Anda Ingin Pendapatan Rp 80 Juta Per Tahun? Ayo Bertani Shorgum

Penyuluh Pertanian Lapangan Kelubagolit, Bebe Riantobi. Foto: BNN/RSN.

Menjadi petani di negeri sendiri bukanlah impian anak muda kita. Maklum, selain hasil yang diperoleh tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan, ancaman serangan hama babi hutan dan monyet menjadi momok bagi para petani. Tak salah jika sebagian besar anak muda memilih menjadi kuli atau buruh tani di negeri tetangga, Sabah, Malaysia. Tapi kini, dengan kehadiran primadona baru bernama shorgum, setidaknya dapat mendorong semangat anak muda untuk bertani sekaligus mengurangi arus migrasi manusia  Adonara ke Sabah. Seperti apa prospek tanaman shorgum? 

Oleh Rahman Sabon Nama

Adonara/BaliNewsNetwork-Luar biasa. Dua kata yang tepat untuk menggambarkan prosek bertani shorgum. Tanaman rakyat  yang sudah lama menghilang dari Bumi Lamaholot ini kembali hadir membelalakan mata para petani. Di kawasan Kleten Kredok, terbentang lahan pertanian shorgun yang indah dipandang mata, milik Pemerintah Desa Pepageka, Kecamatan Kelubagolit, Kabupaten Flores Timur.

Menurut Penyuluh Pertanian dari Balai Penyuluh Pertanian (BPP) Kelubagolit, Bebe Riantobi, shorgum dikenal sebagai tanaman multiguna. Buahnya sebagai bahan makanan pengganti nasi dan jagung, bisa juga dikonsumsi sebagai sereal, daun dan batangnya menjadi pakan ternak.   Yang mencengangkan, masih kata Bebe Riantobi, nilai ekonomi buah shorgum  pada luas lahan panen 1 Ha dapat menghasilkan uang tak kurang dari Rp 80 juta. Waow…!

Kesimpulan Bebe Riantobi itu setelah dia bersama Kepala Desa Pepageka, Koordinator Kebun Nurdin Kopong Pira dan wartawan media terjun ke lapanagn di lokasi kebun shorgum milik Desa Pepageka di Kleten Kredek,  Rabu, 13 Maret 2019 untuk mengukur luas lahan, luas lahan tanam dan luas lahan panen, menggunakan teknologi Global Positioning System atau GPS.

Bebe Raintobi

Berdasarkan perhitungan tadi, diperoleh luas lahan tanam  3,7 Ha, sedangkan luas panen  teridentifikasi 1,28 Ha. Lalu, untuk mengukur produktifitas panen digunakan satuan per hektar dan ubinan berukuran 2,5 m x  2,5 m (6.25 m2). Untuk menghitung produktifitas panen di lahan seluas 1 Ha, diambili sampel pada tiga titik ubinan. Hasilnya,  ubinan 1 menhgasilkan 4,6 kg, ubinan 2 menghasilkan 3,2 kg, dan ubinan 3 menghasilkan 3,6 kg. Sehingga rata-rata ubinan menghasilkan 3,8 kg shorgum. Kalau dikonversikan per satuan Ha (10.000 m2 atau setara 1.600 titik ubinan), maka untuk ubinan 1 menghasilkan  4,6 kg shorgum x 1.600 ubinan = 7.360 kg alias 7, 36 ton. Selanjutnya, ubinan 2  menghasilkan  3,2 kg shorgum x 1.600 = 5.120 kg alias 5,12 ton. Kemudian ubinan 3  menghasilkan 3,6 kg shorgum x 1.600 = 5.760 kg alias 5,76 ton shorgum.

“Jika dirata-ratakan, maka 7,37 ton + 5,12 ton + 5,76 ton dibagi 3 diperoleh hasil 18.240 kg / 3 = 6.080 kg shorgum atau setara dengan 6,08 ton shorgum gabah basah. Jika dalam kondisi gabah basah dijual dengan harga Rp 7.500 kg saja, maka luas panen 1 Ha tadi menghasilkan duit sebanyak Rp 45.600.000,” kata Bebe Riantobi.

“Sekali lagi ini masih dalam kondisi gabah basah loh,” kata Bebe lagi, setengah bercanda.

Bebe Riantobi menggambarkan, biasanya, pengalaman selama ini menunjukkan untuk pemasaran shorgum dijual dalam bentuk gabah kering. Artinya shorgum basah setelah dikeringan selama 60 jam akan mengalami penyusutan kadar airnya mencapi 10 persen. Dengan demikian hasil tadi kalau dikurangi penyusutan 10 persen, maka tersisa hasilnya 5.472 kg atau 5,47 ton. Proses selanjutnya, penanganan paska panen melalui tahap perontokan, ada potensi kehilangan hasil mencapai 50 kg dari 1 ton. Selanjutnya  dilakukan penyosohan untuk mengeluarkan kulit, ada potensi kehilangan hasil mencapai 60 kg dari setiap 1ton. Dengan demikian dari total 5,47 ton akan ada kehilangan hasil sebanyak 550 kg. Sehingga hasil bersih dari luas panen 1 Ha tadi adalah 4.922 kg atau setara 4,9 ton shorgum gabah kering giling.

Asal tahu saja, harga shorgum kering giling di pasaran Adonara  saat ini mencapai Rp 10.000/kg. Dengan kata lain, pendapatan petani shorgum pada lahan seluas 1 Ha mencapai Rp 49 juta.  Jika ditotal pada lahan siap panen 1,28 Ha, bukan tidak mungkin dapat menghasilkan duit sekitar Rp 50 juta.

Padahal shorgum ini sekali tanam  dapat dipanen sebanyak tiga kali dengan periode setiap 4 bulan. Rata-rata panen kedua merosot 50 persen dari panen pertama, dan panen ketiga juga merosot 50 persen dari panen kedua. Maka pada lahan panen 1 Ha, dengan kalkulasi tadi, setiap tahun petani shorgum bisa menghasilkan uang tak kurang dari Rp 80-an juta.

“Hebatnya lagi, tanaman  ini sangat aman dari gangguan hama monyet dan babi hutan yang selama ini menjadi momok bagi petani di Adonara, khususnya Kelubagolit yang membuat mereka ogah menjadi petani lagi,” pungkas Bebe Riantobi. Anda tertarik? Ayo bertanam shorgum dari sekarang.***

 

BERITA TERKAIT:

Shorgum, Primadona Baru dari Adonara – Besok Bupati Flotim Panen Perdana

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment