin dikira bunga-bunga,” tutup Nurdin Kopong Pira sambil tertawa lebar.***

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment