Frans Aran, Nikmati Cinta Tuhan di Cacatnya

Fransiskus Bisu Aran (37), warga dusun Leworotok,desa menanga (Solor Timur). Foto: BNN/Emnir.

Solor/BaliNewsNetwork-Tak berpasrah pada kondisi fisiknya,Fransiskus Bisu Aran (37), warga dusun Leworotok, Desa Menanga, Kecamatan Solor Timur (Flores Timur) terus berkarya  menghasilkan uang. Walau luput dari pantauan pihak pemerintah di setiap tingkatan, Frans  Bisu Aran, seorang penyandang cacat yang telah yatim itu menghabiskan waktu di setiap harinya dengan menjahit sendal dan sepatu. Cinta Tuhan dinikmatinya sungguh!

Ditemui di kediamnnya, Senin, 18 Februari 2019, putra kedua  dari pasangan Hironimus Kesi Aran (almarhum) dan Lusia Kerong meriwayatkan, usaha sol sepatu-sendal tersebut dirintisnya sejak Tahun 2002. Bermula dari mengurai benang nilon pada topi-topi bekas yang dikumpulkannya, Frans Aran memulai menjalankan aktivitasnya itu. Tarifnya pun murah mengikuti material yang serba bekas tersebut. Per pasang sendal dan sepatu, dirinya memasang tarif Rp500,-. Bukan soal dirinya sanggup berkarya, namun bagi Frans Frans Bisu Aran, kesanggupan itu hanya karena  Cinta Tuhan yang nyata. Dirinya menikmati sungguh cinta Tuhan itu.

Ketika keterampilannya itu semakin di kenal warga, dirinya lalu memutuskan untuk berlalangbuana di Kalimantan hanya untuk melakukan survei material pendukung usahannya. Setelah menemukan central landasan sepatu dan sendal serta benang, dirinya kembali lagi ke kampung halamannya dan melanjutkan karya sol sepatu-sendalnya. Melalui jasa Kantor Pos,perlahan-lahan, Frans Aran meningkatkan kualitas usahanya ketika barang pesanannya itu tiba. Tarifnya pun dinaikkan sedikit dengan tetap memahami kondsisi perekonomian warga di desanya.

Sembari menggeluti usaha pokoknya itu,pria lanjang yang  penyandang cacat kaki dan tangan itu pun menambahkan isi dompetnya melalui usaha sampingan seperti membuat pengebas debu dan pot bunga.

“Saya selalu mensyukuri Cinta Tuhan itu. Ya, karena Cinta Tuhan itu lah yang memampukan saya untuk berpikir, berkreasi dan bekerja.Saya pernah di data-kan, tapi entah apa maksud dari pendataan itu. Namun jujur, hingga saat ini  saya belum pernah berurusan dengan yang namanya Dinas Sosial maupun lembaga sosial lainnya. Semuanya saya jalankan sendiri dengan modal saya sendiri yang serba terbatas ini. Pingin si untuk mengembangkan usaha saya ini, tapi apa daya, tidak punya modal! Usaha ini saya lakukan di rumah. Intinya, walau dengan keterbatasan fisik  saya ini,saya tetap berusaha demi memenuhi kebutuhan hidup saya bersama mama dan kedua adik saya,” ungkap Frans Aran sembari memperlihatkan hasil kerjanya.

Kini, Frans Bisu Aran mematok tarif per pasang sendal-sepatu Rp15.000,tanpa lem. Sedangkan bila lem dan jahit, dirinya mematok Rp20.000 per pasang. (Emnir)

 

Editor: Rahman Sabon Nama

Recommend to friends
  • gplus
  • pinterest

About the Author

Leave a comment